BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Beautiful night


__ADS_3

Flashback on


Sava POV


Emieer berjalan membopong ku menuju ke arah ranjang kamar hotel yang dia sudah pesan. Dalam hati aku berucap, apa apa ini, aku bukan nya tidak suka dia memperlakukan aku seperti ini. Bukan kah ini hal yang cukup romantis. Seharusnya aku senang. Semua wanita di dunia ini sangat ingin lelakinya berlaku romantis bukan. Tapi aku malah bersikap bodoh.


Entahlah, perasaan ku saat ini terlalu tegang dan takut.


Emieer meletakkan tubuh ku ke tempat tidur dengan pelan. Setelah dia meletakkan tubuh ku ke tempat tidur,aku pun menarik ke dua tangan ku yang tadi menggelayuti nya. Aku pikir, setelah dia meletakkan aku di rajang,dia akan pergi.


Tapi dia malah memandangi ku dengan tatapan serius. Iris mata nya yang berwarna cokelat pekat menerobos ke dalam bola mata ku yang aku tak tau lagi, perubahan pupil nya di dalam sana. Apakah melebar ato mengecil, karna aku mencoba menghindari pandangannya.


Lagi lagi jantung ini berdebar tidak bisa di kondisikan.


"Biar aku mencoba satu hal, kini kau sudah sah menjadi milik ku kan!"


Emieer berucap dengan suara parau, kemudian mendekatkan kepalanya ke arah ku. Jantung ini sudah tak karuan berdetak,rasanya peredaran darah yang mengalir di dalam tubuh ku ikut bereaksi. Apa yang harus aku lakukan,pasrah atau bagaimana.


Ketika wajah Emieer semakin mendekati wajah ku, mengikis jarah makin mendekat dan saat bibir nya sudah menempel pada bibir ku (baru menepel 😬) buru buru ku dorong dada bidang nya. Mendorong nya seperti harus mengeluarkan tenaga extra, keluh ku dalam hati, dia kuat sekali tenaganya.


"Emieer, pintu nya,"


Ucap ku sambil melayangkan padang ke arah pintu kamar hotel. Emieer lupa menutup pintu kamar.


Emieer kemudian mengikuti arah pandang ku. Dan sepertinya dia merutuki keteledoran nya.


"Menganggu saja," keluh Emieer. Kemudian dia beranjak meninggalkan diri ku yang tadi dalam penguasaan nya.


Saat Emieer berjalan untuk menutup pintu kamar, aku buru buru memanfaatkan momentum itu untuk kabur.


Sial sekali, harus nya aku lebih bisa menguasai diri di saat malam pertama seperti ini. Tidak bersikap seolah menjadi seorang pengecut. Ya Tuhan, benar benar membuat ku gila situasi ini.


Gadis 19 tahun sekamar di kamar Hotel dengan seorang pejaka 25 tahun. Tapi kami bukanlah pasangan mesum, apa lagi sedang selingkuh.


Kami pasangan sah suami istri. Dan ini adalah malam pertama kami. Jadi wajarkah apa yang aku alami ini.


Aku tidak pengecut dan tidak takut sebenarnya. Hanya saja aku perlu ME TIME sesaat. Dan akhirnya dengan gerakan cepat aku melesat ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi. Aku pun masih gemetaran. Apa yang harus aku lakukan. Aku diam bersandar pada pintu kamar mandi sambil mengatur deru napas ku yang mulai memburu. Aku memejamkan mata sesaat, sekedar ber relaksasi. Dan akhirnya, aku mengambil ponsel yang ada di saku belakang jins ku.


Aku ketik sesuatu di mesin pencarian.


"Tips menjalani malam pertama"


Dan akhirnya semua hal tentang malam pertama di ulas di sana. Aku baca beberapa ulasan yang menarik. Saat aku sedang fokus pada ponsel ku, ketukan pintu kamar mandi membuyarkan ke fokuskan ku dalam membaca artikel yang sudah aku temukan di ponsel.


"Sava, aku juga mau ke kamar mandi,"

__ADS_1


Dan ucapan Emieer langsung membuat ku gugup kembali.


"Aku belum selesai mandi sayang!" Ku jawab asal,padahal aku masih berpakaian lengkap.


Dan kembali aku berdecak kesal, karena aku lupa membawa baju ganti ke kamar mandi.


Lengkap sudah ketegangan ku, pakaian apa yang harus aku kenakan. Tidak mungkin aku memakai kembali pakaian yang sudah dari pagi ku kenakan bukan.


Dari pada delima tak berkesudahan, akhirnya ku putuskan untuk mandi.


Beberapa saat setelah aku selesai dengan ritual di kamar mandi. Akhirnya ku beranikan diri keluar dari kamar mandi dengan balutan bathroom putih yang di sediakan hotel.


Sebelum memasuki kamar, aku sudah siapkan mental, agar aku tidak perlu tegang. Dan dengan menghela nafas pajang, aku melangkah membuka pintu kamar mandi, dan berjalan ke arah Emieer yang tampak sibuk dengan ponselnya di balkon kamar hotel.


"Emieer, sana mandi," ucap ku padanya, dan dia menoleh ke arah ku. Dia memperhatikan ku dari ujung kepala sampe kaki ku. Dan hal itu membuat ku gugup.


Apa yang membuat nya menatap ku seperti itu, apa karena aku hanya pake bathroop dan rambut ku yang basah.



"Beautiful" ucap nya, kemudian berjalan ke arah ku. Berdiri tepat di hadapan ku dan kemudian mencium kening ku.


"Aku mandi dulu yaa" ucap nya kemudian berlalu ke kamar mandi.


🍁🍁🍁🍁


Aku yang dari tadi menyibukkan diri mengering kan rambut dengan hairdryer, memperhatikan Emieer dari pantulan kaca rias di kamar hotel. Ia nampak mengambil sesuatu dari tas ransel nya. Saat dia berjalan lagi ke arah ku, aku pura pura tak memperhatikannya.


"Selamat ulang tahun Georgia Savanah Almeera." ucap Emieer sambil memakaikan sebuah kalung ke leher ku, sontak saja membuat aku terkaget. Kejutan apa lagi yang dia berikan.


Saat kalung itu sudah terpasang cantik di leher ku, Emieer memandang ke arah kaca rias.


Dimana di sana dua wajah saling menempel berada. Dua wajah yang nampak serasi, dua wajah penuh dambaan. Dua wajah yang saling mencintai. Dua wajah itu Emieer dan juga aku.


Ku sentuh kalung yang baru saja Emieer kenakan, lalu ku perhatikan bagian liontin nya.


"Emieer kejutan apa lagi ini, kejutan mu tak ada habis nya. Aku bahkan tak memberikan mu apa apa."


"Kau tak perlu memberikan ku apa apa sayang. Aku yang beruntung karena telah mendapatkan mu," ucap Emieer, memperhatikan wajah ku lewat pantulan cermin.


"Selamat ulang tahun yaa sekali lagi, ini sudah aku siapkan jauh jauh hari. Dan memang akan aku berikan untuk mu saat kamu berulang tahun ke 19. Dan hari ini adalah moment nya. Bertepatan juga aku sudah memperistri mu."


Jujur aku sangat terharu dengan perlakuan Emieer dan semua hal yang sudah dia lakukan untuk ku. Dengan hati penuh ke haruan, aku berputar ke arah nya, mendongakkan wajah ku ke arah mata nya yang selalu terlihat teduh.


"Aku mencintaimu mu Emieer, terimakasih untuk semua nya."


Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan untuk pria yang sangat berarti di hati ku dan yang sangat aku cintai ini.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Entah bagaimana ceritanya, kini aku sudah rebahan di tempat tidur. Padahal tadi aku masih duduk di kursi rias dan berciuman dengan nya. Sekarang tau tau aku sudah berada di ranjang bersama nya.


Apakah aku masih harus bersikap bodoh.


Aku memang masih polos, untuk memulai ini, jangan tanya soal pengalaman. Karena sama sekali aku belum pernah berhubungan intim dengan seseorang.


Tapi karena malam ini adalah malam berbeda dari beribu malam yang sudah aku lalui, jadi aku harus melayani nya bukan. Aku bukan orang yang tabu soal hubungan suami istri, bukan karena aku pernah melakukannya,bukan.


Karena aku sudah mempelajari hal hal semacam itu dari edukasi di tempat kuliah dan juga saat aku masih duduk di bangku SMA.


Ada momentum di mana di sebuah seminar mereka meng Edukasi perihal kita harus menjaga ke keperawanan. Karena menjaga keperawanan adalah suatu kehormatan tersendiri yang sangat berarti untuk seorang wanita.


Kita harus tetap "virgin" sampe waktu kita menikah dan memberikan nya pada pasangan sah kita. Dan saat ini lah moment nya. Aku sudah siap memberikan keperawanan ku pada suami ku Emieer.


Dan kini pergerakan Emieer pada tubuh ku semakin membuat ku panas. Bibir nya, tangannya, lindah nya dan semua pergerakan yang ia lakukan di setiap jengkal tubuh ku seperti sengatan listrik, yang membuat ku terkesiap kaget dan melayang.


Saat nafas kami sama sama mulai memburu, tautan bibir yang memacu gairah serta keringat yang terasa panas dan lembab mulai membasahi tubuh polos kami berdua yang berada di bawah selimut putih itu, Emieer kini seperti ingin melakukan penyatuannya.


Dan jujur saja itu teramat sakit yang ku rasakan. Emieer seperti tak mau menyerah, tapi aku semakin merasa kesakitan.


Keringat kami sama sama mengucur lebih deras membanjiri tubuh ku dan juga tubuh Emieer. Bahkan keringat Emieer yang keluar dari dahi nya berjatuhan, jatuh ke dahi ku. Nafas kami saling terengah bersautan, dan aroma tubuh kami seperti lembur menjadi satu.


Tapi menyantuan itu belum berhasil.


"Sava, apa kau kesakitan?" tanya Emieer. Entahlah buat apa dia bertanya itu, di saat dia sedang berusaha memulai kembali penyatuan kami yang belum juga berhasil.


"Yang ku tau, kata nya untuk pertama kali memang sakit kan!" jawab ku. Mencoba membuat nya percaya jika aku baik baik saja. Padahal aku menahan perih di sana.


"Tapi, tidak apa jika kita tunda,"


Rasanya menyebalkan sekali sikap Emieer. Dan rasa nya aku ingin sekali mengumpat. Bisa bisa nya dia mau mundur, saat kami sudah seperti ini, dia malah menyerah.


"Tidak ada beda nya sekarang atau nanti Emieer," ucap ku, ku sisipkan jari jari tangan ku ke rambutnya yang sudah ku acak acak tadi. Meyakinkan dia untuk mempercayai ku.


Dan akhirnya kami pun melanjutkan ritual malam pertama yang ternyata rasa nya sungguh luar biasa.


selanjutnya biar mereka yang nikmati 😬😬😬😅😅😅...


pokoknya begitu ya


Alhamdulillah bab 12.



__ADS_1


happy weekend all ...🥰💐🙏🤗


__ADS_2