
Hari demi hari cepat berlalu, minggu demi minggu terlewati, bulan demi bulan berganti. Kini Sava sudah benar benar kembali pada kehidupannya yang dulu. Bersama keluarganya di rumah besar.
Audrey masih bermukim di Rusia bersama sang suami. Menjalankan usaha keluarganya di sana. Sedangkan Kemal pun juga masih di Amerika, mengemban tugas bisnis keluarga di sana juga. Praktis, Sava lah yang kini menemani kedua orang tuanya Hannah dan juga Hasan Malik di rumah besar.
Sejak kembali nya sang putri kesayangannya di rumah, Hasan kini tidak lagi mengekang Sava. Sava di berikan kebebasan dalam mengambil keputusan untuk hidupnya. Hubungan Hasan dan Sava pun sudah kembali dekat seperti dulu.
Sava melanjutkan kuliahnya di universitas ternama dalam negeri. Ia melanjutkan kuliah di tempat yang dulu ia kuliah. Melanjutkan kembali pendidikannya yang sempat tertunda. Sava mengambil jurusan arsitektur. Cita cita yang selalu ia ingin wujudkan adalah membangun gedung tinggi hasil disain nya sendiri.
Sava juga berencana mendirikan sebuah kantor nya sendiri kelak, saat ia sudah lulus kuliah. Mempunyai putra membuatnya ingin mandiri. Walaupun ia kini sudah kembali pada keluarga nya yang kaya raya, itu tak membuat Sava lantas bertumpang dagu. Ia tetap punya komitmen untuk berusaha sendiri dan mandiri.
Pernah Hidup bersama dengan Emieer walaupun singkat, Sava banyak di ajarkan oleh mendiang suami nya itu untuk bisa bertahan hidup mandiri. Sava hafal sekali dengan ke kebiasaan-kebiasaan yang Emieer lakukan.
Dan ia ingin menjalani hidup seperti yang dulu Emieer pernah lakukan. Sava bener benar menerapkannya pola pikir seperti yang Emieer selalu ajarkan pada dirinya dulu.
Dalam kurun waktu satu tahun setelah ia meninggalkan rumah besar. Banyak hal yang berubah pada diri seorang Georgia Savanah Almeera.
Menjadi seorang ibu, menjadi seorang janda di usianya yang masih muda. Cara berfikir dewasa dan penuh ke ibu an.
Dan dari semua hal itu, yang paling membuatnya semangat dan bahagia adalah kebersamaannya dengan sang putera, Zeeyan Emieer Sadiq, yang kini sudah genap berumur 6 bulan.
Baby Zee tumbuh dengan sangat baik, sehat, dan mengemaskan. Dan sekarang, baby Zee menjadi pusat perhatian di rumah besar. Jika Sava sedang kuliah, maka baby Zee akan di asuh oleh seorang pengasuh kepercayaan di rumah besar. Tapi jika Sava sudah kembali ke rumah, Sava mengambil alih kembali pengasuhan anak nya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
"Sam," sapa Sava pada Sameer yang saat itu tengah berada di sebuah kantin kampus.
"Sava, kau ada di sini?" Tanya Samieer yang terkejut dan tak menduga akan bertemu kembali dengan Sava setelah sekian lama tak bertemu. Samieer nampak senang karena ia bertemu Sava yang beberapa bulan terakhir seperti sengaja menghindarinya.
"Aku kuliah di sini Sam. Kamu sendiri, apa kau juga kuliah di sini?" tanya Sava, yang akhirnya ikut duduk di bangku kosong di depan Samieer.
"Ya, aku kuliah di sini. Aku juga masih magang di kantor Metthew, kau tau kan aku ingin jadi pengusaha sukses seperti dia." tutur Samieer.
"Metthew sudah cerita semua tentang mu. Aku ikut senang, kau kembali pada keluarga mu. Bagaimana kabar Zee?"
🍁🍁🍁🍁🍁
Seusai kuliah, Sava mengendarai mobil barunya pemberian Kemal dan juga Audrey dengan perasaan hati yang tidak menentu. Bukan karena ia sedang naik mobil baru, akan tetapi karena tujuannya saat ini adalah mengunjungi makan suaminya, Emieer.
"Emieer, aku merindukan mu. Aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju pemakaman. Aku bawa kan buket bunga mawar putih untuk mu, sebagai lambang jika cinta ku padamu tidak akan pernah berubah. Dan memang sampai sekarang cinta ku tak berubah untuk mu." ucap Sava dalam hati, kemudian ia menoleh ke samping, ke arah kursi penumpang di sebelahnya. Sebuah buket bunga mawar putih segar tergeletak di jok kursi penumpang, dengan bertuliskan "untuk belahan jiwa ku, Emieer Sadiq"
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, kini ia telah sampe di pemakaman. Kemudian ia meraih buket bunga mawar putih yang ia sudah siapkan. Lalu Sava keluar dari mobilnya dengan menaikan kaca mata hitamnya ke kepalanya. Dengan langkah penuh kerinduan, Sava terus berjalan mendekati pemakaman sang suami, yang sampe detik ini masih saja membuat nya tak percaya jika Emieer telah tiada untuk selamanya.
Sesampainya ia di pemakaman, tepatnya di sisi makam Emieer. Sava meletakkan buket bunga mawar putih yang ia bawa. Kemudian Sava mencium nisan yang bertuliskan nama Emieer Sadiq itu. Air mata yang tak di undang pun dengan sendirinya mengalir, membasahi kedua pipi mulus Georgia Savanah.
"Aku harap kau tenang di sana. Tuhan memberikan tempat terbaik untuk mu Emieer. Dan jangan kawatirkan aku lagi. Aku sudah kembali pada keluarga ku. Aku tidak berjuang sendiri untuk sekedar bertahan hidup. Dan putra mu juga di sayang banyak orang di rumah besar. Aku sudah bahagia Emieer, terimakasih sudah menitipkan Zee untuk ku. Dan aku harap, kau juga bahagia di sana."
Setelah beberapa saat berada di pemakaman. Sava kemudian dengan berat hati harus meninggalkan makan suami tercintanya.
"Sampai jumpa lagi sayang. Aku pergi dulu, aku akan ajak Zee mengunjungi mu nanti." Sava kemudian mencium lagi batu nisan Emieer.
Emieer adalah cinta pertama Sava, dan Sava pun juga tau, bahwa dirinya adalah cinta pertama sang suami. Chemistry cinta yang kuat antara keduanya membuat Sava tidak bisa melupakan pria hangat itu. Bahkan Sava sampe detik ini masih belum mampu untuk membuka hati nya.
Walau ada satu orang yang kini telah bisa membuat hati nya bergetar. Namun ia tidak yakin, bahwa itu adalah tanda bahwa ia sudah bisa menerima cinta yang lain. Karena Sava masih belum mau untuk benar-benar membuka hati dan mempersilahkan cinta yang lain masuk di hati nya.
Sava merasa sudah sangat nyaman dengan hidup yang jalani saat ini.
__ADS_1