BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Hari Berkabung


__ADS_3

Langit tidak terima Maryam terus-terusan disalahkan atas kejadian di masa lalu. Kasih sayang ibu Maryam murni kasih sayang sebagai ibu pada anaknya. Tidak membedakan antara Maryam dan Zoya. Bukan karena Langit suami Maryam tapi Langit tahu Zoya tidak pernah puas dengan apa yang didapatkannya, Zoya termasuk salah satu manusia yang tidak pandai bersyukur atas semua nikmat yang diberikan padanya.


"Sudahlah, jangan mengambil hati ucapannya. Dia sakit! Lebih baik kita pulang, kondisimu masih belum diperbolehkan kemana-mana," ucap Langit.


"Tapi, Mas,-"


"Sudah, aku sedang tidak ingin dibantah!" Langit lantas memapah Maryam dari rumah dan keluar menuju mobil, ia melihat Ibra sedang berdiri mematung menyaksikan Zoya dari luar. Langit dan Ibra saling memberikan kode dengan anggukan kepalanya, lalu Ibra masuk menemui Zoya sedangkan Langit membawa Maryam pulang.


"Mas Ibra," ucap Zoya pelan, ia tidak menduga Ibra akan datang ke rumah lamanya.


"Jadi kamu dan istrinya Langit adik kakak? Apa kamu tidak malu ingin merebut suami adikmu?" tanya Ibra.


"Stop! Aku tidak mau mendengarnya, aku tidak mengakuinya sebagai adik!" sanggah Zoya kesal.


Ibra tersenyum kecut, masih saja Zoya bersikap arogan dan tidak mau mengalah. Benar kalau Zoya tidak pandai bersyukur, ia malah mengejar sesuatu yang mustahil untuk di dapat.


"Menyerahlah Zoya, kamu sudah kalah. Langit tidak akan mungkin dipisahkan dengan Maryam. Mereka saling mencintai satu sama lain."


Zoya terdiam, ia sudah tak mampu membalas perkataan Ibra.


***

__ADS_1


Sudah 3 hari Faiz dirawat secara intensif di Rumah Sakit, ia dilarikan ke Rumah Sakit karena ditemukan tidak sadarkan diri di kamar. Dokter melakukan skrining menyeluruh terkait kesehatannya.


Laila terus-terusan menangis menunggui Faiz bersama Kanaya, mereka berdo'a untuk kesembuhan anak dan suaminya. Seminggu terakhir kondisi Faiz memang menurun, mungkin akibat beban pikiran yang dialaminya. Banyak masalah datang mendera, posisinya sebagai dosen di kampus mendapat sorotan lebih akibat kabar poligami yang dilakukannya.


Faiz tampak lemah tak berdaya, wajahnya pucat pasi. Seumur hidup Faiz tidak pernah mengalami sakit yang parah seperti sekarang.


Dokter dan perawat datang untuk pemeriksaan rutin, Laila dan Kanaya menungguinya di luar dan menantikan kabar terbaru dari dokter.


"Bagaimana Dok, apa penyakit anak saya?" tanya Laila sudah tidak sabar.


"Bu, lebih baik kita bicara di ruangan saya karena penyakit pak Faiz sangat serius," ucap dokter yang menangani Faiz.


Laila mengerti, ia dan Kanaya mengikuti dokter dari belakang. Perasaan keduanya tak menentu apakah gerangan penyakit yang diderita Faiz.


"Saya harap anda berdua bisa tabah karena penyakit pak Faiz ini sudah masuk ke stadium akhir," ucap Ryan pelan-pelan.


"Maksud Dokter?" tanya Laila.


"Pak Faiz didiagnosa menderita kelainan pada darah merahnya dimana sel darah putih lebih banyak dibandingkan sel darah merah," jawab Ryan.


"Maksud Dokter apa suami saya menderita leukimia?" tanya Kanaya sudah tak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


"Iya Bu, suami ibu menderita leukimia stadium akhir,"


Seketika Laila dan Kanaya menangis bersamaan. Kenyataan penyakit Faiz membuat keduanya sangat shock.


"Tapi kenapa mendadak?" erang Kanaya.


"Maaf Bu, menurut rekam medis pak Faiz di Rumah Sakit ini beliau sudah mengetahui lebih awal. Karena kami menjaga privacy pasien kami."


"Ya Allah," dada Laila serasa sesak. Cobaan apalgi yang kini menimpa keluarganya seolah tak pernah bosan mendera.


Kondisi Faiz kian hari demi hari tambah memburuk. Terakhir Faiz dirawat intensif di ICU selama satu minggu, dokter menyatakan Faiz koma. Selama 3 hari itu keluarga Gufron dan Hutomo secara bergantian berjaga. Sedangkan Kanaya tidak pernah absen menunggui Faiz dengan setia. Ia berharap ada keajaiban datang.


Menurut rekam medis Faiz menolak melakukan kemoteraphy. Ia sudah pasrah akan penyakitnya. Dokter dan keluarga sudah sepakat akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang karena sumsum Fani cocok untuk kakaknya.


Transplantasi akan dilakukan setelah Faiz sadar. Keluarga berharap Faiz akan sembuh seperti semula.


Pukul 23.05 Kanaya berteriak histeris setelah tim dokter menyatakan bahwa Faiz telah tiada. Faiz menyerah melawan sakitnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya pukul 23.00.


Laila dan Gufron menghambur berpelukan, keduanya menangis mengetahui putera sulung mereka telah berpulang. Apalagi Kanaya, ia sudah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya, seketika ia ambruk tak sadarkan diri. Kematian Faiz merupakan hari berkabung untuknya saat ini dan selamanya.


***

__ADS_1


Bersambung...


Tuliskan komentar kalian di kolom komentar ya.. Komen sebanyak-banyaknya dan jangan lupa like 😘


__ADS_2