
"Mas, hari ini kamu ada waktu senggang?" Istrinya menggelayutkan tangannya di pundak sang suami.
"Nggak ada, aku free. Kenapa? Kau mau kenana, Sayang?"
"Mm aku mau ikut kelas ibu hamil, Mas."
"Apa itu kelas ibu hamil?" tanya Langit keheranan.
"Itu loh dalam kelas ibu hamil, akan mendapat pengetahuan seputar hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi. Secara garis besar, materi yang akan diberikan oleh fasilitator, bisa tenaga kesehatan atau perawat. Boleh ya, Mas?" tanyanya takut-takut. Khawatir suaminya tidak akan mengijinkan.
"Boleh, kapan?"
"Dua jam lagi mulai, Mas." Maryam bersemangat.
"Ya sudah cepetan siap-siap sana," kata Langit.
Maryam mengangguk-angguk. Ia memakai pakaian yang disesuaikan dengan kegiatan di sana. Di double lagi dengan dress panjang miliknya. Supaya menudahkannya untuk tidak berganti pakaian lagi di sana.
Langit menghela Maryam turun ke bawah, satu bulan menjelang kelahiran. Ia sudah sangat kesulitan berjalan, kepala bayi dalam kandungannya sudah berada di jalan lahir yang menyebabkannya sedikit sakit bila dipakai berjalan.
"Kamu yakin mau ikut?" Suaminya hanya khawatir.
"Iya Mas, yakin. Kan di sana aku dapat edukasi juga, baca dari internet kurang jelas."
"Ya sudah ayo kita berangkat." Langit mengemudikan mobilnya sendiri, ia menjalankan mobilnya dengan tidak tergesa-gesa. Asal selamat sampai tujuan, itulah misi Langit setelah Maryam mengandung. Ia sangat hati-hati menjaga kandungan istrinya agar tetap terjaga.
"Ini tempatnya, Sayang?" Langit melihat dari dalam mobilnya ke arah luar sebuah bangunan mirip klinik, semua dindingnya terbuat dari kaca.
"Iya, ini alamatnya. Itu nama tempatnya sama, Mas."
"Kita parkir dulu," ucap Langit.
"Kamu nggak pergi, maksudku kamu mau nungguin aku?"
"Iyalah, masa cuma nganterin doang. Nanti kalau ada apa-apa sama Galaksi gimana?" Usapnya lembut.
"Galaksi? Siapa Galaksi, Sayang?" tanya Maryam heran.
"Nih, calon anak kita dalam perut kamu. Aku mau menamainya Muhammad Galaksi Herlambang," ujar Langit pada istrinya.
"Muhammad Galaksi Herlambang?"
Langit menganggukan kepalanya.
"Gimana? Apa kamu suka?"
"Namanya bagus, aku suka Mas. Galaksi, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya."
"Sabar, sebentar lagi." Langit memberikan kecupan singkat di bibir Maryam sebelum mereka keluar mobil.
Usai mengantarkan Maryam ke dalam kelas, Langit menungguinya di caffe yang berada di sebelah tempat istrinya sambil memesan kopi.
"Pak Langit." Sapa suara seorang wanita yang membuatnya mau tak mau mendongakan kepalanya.
"Anda?" Langit melirik ke kanan dan kirinya, dengan siapa Adinda di tempat yang sama dengan dirinya. Apakah ini kebetulan?
"Iya Pak Langit, tanpa sengaja kita bertemu di sini ya. Oh iya anda sedang menunggu siapa?" Adinda juga melakukan hal yang sama melihat ke kanan dan kirinya.
"Saya menunggui istri saya di dalam kelas ibu hamil," jawab Langit.
"Oh begitu, sama dong saya juga sedang menunggu kakak saya di kelas ibu hamil juga."
Langit tersenyum paksa dan dengan sangat terpaksa pula ia mempersilahkan Adinda untuk duduk satu meja dengan dirinya.
"Saya senang dengan suami siaga seperti anda, mau repot-repot mengantarkan istrinya ke tempat seperti ini." Perkataan Adinda membuat mata Langit menatapnya.
"Repot?" Langit menyimpan ponselnya di atas meja. "Saya sama sekali tidak repot karena sebagai seorang suami sudah sepantasnya menjaga istrinya di setiap waktu dan keadaan. Mumpung saya libur apa salahnya juga menemani istri saya. Apa yang saya lakukan tidak sebanding dengan pengorbanan istri selama hamil mengandung darah daging saya. Butuh pengorbanan untuk seorang istri sampai tahap melahirkan, belum lagi menyusui dan membesarkan. Jadi apa yang dilakukan suami tidak ada apa-apanya bila dibandingkan pengorbanan seorang istri." Langit menjabarkannya secara panjang lebar berharap Adinda tidak asal bicara.
Wajah Adinda merah padam menahan malu karena sudah membuat nada bicara Langit terdengar berbeda.
"Ah mungkin karena saya belum menikah jadi belum mengerti," timpal Adinda.
"Bisa jadi seperti itu." Lalu tangan Langit meraih cangkir kopi yang sudah mulai mendingin.
"Pak Langit, kalau boleh saya tahu apa kriteria seorang istri buat Bapak?"
"Kritria istri?" Hhmm yang jelas saya bisa nyaman dan mencintainya itu saja. Dengan begitu apapun akan saya lakukan untuk istri saya."
Lagi-lagi jawaban Langit menohok hati Adinda.
__ADS_1
Wanita berpakaian agak seksi itu begitu sangat penasaran seperti apa sih istri Langit itu sampai Langit seolah tidak mau menatap wanita lain selain istrinya.
Andaikan dia suamiku, aku pasti akan senang. Dia laki-laki terus terang dan aku suka.
"Pak Langit, boleh saya jujur?"
"Tentang perasaan saya sama Bapak," ujar wanita itu pada Langit.
"Maksudnya?"
"Saya suka sama Pak Langit, saya ingin menjadi istri Bapak." Urat malu wanita yang bernama Adinda itu seolah putus. Dengan beraninya ia mengutarakan perasaannya yang terpendam sejak pertemuan pertama mereka di Medika.
"Menjadi istri saya? Maaf Bu Adinda, saya sudah memiliki istri dan saya tidak akan mungkin berpaling bahkan menduakannya." Sikap tegas Langit membuat yang mendengarnya tersenyum palsu.
"Saya tahu Pak, tapi namanya perasaan tidak bisa dibendung. Saya sangat menginginkan Bapak," ucapnya Lagi.
Langit mengangkat satu ujung bibirnya ke atas.
"Tapi maaf, perasaan saya tidak dapat dibagi-bagi. Saya begitu sangat mencintai istri saya dan saya tidak akan pernah mengkhianatinya." Tegas Langit.
"Istri anda beruntung mendapatkan suami yang setia seperti anda." Adinda terlihat sedih, ia kira Langit sama dengan semua pria yang pernah singgah di hatinya meski pria itu sudah bersuami, mereka tetap tidak bisa menolak wanita seksi seperti dirinya.
"Mas." Maryam tersenyum dan melambaikan tangannya lalu menghampiri Langit yang masih duduk berhadapan dengan Adinda.
"Sayang." Langit berdiri dan menghela istrinya untuk duduk di sampingnya.
Mata Maryam dan Adinda saling bertemu, dahi Adinda mengerut seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Maryam, kamu Maryam kan?" tanya Adinda memastikan.
"Iya betul, saya Maryam. Tapi maaf, siapa ya?"
"Anda mengenal istri saya Bu?"
"Iya kenal, kita satu fakultas di jurusan ekonomi marketing. Tapi mungkin Maryam lupa karena apalah saya tidak seterkenal Maryam saat di kampus," ucapnya pada Langit.
"Aduh maaf, saya memang lupa. Maafkan kalau saya belum mengingatnya. Jadi anda ini rekan bisnis suami saya?"
"Iya, saya rekan bisnis Pak Langit. Kelasnya sudah selesai ya? Kalau begitu saya permisi pamit, mau melihat kakak saya di dalam. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi, Maryam, Pak Langit." Adinda tersenyum palsu berusaha menutupi rasa keterkejutannya karena yang menjadi istri pria idamannya adalah orang yang dikenalnya.
Adinda sangat mengenal sekali Maryam, dalam berbagai segi Maryam sulit untuk ia kalahkan. Nilai akademik yang dikalahkannya sampai pria yang menjadi incarannya ternyata diam-diam menyukai Maryam, Gavinendra.
Kekesalan Adinda memuncak tak kala Maryam yang mewakili kampusnya sebagai duta mahasiswa berprestasi dan dikirim ke luar negeri.
"Jadi dia Adinda yang menyukai Gavin? Aku baru mengingatnya."
Sepulangnya dari kelas bersalin, selama dalam perjalanan Langit lebih banyak diam. Bukan karena masalah Adinda. Tapi ia menerima email permintaan kerja sama dari Malaysia dan perusahaan mereka meminta detail perjanjiannya. Pikiran Langit terus fokus kesana, ia sudah menghubungi Willy tapi tidak ada jawaban dari pria itu.
"Mas, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu mikirin Adinda ya?" Tuduh Maryam.
"Adinda? Ko Adinda sih?"
"Ya kali soalnya kamu aneh setelah sama dia tadi, ada apa kamu nyembunyiin sesuatu? Kamu selingkuh ya?"
Langit melotot kaget, " Loh ko malah nuduh aku sslingkuh, mana mungkin aku selingkuh. Ngaco ah kamu." Langit membelai-belai rambut Maryam lembut.
"Soalnya kamu kaya nyembunyiin sesuatu dari aku," ujar Maryam dibenarkan hati Langit.
Ya fakta seorang istri memang kuat, sepintar apapun suami menyembunyikan sesuatu pasti akan tercium juga.
"Nanti aku ceritain di rumah ya," kata Langit.
"Tuh kan berarti benar,"
"Benar apanya?"
"Benar kamu selingkuh!"
"Astagfirulloh Sayang, kenapa pikiran kamu kemana-mana sih. Boro-boro aku mikirin wanita lain, yang ada gimana caranya aku ingin membahagiakan kamu dan anak kita, percaya sama aku." Langit tidak memberhentikan mobilnya di bahu jalan ia lebih memilih terus menjalankan mobil denga kecepatan sedang.
Mengingat karakter istrinya yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ada apa kamu dengan Adinda?"
"Sayang, nanti aku ceritakan di rumah. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak."
Seandainya saja istrinya sedang tidak hamil besar mungkin Langit sudah menancap gas dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar ingin menceritakan tentang Adinda pada Maryam.
Air mata bening itu lolos juga dari mata Maryam, Langit jadi serba salah. Ia tidak berniat membohongi istrinya hanya saja kejadiannya baru setengah jam yang lalu dan ia belum ada waktu membicarakannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Maryam langsung keluar mobil tanpa menunggu Langit menbukakan pintu untuknya. Cepat-cepat Maryam masuk, langkah kakinya membawanya menaiki anak tangga.
"Sayang, Sayang, Maryam." Secepatnya Langit menyusul takut Maryam jatuh dan mengakibatkan kenapa-napa.
Ainun dan Adam saling melempar pandang, keduanya menduga mereka berdua pasti sedang bertengkar.
"Maryam sama Langit kenapa ya?"
"Mungkin ada kesalahpaham saja, Ma. Biarkan mereka menyelesaikannya.
Di dalam kamar, Maryam membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya di tutupi bantal, ia tidak mau Langit melihatnya menangis.
Langit duduk di ujung tempat tidur, kaki Maryam ia taruh di atas kedua pahanya. Tangannya lantas memijat-mijat kakinya.
"Sayang, maaf bukan niatku tidak jujur padamu. Hanya saja dia baru mengatakannya tadi saat kamu di dalam kelas bersalin, bagaimana cara aku bilang kalau orangnya ada di sana." Sebisa mungkin Langit menjelaskannya.
Tangan Langit mengambil bantal kecil yang menutupi wajah istrinya itu.
"Mas," ucapnya dengan wajah merengut kesal.
"Dengerin dulu, katanya kamu mau aku cerita. Hhmm?"
"Iya cerita saja, aku akan mendengarkannya."
Langit menghela nafasnya sejenak.
"Tadi Adinda itu, yang duduk bersebrangan denganku itu. Dia ngungkapin perasaannya sama aku, aku juga kaget padahal dia tahu kalau aku sudah menikah." Jujur Langit.
"Tuh kan benar, Mas. Hiks." Tangis Maryam semakin kencang mendengar pengakuan Langit.
"Benar apanya, Sayang?"
"Benar kamu selingkuh," ucapnya.
"Astagfirulloh, Sayang. Gimana aku mau selingkuh kalau di hati aku saja di penuhi nama kamu terus." Siapa tahu dengan begitu istrinya tidak akan bersedih lagi.
"Kamu bohong, Mas?"
"Aku nggak bohong, kalau aku bohong kamu nggak akan mungkin mengandung anak aku." Tegas Langit. " Dengarkan aku! Tidak akan ada yang bisa menggeser nama kamu dari hati aku, siapapun itu!"
"Mas nggak bohong?"
"Mana bisa aku bohong pada istriku sendiri? Kamu lupa dengan janjiku dulu, akan merebutmu dari suamimu kalau kamu tidak bahagia? Sekarang kamu sudah aku miliki masa dengan mudahnya menggantinya dengan yang lain. Kamu itu bukan barang, kamu adalah wanita terhebat yang aku miliki. Dan kamu adalah ibu dari anak yang ada dalam kandunganmu ini. Aku janji akan membahagiakan kalian berdua, kamu dan Galaksi."
Hati Maryam luluh tak berdaya, rayuan suaminya bagai sihir yang tak dapat ia tolak.
"Kamu memang selalu membuatku tidak berdaya, Sayang." Dikecupnya kening Langit sejenak lalu kecupannya berpindah ke bibir yang sedikit terbuka. Memudahkan Maryam memasukan lidahnya dan memainkannya di sana.
"Kamu mau aku bekerja sekarang?" Bibir Langit menyeringai.
"Bekerja?"
"Iya bekerja." Dibaringkannya tubuh Maryam pelan-pelan. Sementara Langit menahan tubuhnya dengan satu tangannya agar tubuhnya tidak menindih perut Maryam.
"Katanya kalau sudah jalan 8 bulan, papanya harus rajin-rajin nengok biar jalan lahirannya lancar." Senyum seringai tampak menghiasi wajah Langit saat ini.
Adinda melempar tasnya secara asal, ia merengut kesal dan marah bercampur jadi satu. Masih kesal mendapatkan kenyataan bahwa Maryam yang menjadi istri Langit.
"Kenapa harus Maryam!" Teriaknya. "Sejak dulu sampai sekarang Maryam yang sudah berhasil merebut apa yang menjadi keinginannya.
"Gavin dan sekarang Langit, kenapa hidupmu sebahagia itu Maryam? Aku akui kamu memang cantik, aku akui itu. Tapi kenapa Langit yang menjadi suamimu, aku tidak terima itu!"
Diraihnya ponselnya yang berada di dalam tasnya, ia menekan nomor ponsel teman dekat Maryam semasa kuliahnya dulu. Adinda ingin tahu setelah mereka lulus kuliah bagaimana kehidupan Maryam setelahnya.
"Apa? Faiz? Meninggal?" Adinda menyeringai, ia tidak salah mendengar fakta terbaru tentang Maryam.
"Jadi dia janda, lalu menikah dengan Langit? Hah, ini sulit aku percaya kenapa Langit malah memilih janda. Bukankah ada wanita single yang berkelas, secara Langit adalah seorang pria terpandang." Adinda bermonolog.
"Sial! Mereka selalu mesra." Adinda ingin sekali melemparkan ponsel mahalnya, karena rasa penasarannya yang tinggi ia membuka-buka media sosial milik Langit. Di sana banyak foto-foto mesra Langit dan Maryam bersama, banyak foto yang mereka tampilkan termasuk foto maternity yang diambil fotografer profesional 2 minggu yang lalu.
Salah satu fotonya memperlihatkan Langit yang sedang mencium perut besar Maryam.
Hati Adinda semakin meradang.
"Harusnya aku datang lebih dulu, kalau saja Maryam tidak ada pasti aku yang akan menjadi istrinya sekarang! Sekarang pasti Langit lebih menjaga jarak denganku, harusnya aku tahan dulu untuk tidak mengungapkan perasaanku padanya. Dasar, kenapa bibir ini selalu saja gatal."
Bersambung...
My readers zeeyyyenk, jangan lupa teken like, komen dan votenyaa yaaaa... Otor remahan ini nungguin ya. Biar otor semangat up banyak hari ini.
__ADS_1