
Langit tersenyum paksa, di depannya sudah berdiri seorang wanita mengenakan celana jeans ketat dan atasan blouse putih berleher V.
"Pak Langit, maaf saya baru tahu kalau istri anda melahirkan. Saya datang untuk menengok, sekalian ingin melihat bayinya pasti tampan seperti Pak Langit." Adinda berucap seraya membuka kaca mata hitamnya.
Langit memperhatikan hamparan Langit di atas sana. Perasaan sore ini cukup mendung tapi kenapa wanita di depannya malah mengenakan kaca mata hitam, aneh.
"Iya tidak apa-apa silahkan masuk, kebetulan putera saya baru bangun tidur dan istri saya ada di dapur." Langit mempersilahkan Adinda masuk.
Mata Adinda tidak lepas memandangi interior yang ada di rumah Langit. Secara apa-apa yang ada di sana serba eksklusif.
Langit menghentikan langkahnya tepat di ruang santai keluarga, sengaja tempat itu disediakan sofa bed untuk Baby Gala agar tamu yang ingin melihatnya tidak harus naik ke lantai atas.
"Ma, ini ada tamu."
Ainun menyambut kedatangan Adinda dengan ramah dan mempersilahkannya duduk.
"Selamat sore, Tante. Saya Adinda kliennya Pak Langit dan sekaligus teman Maryam di kampus," ucapnya memperkenalkan diri.
"Oh temannya Maryam, silahkan duduk. Maryam juga ada di dapur sedang memasukan ASIP. Sebentar ya,"
__ADS_1
Tak lama Maryam muncul dari arah dapur, matanya tak sengaja melihat Adinda yang terus menatap suaminya.
"Adinda," sapa Maryam.
"Maryam, selamat ya. Maaf aku baru bisa datang," ucapnya.
"Tidak apa-apa, padahal tidak usah repot-repot." Maryam memberikan kado untuk Baby Gala.
"Ya ampun ganteng banget, seperti Pak Langit ya. Siapa namanya?" tanya Adinda pada Maryam.
"Namanya Muhammad Galaksi Herlambang," jawab Maryam.
"Jadi ibu rumah tangga memang beda ya, aku juga mau dasteran kaya gitu. Rasanya adem,"
Maryam merasa Adinda tengah menyindir dirinya.
"Iya dasteran memang adem, untungnya Tante banyak stok daster baru jadi Maryam tidak usah beli. Daster zaman sekarang lucu-lucu tidak seperti daster zaman dulu motifnya juga jadul." Untunglah Ainun datang menyelamatkan harga diri Maryam di depan Adinda.
Cara berpakaian Adinda saat ini juga cukup memancing lawan jenis untuk melirik, blouse putih yang dikenakannya cukup transparan sehingga bagian pakaian dalam Adinda tercetak jelas.
__ADS_1
Langit sadar ia tidak mau memancing cemburu Maryam, ia masuk ke ruang kerjanya memilih memeriksa berkas-berkas.
Langit kemana sih? Kenapa dia malah pergi, aku kan mau ketemu dia bukan mau ketemu Maryam.
"Kamu cari siapa?" tanya Maryam merasa tingkah Adinda cukup aneh.
"Aku hanya melihat-lihat dimana toiletnya. Tadi sebelum ke sini aku ke caffe dulu banyak minum jadinya kebelet," ucapnya berbohong.
"Mau ke toilet? Itu masuk saja ke pintu itu lurus terus belok di sana toiletnya." Tunjuk Maryam.
"Oh iya, kalau gitu aku numpang dulu ya." Adinda jalan tergesa berpura-pura ingin buang air kecil, jangan sampai Maryam tahu dirinya berbohong.
"Tenang saja, Langit tidak akan sampai tertarik dengan model begituan. Nggak ada dalam kriterianya." Ainun tersenyum tipis memperhatikan raut wajah Maryam.
"Nggak ko, Ma. Cuma nggak suka saja, dari dulu dia orangnya kaya gitu. Aku nggak suka caranya lihatin Mas Langit kaya tadi," ucap Maryam menyebikkan bibirnya.
"Tenang saja yang penting Langitnya kan nggak, sudah jangan dipikirkan."
***
__ADS_1
Bersambung