BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Room Number 335


__ADS_3

Sava POV


Aku benar benar tidak paham dengan semua tingkah laku Pak Metthew. Sangat tidak elegan seorang CEO mengurusi karyawan bawahan seperti diri ku.


Dan kini aku di suruh ke kamar hotel nomor 335, maksudnya apa coba. Dia juga mengacam ku, jika tidak menemuinya, maka aku akan di pecat.


Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa kecuali harus menemuinya di kamar hotel tersebut.


Tapi kenapa aku harus menemui nya di kamar hotel. Memangnya tidak ada tempat lain. Tapi kurasa pria semacam dia tidak akan berbuat hal yang tidak tidak. Mana mungkin dia berani berbuat macam macam. Apa lagi ini adalah hotel nya.


Setelah mempertimbangkan sejenak keputusan ku untuk menemuinya. Kini ku langkahkan kaki ku dengan mantap menuju lift.


Setelah sampe di ruang lift, ku tekan tombol lantai tujuh. Seperti pesan tadi, aku harus menemuinya di sana.


Tak perlu menunggu lama. Kini aku sudah sampe di lantai no 7 dan berdiri tepat di kamar hotel nomor 335.


Kamar hotel ini nampak berbeda dari kamar hotel yang lain. Wajar saja, dia yang punya hotel ini. Kamar ini mungkin kamar exclusif milik nya. Setelah aku berguman sejenak dengan diri ku sendiri, akhirnya ku tekan tombol bell di pintu kamar tersebut. Dan tak perlu menunggu lama, pintunya terbuka otomatis.


Sejenak aku ragu, tapi akhirnya aku memberikan diri melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.


Begitu aku memasuki ruangan kamar tersebut, interior mewah memenuhi seisi ruangan tersebut.


Sebuah ranjang king size, sofa mewah, meja rias yang sangat elegan serta karpet permadani yang indah yang best quality pastinya.


Setelah beberapa saat aku mengagumi seisi ruangan yang berinteriorkan mewah berserta furnished nya yang exclusif. Kini aku di kagetkan dengan sosok lelaki dewasa yang nampak berdiri dari sisi ruangan.


Pria itu berdiri menatap ke arah ku dengan tatapan mengejek.


Sial, kenapa dia tidak pake baju, gerutu ku.


Membuat aku dengan terpaksa melihat postur tubuh bagian atasnya. Apa dia sengaja bertelanjang dada begitu.



"Hai Sava, akhirnya kau datang juga." ucap nya. Dengan tidak ada rasa malu melangkah mendekat ke arah ku.


"Stop," ucap ku. Mencoba menghentikan langkahnya. Tapi dia rupanya tak perduli.


"Jangan suka berfikir negatif Sava, memangnya aku mau apakan kamu?" tukas Metthew. Ia berlalu begitu saja melalui diri ku yang sejak tadi berdiri gemetaran.

__ADS_1


Bagaimana tidak, sekarang aku berada berdua an sana di sebuah presidential suite room punya sang pemilik hotel ini.


Ia berjalan melalui ku dengan langkah santainya. Kemudian ia mengambil baju kemeja nya yang ia letakkan di sofa.


Dan aku bisa mencium aroma parfum mahal yang sang Pria matang ini semprot kan mungkin ke tubuh nya.


"Kau harus bertanggung jawab untuk mengeringkan baju ku. Ini, ayo keringkan!" perintah nya sambil mengulurkan kemeja putih nya yang basah karna ulah ku tadi.


"Apa seorang CEO seperti anda tidak membawa baju ganti?" tanya ku dengan berani. Kemudian ia malah terkekeh.


"Ini hanya ruang istirahat ku, bukan rumah atau Penthouse ku. Aku tidak menyediakan pakaian ganti di sini. Jika kamu mau, kamu boleh sekali kali berkunjung ke rumah ku." ucap nya. Malah menawariku untuk singgah ke rumah nya. Tanpa banyak tanya, aku meraih kemeja Pria berumur yang menyebalkan ini.


Pemandangan yang dari tadi membuat mata ku tidak nyaman adalah, ia nampak santai santai saja bertelanjang dada seperti itu. Postur tubuh nya yang tinggi besar serta tegap dan juga dada bidangnya yang di tumbuhi bulu bulu halus mengingat aku pada Emieer.


Sial.....umpat ku.


Aku tiba tiba teringat dengan tubuh Emieer yang sangat sempurna di mata ku. Kemudian aku buru buru menepis imajinasi yang hanya akan membuat aku menangis.


"Dengan cara apa aku mengerikan baju ini?" tanya ku.


"Jika kau habis keramas, dengan apa kau memgeringkan rambut mu?" ucapnya berbalik bertanya.


Tanpa banyak cakap, aku segera berjalan menuju meja rias di kamar ini. Kemudian aku menyalakan Hairdryer itu dalam mode on, lalu dengan semburan hawa panas nya ku arah kan hairdryer tersebut ke arah kemeja Pria menyebalkan itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kemeja yang tak sengaja aku basahi dengan air shower itu kini telah sepenuhnya kering.


"Ini sudah kering kemeja anda." ucap ku. Pria matang itu pun kemudian meraih nya. Dan tanpa sungkan ia mengenakan kemeja itu di hadapan ku.


"Tugas saya sudah selesai kan Pak, saya izin undur diri untuk kembali bekerja." ucap ku ingin sesegera mungkin meninggal kamar hotel yang membuat ku sesak napas ini.


"Tugas mu sudah selesai, dan sekarang aku ada perlu dengan mu." ucap Pak Metthew. Dia seperti nya sengaja menahan ku di sini.


Setelah ia kini berpakaian rapi, ia yang saat ini sedang mengenakan kembali jam tangan mahal nya melirik ke arah ku. Dan konyolnya, saat ia melirik ku, aku saat itu sedang memandangi nya. Dan dia pun kembali mempertontonkan tawa mengejeknya ke arah ku.


"Apa kau mengangumi aku. Berterus terang lah," sepertinya ia sedang mengoda ku, dan hal itu semakin membuat darah ku mendidih. Aku benar-benar tidak ingin berada di tempat ini lebih lama lagi.


"Langsung saja Pak, apa lagi yang harus saya kerjakan?" ucap ku tak sabaran. Pria berumur itu kemudian malah duduk di kursi kebesaran nya. Sebuah kursi mewah yang terletak di sudut kamar.


Sambil melipat satu kaki nya di sisi kaki nya yang lain. Pak Metthew nampak memandangi ku dengan tatapan serius.

__ADS_1


"Duduk lah. Jangan berdiri saja." ucap nya sambil menujuk sebuah sofa.


Aku pun mengikuti perintahnya untuk duduk di sofa yang ia tunjuk.


"Baik lah Sava, to the point saja ya. Aku menawarkan posisi yang lebih baik untuk mu. Jika kau mau. Kamu bisa beralih profesi menjadi Resepsionis. Atau jika kau bersedia, dan ini tentunya akan membuat ku sangat senang, aku menawari mu untuk menjadi sekertaris pribadi ku. Bagaimana?"


Deg.........


Tawaran Pria matang itu seketika membuat kedua mata ku membulat dan juga mulut ku ternganga.


"Anda baik baik saja kan Pak," tanya ku konyol.


Aku pikir, apakah dia sedang mabuk.


Seorang CEO menawari pekerjaan karyawan nya yang baru saja bekerja 3 bulan sebagai resepsionis dan bahkan dia menawariku menjadi sekertaris nya. Hal yang aneh dan mencurigakan, aku yakin pasti ada sesuatu di balik sok baik nya ini. Dan aku tidak boleh larut dalam perlakuan di istimewa kan ini.


"Maaf Pak Metthew, bukanya saya tidak mau menerima niat baik Bapak, tapi_"


"Metthew, pangil saja aku Metthew. Jika kita sedang berdua saja tidak usah pangil aku Pak atau Bapak. Tapi pangil aku nama saja."


Dan ucapannya semakin membuat aku bigung.


"Tapi saya_"


"Aku bos mu Sava, ini perintah." ucapnya memotong ucapan ku.


"Ku rasa saya tidak bisa memanggil anda dengan hanya menyebut nama. Itu kurang sopan, bahkan umur anda jauh di atas umur ku." tukas ku, dan entah kenapa pria matang itu justru tertawa. Bahkan tawa nya membahana di ruangaan kamar hotel ini.


"Aku tau kamu masih muda, usia mu akan genap 20 tahun dalam Minggu minggu ini kan. Coba tebak betapa umur ku?" tanyanya.


"Kau pantas menjadi Kakak ku, Kau mengingatkan aku pada Kakak lelaki ku." jawab ku asal dan berani.


"Wow, kau sekarang sudah berani pangil aku KAU." ucapnya. Masih dengan expresi wajah meremehkan amarah yang aku tunjuk kan.


"Bagaimana jika aku ingin menjadikan mu istri!"


"Apakah kau bersedia?" tawar nya.


Dan mendengar tawaranya yang semakin gila itu membuat aku terdiam seribu bahasa.

__ADS_1




__ADS_2