BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bertemu Direktur


__ADS_3

Sava POV


Sudah tiga bulan lama nya Emieer telah pergi.


Dan kehadiran baby Zee seperti sebuah ke ajaiban untuk ku. Dia membuat ku tetap bertahan dan bersemangat. Aku melalui hari demi hari cukup bahagia bersama nya.


Dia tidak hanya sekedar membuat ku bertahan dan bersemangat, Zee juga membuat ku punya alasan untuk berjuang dan berfikir, bagaimana aku harus bisa terus mendapatkan uang untuk memenuhi hidup kami.


Demi dia, dan karna dia. Darah daging ku, separuh aku dan separuhnya lagi Emieer. Aku ternyata mampu mengahadapi ini semua. Hal yang tak pernah aku pikirankan, ternyata aku bisa sekuat ini.


Tidak ada alasan untuk merutuki nasib. Tidak ada gunakan berlarut dalam kesedihan.


Aku sudah terbiasa dengan nasib nasib buruk yang menimpa ku.


Kini, aku sekali lagi di hamtam oleh ujian itu.


Dengan kehilangan tumpuan hidup, kehilangan belahan jiwa, kehilangan cinta, dan juga separuh hidup ku. Tetapi sekarang, aku menerima nya, tidak apa, aku sudah iklas.


Terkadang kita tidak boleh terlalu memberontak untuk sesuatu hal yang mungkin tak kita sukai. Melainkan kita harus berdamai dengan nasib dan berjalan beriringan dengan ujian.


Ketika dulu diri ku masih baru lahir saja, aku sudah di buang oleh orang tua ku sendiri. Tapi nasib baik datang pada ku saat Papa Hasan dan Mama Hannah menemukan aku di hamparan perkebunan teh 20 tahun lalu.


Jika waktu itu aku tidak di selamatkan oleh Papa dan Mama, entah aku masih hidup atau sudah mati kala itu.


Aku sudah pernah merasakan hidup mewah. Aku juga pernah merasakan diri ku begitu di manja dan di limpahi kasih sayang di rumah besar.


Menempuh pendidikan di sekolahan terbaik. Baju baju bermerek, kartu belanja yang unlimited. Mobil mobil mewah ku di rumah besar mungkin sampai sekarang masih berjejer rapi di garasi.


Teman teman yang high class, dan masih banyak hal lain lagi kemewahan yang sudah aku pernah rasakan.


Bukankah itu nikmat yang luar biasa yang pernah ku kecap.


Ketika aku jatuh cinta dengan seorang pemuda sederhana bernama Emieer Sadiq. Seketika itu juga dunia dan hidup ku berubah.


Tapi aku tidak menyesal. Dan ketika aku memutuskan memilih nya. Aku tidak menyesal kehilangan semua hal terbaik yang aku miliki saat itu.


Sampai pada akhirnya, diri ku di usir oleh Papa dan akhirnya juga aku mengetahui satu hal, jika ternyata aku hanyalah anak pungut.


Apalah aku kecewa dan marah? Tidak. Aku tidak kecewa ataupun marah, aku masih tetap bersyukur. Dan bahkan aku masih menaruh hutang budi pada keluarga Hasan Malik.

__ADS_1


Tapi bersama Emieer, aku belajar tentang hidup. Bersama nya aku belajar banyak hal.


Dan hidup dengan nya walau tak lama, kini aku di anugerahi seorang anak laki laki yang lucu dan menggemaskan.


Dan aku menganggap, Zeeyan adalah anugerah cinta ku bersama Emieer. Anugrah dari Tuhan untuk ku, yang sengaja Tuhan hadirkan untuk mengantikan Emieer yang telah Tuhan ambil kembali.


Maka dari itu, aku masih merasa, menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Karena Tuhan selalu mengirimkan seseorang untuk selalu membuat ku kuat.


Dan seseorang itu adalah anak ku. Baby Zeeyan, karena nya aku harus tetap bisa kuat. Dan kini aku kuat bersama nya. Aku akan lakukan apapun demi putera ku.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sore itu sambil menggendong baby Zee, aku berniat untuk pergi belanja. Dan sebelum pergi belanja aku berniat untuk me loundry pakai pakai kotor ku. Alhasil aku yang saat ini sedang menggendong baby Zee dengan tangan kosong ku yang lain, ku tengteng satu plastik besar berisi baju baju kotor.


Setelah selesai dari tempat loundry, dengan menaiki sebuah taksi aku pergi ke supermarket untuk berbelanja.


Biasanya aku belanja dua Minggu sekali untuk menyetok bahan bahan makan untuk ku dan berbagai macam kebutuhan ku dan juga kebutuhan putera ku.


Setelah sampe di supermarket, aku pun mengambil satu troli. Sambil mendorong troli itu dari lorong satu ke lorong yang lain aku dengan teliti mengambil barang barang yang aku sangat perlu dan butuh kan untuk di rumah.


Saat troli ku sudah mulai penuh, aku sampai sampai kesulitan untuk mendorong nya. Karena aku hanya mendorong troli dengan satu tangan saja. Sedangkan tangan ku yang lain, aku gunakan untuk menahan beban tubuh Zee dalam gendongan ku.


Saat aku menengok ke belakang. Betapa kagetnya aku, ternyata pria itu adalah Pak Direktur Hotel tempat aku bekerja. Nama nya kalau tidak salah adalah Pak Metthew.


"Pak, Matthew," sapa ku membungkuk hormat.


Pria itu lantas tersenyum pada ku. Dia memang terkenal ramah dan murah senyum. Semua karyawan Hotel dari tingkat bawah sampai atas pun sangat mengenal beliau ini.


"Kau mengenal ku," tanya nya mengerut kan dahi, nampak berfikir bingung.


"Siapa yang tak kenal anda, saya salah satu pegawai housekeeping di Hotel yang anda pimpin." ucapku. Aku harus tetap menjaga norma kesopanan terhadap Bos besar ini.


Jika aku tadi tak menyapanya lebih dulu, itu bisa saja membahayakan pekerjaan ku. Bisa bisa aku di pecat dengan tak hormat karena aku telah bersikap sombong dan tak tau etika.


Tapi ternyata dia tak mengenal ku. Wajar lah, siapa juga yang akan mengenai pegawai rendahan seperti diri ku.


"OOO begitu kah," jawab nya singkat.


"Kau sendirian? ...Belanja sebayak ini." tanya nya.

__ADS_1


"Aku bersama putera ku." jawab ku tegas.


"Putera,?" ucapnya terbengong. Memangnya kenapa jika aku punya anak, pikir ku.


"Berapa umur mu, kau terlihat masih sangat muda." tanya nya lagi penasaran.


Tapi pertanyaan menyelidik nya makin membuat ku tak nyaman. Karena sudah masuk dalam wilayah pertanyaan pribadi. Dan aku memilih tak menjawab, dan hanya tersenyum.


"Baiklah, ayo aku bantu. Apa kau sudah selesai belanja?" tanya nya, yang kemudian menyelonong mendorong troli ku yang kini sudah penuh dengan barang belanjaan.


"Maaf pak, saya bisa sendiri." ucap ku, aku merasa tak enak. Masa seorang direktur utama Hotel mendorong kan troli untuk karyawannya. Sergah ku.


"Aku hanya ingin menolong saja. Kasian dengan bayi mu." ucap nya, dan semakin membuat aku tak enak hati. Pak Metthew malah kini sudah mendorong troli ku dengan ke dua tangan nya.


"Kau sudah selesai apa mau belanja lagi," tanya nya lagi. Aku yang berada di belakang nya sambil mendekap Zee menatap ke arah nya.


Jika sebelumnya aku hanya bisa melihat dia dari jauh saja. Tapi kini aku bisa melihat CEO tempat ku berkerja ini dari dekat.


Dalam hati dia memang terlihat tampan. Tapi seorang pria seusianya pasti sudah berkeluarga.


Dia terlihat lebih tua dibandingkan Emieer, walau Emieer dan aku punya jarak umur yang lumayan jauh juga. Kurasa ia berumur 35 an tahun.


"Saya sudah selesai Pak." jawab ku akhirnya, setelah mengamati perkiraan usia sang CEO itu.


"Baiklah," jawab nya. Sambil kembali mendorong troli ku mengarah ke Kasir. Dan aku pun hanya bisa pasrah.


"Maaf Pak, saya bisa melakukan nya sendiri." tukas ku, kembali merasa tidak enak karna Pak Methew mengeluarkan satu persatu barang belanjaan ku ke meja Kasir.


"Santai saja, tidak usah sungkan." jawab nya ringan dan terlihat sangat santai. Dan dia dengan ke dua tangannya terus bergerak mengeluarkan barang barang dari troli sampe habis di meja Kasir.


Dan hal memalukan terakhir yang ia ambil dari troli itu adalah satu pack pembalut ku.


Saat ia mengambil barang itu, aku pun sampai sampai mengetakkan gigi ku. Merutuki hal konyol itu bisa terjadi.


Tetapi Pak Methew terlihat biasa saja. Acara belanja ku kali ini benar benar membuat ku panas dingin karna bertemu dengan atasanku. Bukan hanya seorang atasan tetapi pak Methew adalah pemegang saham terbesar di Hotel tempat aku bekerja, tepat nya dia adalah seorang CEO.


Welcome Metthew Wilson


__ADS_1



__ADS_2