
Maryam sangat senang Anin datang, ia sudah tidak tahan ingin menanyakan siapa wanita di foto yang dikirimkan Dwi tadi.
"Aku juga nggak tahu itu siapa, cuma emang Dwi tadi cerita kalau mas Langit sedang bersama wanita dan ada mas Willy juga ko di sana."
"Cemburu yah? Jangan cemburu-cemburu mas Langit tidak akan mampu berpaling darimu ko, masih jadi istri orang saja dia tungguin apalagi sekarang sudah jadi istrinya tidak akan mungkin membiarkanmu berpaling, Sayang." Anin mencolek pinggang Maryam ikut gemas dengan sikap ibu hamil yang satu ini.
"Aku penasaran saja siapa sih dia, kenapa senyumnya merekah banget depan mas Langit." Maryam masih tetap penasaran, andai ia masih bekerja di sana pasti tindak-tanduk Langit selalu dalam pengawasannya.
"Sudah ah jangan mikirin hal itu, nggak baik punya pikiran nething kaya gitu. Yang ada kalau kita mensugesti pikiran kita maka akan kejadian loh," ucap Anin mengingatkan.
"Iih jangan dong, lagian siapa juga yang mau mas Langit berpaling. Jangan sampai deh," imbuhnya lagi.
"Makanya jangan berpikiran seperti itu, jadi ibu hamil pikirannya harus positif ya biar auranya memancar sempurna." Anin tidak menunggui ucapan Maryam selanjutnya. Ia menyumpal mulut Maryam dengan makanan yang dibelinya tadi.
"Iya tapi, aku mmm." Mulut Maryam sudah penuh dengan kue kacang yang menyumpal mulutnya.
Anin tergelak, dasar ibu hamil ada-ada saja tingkahnya.
*
*
__ADS_1
*
*
*
Pukul 20.00 Langit baru sampai rumahnya, ia membelikan makanan untuk Maryam. Biasanya malam-malam istrinya akan mengendap-endap di dapur bak maling mencari apa saja yang bisa membuat perutnya kenyang.
Sampai di kamar, Langit melihat Maryam sudah tidur terlelap di bawah gelungan selimut.
Ia menggeleng seraya tersenyum kecil, diangkatnya kembali makanannya untuk di taruh di dalam lemari es. Usai menyimpannya Langit kembali lagi ke dalam kamar, membersihkan tubuhnya terlebih dahulu lalu menyusul Maryam masuk ke dalam selimut hangat yang sama.
"Jam berapa ini?" Maryam membalikan tubuhnya berhadapan dengan Langit.
Namun yang ditanya tidak merespon, baru 5 menit memejamkan mata Langit sudah tertidur. Malah terdengar sudah mendengkur halus.
Pasti kamu capek ya, Mas? Menatapmu seperti ini rasanya sangat nyaman sekali. Tapi kenapa wajahmu sangat tampan sampai aku tidak rela kamu berpergian ke luar rumah.
Maryam terus menatap lekat wajah suaminya seolah tidak pernah bosan dan tidak akan bosan. Pikirannya melayang pada saat dimana dirinya dengan Langit belum bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Begitu seriusnya dan tegasnya sikap Langit ingin memperistri dirinya.
"Alhmadulillah, Mas. Allah mempersatukan kita untuk bersama." Lirih Maryam.
__ADS_1
***
"Aaww, Mas." Maryam mengaduh sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
"Kenapa? Pinggangnya sakit lagi? Pinggangnya panas? Mau aku oleskan krim lagi?" Langit membuka nakasnya mengambil krim pereda nyeri yang biasa Maryam pakai.
"Nggak, Mas. Kata mama wajar kalau pinggangnya sakit, kan ketarik sama bayinya jadi berat katanya gitu."
"Hahaha, masa mama ngomongnya kaya gitu. Perasaan itu bukan gaya bahasa mama deh," ucap Langit.
"Iya, mama bilang gitu kemarin. Kalau gak percaya tanya saja sama mama." Bibir Maryam mengerucut, kesal karena Langit.
"Iya aku percaya. Jadi kalau nggak pakai krim kamu maunya pakai apa? Mau aku pijit dulu? Aku masih banyak waktu sebelum aku berangkat kantor." Diliriknya jam di atas nakas, masih ada waktu satu jam setengah sebelum dirinya ke kantor.
Maryam tersenyum, ia mendudukan dirinya di tepian ranjang membelakangi Langit untuk memudahkan Langit meminjatnya.
***
Bersambung..
Tadinya mau up banyak, tapi anak rewel terus sampai pikiran jadi ambyaarr...
__ADS_1