
Acara kumpul keluarga di resort Bogor kali ini jadi satu acara yang menyenangkan bagi keluarga Herlambang. Pasalnya semua anggota keluarga tampak menikmatinya, setiap pasangan punya cara sendiri menghabiskan waktunya di sana. Termasuk Aisya dan Zayn, walaupun Zayn terkesan dingin dan pendiam. Diam-diam ia sudah menyiapkan hadiah untuk Aisya.
"Ya Allah, Kak. Ini apa?" Aisya mencubit pipi suaminya gemas saking senangnya. Ia tidak menyangka Zayn akan menyialkan hadiah berupa satu set perhiasan untuknya di hari ulang tahunnya. Tak lupa Zayn juga menyuruh staff hotel menyiapkan cake cantik.
"Ma, bagus ya." Zayn memperlihatkan hadiah pemberian suaminya pada Ainun.
"Bagu, simpan baik-baik. Jangan menaruhnya sembarang, soalnya kamu suka teledor." Aisya hanya tersenyum menanggapi petuah mamanya. Bagi Ainun, Aisya itu teledor. Ia suka lupa menaruh barang-barang berharganya, makanya semua perhiasan Aisya selalu mamanya yang menyimpan.
"Nggak bakalan lupa lagi, Ma. Ais mau pake, masa mau dititipin di mertua." Puteri bungsungnya tertawa lepas.
Sementara, kebersamaan keluarga kecil Langit dan Maryam sangat terasa beda sejak kelahiran buah hati mereka. Langit menatap gemas putera mereka. Bayinya itu membuatnya merasakan hal diluar dugaannya sebagai seorang pria, jadi orang tua. Meski semua orang akan merasakan di posisi itu tapi Langit tidak pernah terpikirkan secepat ini.
"Uuh, kamu mau susu Sayang?" Maryam menggendong Baby Gala dan menyusuinya secara langsung memakai nursing cover berkarakter.
"Kamu jangan godain papa, Sayang." Langit merapatkan dirinya ke tubuh Maryam disela-sela istrinya menyusui bayi mereka.
"Menggoda apa?" tanya Maryam dengan mengerutkan dahinya.
"Itu, bayi kita nyusu sampai kedengeran gitu. Lapar kali ya," ucap Langit.
"Godainnya dimana coba, Mas. Anak kamu kan lagi nete," kata Maryam.
"Ya godain, kan susu kamu milik aku Sayang."
Maryam lantas memukul lengan suaminya sedikit keras.
"Iiih sejak kapan kamu mesum, Mas. Kamu ngomong jadi vulgar gitu." Mata Maryam melotot tajam.
"Sejak tadi malam, kamu mau lagi? Siap-siap saja, aku mau lagi." Bisiknya membuat bulu kuduk Maryam meremang.
Jujur, Maryam juga menyukai permainan Langit tadi malam. Meski terkesan terburu-buru, tapi ia suka. Seperti biasa suaminya sangat agresif tapi malam tadi suaminya sangat mendominasi permainan.
"Tadi subuh saja kamu mulai lagi, Mas." Maryam tersipu malu.
"Ya nggak apa-apa kan kamunya juga ikutan menikmati, benar kan?" tanya Langit sambil menaik-turunkan alisnya. "Sudahlah hanya bicara beginian saja membuatku rasanya ingin menarikmu sekarang juga. Lebih baik aku ajak Willy, berkeliling resort." Langit pergi bersama Willy melihat-lihat apa saja yang harus ditambahkan nanti di resortnya.
***
Untuk yang pertama kalinya sejak Maryam hamil, ia tidak pernah lagi menginjakan kakinya di Medika. Langit tidak ingin istrinya terlalu capek karena masalah pekerjaan, Langit ingin istrinya itu fokus dengan kehamilannya di rumah saja.
Awalnya Maryam menolak, ia akan merasa bosan menghabiskan waktunya di rumah saja. Tapi Langit punya persepsinya sendiri kenapa istrinya tidak mau melepaskan pekerjaannya. Langit mengira istrinya kekurangan uang, padahal ia memberikan semua fasilitas terbaik untuk istrinya. Uang di kartu baik debet maupun kredit belum lagi uang tunai yang selalu Langit berikan tiap bulan.
Maryam mengembuskan nafasnya bila mengingat hal itu.
"Siang, Bu." Beberapa karyawan Medika yang mengenalnya menundukkan kepalanya tanda menghormati posisinya sebagai istri Langit.
"Siang," balas Maryam. Ia langsung menuju lantai dimana ruangan suaminya berada.
"Eh, Bu. Selamat siang," Gia beringsut dari tempatnya mempersilahkan Maryam masuk dengan membukakan pintu terlebih dahulu.
"Jangan repot-repot." Maryam tersenyum lebar pada sekretaris suaminya itu.
Maryam bersyukur hal yang ditakutkannya jika suaminya memiliki sekretaris wanita adalah takut suaminya main gila dengan sekretarisnya itu. Tapi itu semua hanya pikiran kotornya saja, toh suaminya tidak pernah berbuat tidak senonoh seperti itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu datang nggak bilang-bilang." Langit terkejut lalu ia berdiri menyambut kedatangan istri cantiknya itu.
Maryam mengecup bibir Langit sekejap.
"Sama siapa ke sini?" tanya Langit melingkarkan tangannya di perut Maryam lantas menarik istrinya untuk duduk.
"Sama pak Ujang, aku ganggu gak Mas?"
"Ya ganggulah," jawabnya santai.
"Oh jadi gitu, kalau gitu aku pulang saja ya Mas." Maryam menyambar tasnya di atas meja.
"Eeh mau kemana? Aku bercanda ko, masa ada istri datang ke kantor gangguin. Yang ada aku malah senang, Gala lagi ngapain?"
Maryam tidak jadi merengut.
"Gala tadi aku berangkat sedang tidur, Mas. Habis di spa, kebiasaan sama bu Lisma di spa. Kalau rewel tinggal spa langsung dia tidur." Maryam tertawa mengingat kebiasaan bayi mereka.
"Bu, anda di sini." Willy datang membawakan dokumen penting untuk Langit.
Langit menerimanya dan membacanya sekilas.
"Oh ya, Sayang. Kamu mau ikut? Aku ada pertemuan siang ini dengan klien di restoran. Kita bisa sekalian makan siang bersama," ucap Langit.
"Mm boleh, Mas. Kliennya siapa?"
"Pak Muladi, Sayang." Langit tidak tahu pasti apakah yang datang itu Muladi sendiri atau diwakilkan Adinda kembali.
"Kemana?"
"Ada, kejutan." Langit mengerlingkan sebelah matanya menggoda Maryam.
"Kemana, Mas?"
"Ada, ayo." Langit menghela Maryam ke luar ruangannya lalu menuju lift. Langit ingin memberikan istrinya kejutan.
Semu mata memandang kemesraan mereka berdua, atasannya mereka terang-terangan bersikap mesra dengan menggenggam tangan istrinya ke luar lobby perusahaan.
Mobil Langit sudah menunggu di sana. Pak Lukman, sopir pribadinya sudah menunggunya di depan lobby siap mengantarkan mereka berdua kemanapun.
"Pak Lukman, ke showroom dulu ya." Pinta Langit pada sopirnya.
"Baik, Pak." pak Lukman tersenyum terlihat dari kaca spion depan.
Langit menggenggam tangan Maryam sejak tadi tidak ingin dilepaskan. Mereka seperti pasangan pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya.
"Ayo kita turun," ajak Langit tak kala mobil sudah sampai di tempat yang dimaksud setelah pak Lukman membukakan pintu mobil.
"Buat apa kita ke showroom, Mas. Mau ganti mobil? Mobil kamu kan masih bagus, Mas." Maryam menyelidik kiri dan kanan showroom yang menjual mobil-mobil mewah.
"Pak Langit selamat datang kembali," ucap seorang manager showroom itu menyambut kedatangan keduanya. Setelah menyalami keduanya, manager itu memperlihatkan mobil pesanan Langit.
"Ini, Pak. Sudah ada pesanan ada, sangat cocok untuk istri anda."
__ADS_1
Maryam melirik suaminya, ia tidak mengerti apa maksud manager itu.
Mobil Audi keluaran terbaru jadi pilihan Langit.
"Pak Langit anda memilih warna apa?"
"Saya lebih suka warna merah, sepertinya cocok untuk istri saya."
Maryam semakin tidak mengerti, kenapa suaminya menyebut namanya. Apa mobil itu untuknya.
"Mas," ucap Maryam meminta penjelasan.
"Ini mobil untuk kamu, kamu bisa pakai nanti kapan-kapan buat ajak jalan Gala." Langit tersenyum manis. Maksud Maryam bukan itu, pasalnya, ia melihat harga mobil pilihan Langit membuat kepalanya pening.
"Pak, saya memilih ini saja. Tolong nanti urus semuanya dengan asisten saya." Pinta Langit.
"Baik, Pak Langit. Terima kasih atas pembeliannya, saya akan segera menghubungi nomor asisten yang anda berikan."
Usai menyelesaikan urusannya di showroom, Langit dan Maryam menuju tempat selanjutnya. Restauran jepang yang tak jauh dari tempatnya semula.
Utusan Mulyadi Grup rupanya sudah terlebih dahulu datang. Sesuai dugaan Langit, Adinda lagi yang mewakili ayahnya. Untungnya Langit membawa serta Maryam bersamanya jadi tidak ada alasan untuk Adinda berlama-lama dengannya.
Adinda cepat-cepat memasukan make upnya ke dalam tasnya saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat dan pintu di geser. Senyumnya merekah tak kala melihat Langit datang tapi senyumnya kembali surut melihat Maryam muncul bersama Langit.
Sial, kenapa dia ikut datang.
Seperti biasanya Adinda pura-pura berakting, ia menyambut senang kedatangan Langit dan Maryam.
"Aku kira kamu tidak ikut, Maryam." Adinda tersenyum palsu.
"Iya, Mas Langit yang mengajaknya. Aku tidak tahu ada pertemuan dengan kamu," ucap Maryam.
"Ah, iya. Papa lagi ke Singapur mendadak tadi pagi sedangkan kata papa pertemuan ini tidal boleh ditunda. Soalnya respon alat-alat yang kami pesan dari Medika mendapatkan sambutan baik, otomatis kami juga mendapatkan untung. Jadi pertemuan kali ini, pihak kami ingin memesan lebih banyak lagi."
Merasa dirinya tidak ada kepentingan dengan urusan bisnis suaminya dengan Adinda. Maryam ingin menungguinya di ruangan sebelah.
"Nggak tunggu saja di sini, kami tidak akan lama. Benar kan Bu Adinda?" Mata Langit menyipit ingin melihat ekspresi seperti apa yang ditunjukan wanita itu.
"Mm iya, aku masih ada urusan lain."
Langit melihat Adinda menghela nafas berat, pasti Adinda sangat kesal niatnya mengajak Langit makan siang harus gagal karena penolakan Langit secara halus.
Setelah urusannya selesai, tanda tangan kontrak dan lain-lainnya. Adinda undur diri terlebih dahulu dengan perasaan dongkol dalam hati.
Sudut ujung bibir Langit terangkat, ia puas melihat kekesalan Adinda.
"Kamu kenapa sih, Mas. Senyum-senyum gitu, aku jadi curiga." Maryam menyelidik.
"Nggak ada, kenapa harus curiga. Sudah kita makan siang ya, habis ini kita langsung pulang mau ketemu Gala."
"Iya, Mas." Maryam ikut tersenyum melihat ekspresi suaminya yang sedang senang.
***
__ADS_1