BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 2


__ADS_3

Siapa yang tidak mengenal wanita cantik berhijab di Medika yang berada di divisi produk. Namanya Anindya, wanita cantik yang baru diketahui masih satu ikatan keluarga dengan keluarga besar Herlambang itu berasal dari Bogor.


Semasa kuliah sudah banyak pria yang mendekat, salah satunya anak seorang mandor di desanya. Namanya Arik, atau lengkapnya Atalarik. Pria tampan tapi arogan.


Mereka dikenalkan ayahnya Arik yang menyukai Anindya. Ayahnya Arik sangat baik dan terpandang, beliau tidak segan membantu tetangganya yang kesulitan. Suatu hari sawah Amira gagal panen akibat hama yang menyerang banyak sawah di desa termasuk sawah miliknya.


Musim tanam berikutnya Herman membantu Amira dengan memberikan obat hama untuk penggarapan sawahnya nanti berharap hama tidak lagi menyerang. Pada musim panen benar saja ia bisa memanen padinya seperti sedia kala, merasa berhutang budi Amira memberikan makanan hasil olahan masakannya sendiri.


Di desa tempat tinggalnya sudah biasa memberikan makanan sebagai ucapan terima kasih. Itu juga dilakukan Amira, ia menyuruh Anin mengantarkan makanannya ke rumah mandor Herman.


"Nin, tolong kamu antarkan makanan ini buat pak Herman ya. Beliau kan sudah bantu Umi di sawah, sekarang padi kita tidak kena hama lagi. Bilang banyak terima kasih dan sampaikan terima kasih juga untuk bu Hermannya ya." Titah Amira menyerahkan rantang satu susun berisi nasi dan lauk pauknya.


"Pak Herman yang rumahnya tingkat itu ya, Umi?"


"Iya, yang di ujung jalan itu. Kamu bawa motor saja biar cepat," ujar Amira.


"Iya Umi." Sebagai anak yang baik dan penurut, Anin mengantarkan makanan ke rumah mandor Herman.


Rumahnya paling bagus di antara rumah-rumah lain di sekitarnya. Keluarga mandor Herman terkenal baik tapi satu yang membuat tetangga tidak menyukainya, puteranya mandor Herman. Arik terkenal arogan dan playboy.


Anin menekan tombol bel di gerbang rumah, terdengar teriakan dari dalam. Bu Herman sendiri yang menyambut kedatangan Anin.


"Eh ada Anin, puterinya ibu Amira ya?" tanya bu Herman ramah.


"Iya, Bu. Saya datang kemari di suruh umi mengantarkan ini sebagai ucapan terima kasih karena sawah umi bisa panen lagi seperti biasa," ucap Anin.


"Ah itu hanya kebetulan saja, padahal tidak usah repot mengirimkan banyak makanan seperti ini. Bilang sama bu Amira, terima kasih banyak. Nanti tunggu dulu ya, pindahin dulu makanannya. Ayo ikut masuk dulu." Bu Herman menghela Anin masuk, namun Anin hanya menungguinya di teras rumah sambil melihat ikan-ikan koi sangat banyak di kolam.


Tak lama suara klakson mobil terdengar nyaring terus-menerus memekanan telinga Anin.


"Duh, berisik!" Anin melihat ke kiri dan kanannya tidak ada orang untuk membukakan gerbang. Dari pada gendang telinganya sakit, Anin berinisiatif membuka gerbang rumah.


"Lama amat sih, pembantu baru ya?" Teriak Arik membuat Anin terkesiap saat ia turun dari mobil.


"Arik! Yang sopan kamu!" hardik bu Herman yang sudah kembali membawa rantangnya.

__ADS_1


"Nak Anin, maafkan Arik ya. Dia memang orangnya seperti itu. Arik sudah kelewatan," ucap bu Herman merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu saya pamit ya," ucap Anin menundukan kepalanya pada bu Herman.


Arik yang arogan hanya menatap Anin tidak suka, melihat Anin meninggalkan rumah mengendarai motornya yang terparkir di luar gerbang.


"Arik, kamu selalu saja bersikap kurang sopan. Dia itu tetangga kita. Jangan lagi berkata seperti itu, Mama tidak suka, untung papa kamu tidak ada di rumah." Tegur bu Herman jengkel. Bu Herman takut sikap Arik itu tidak akan ada yang suka. Arik terlalu banyak bergaul di luaran dengan teman-temannya yang kurang ajar semua.


Anin bersungut-sungut ria sambil mengendarai motornya, sikap Arik yang kurang ajar membuat hatinya dongkol.


"Dasar, anak kurang ajar! bu Herman saja sangat sopan ini anaknya nggak makan bangku sekolah kali ya!" keluh Anin. Sampai di rumah yang berjarak dekat, Anin langsung masuk ke kamarnya. Rantangnya ia simpan saja di teras rumah.


***


FLASHBACK ON


Anindya POV


Namaku Anindya Larasati, umurku 22 tahun. Aku sekarang sedang menyelesaikan kuliahku di salah satu universitas negeri di Bogor. Aku merupakan anak tunggal. Ayahku sudah lama pergi meninggalkan umiku sejak aku masih dalam kandungan.


Hidupku mulai merasakan ketidaknyamanan lagi saat bertemu dengan pria arogan bernama Atalarik. Pria tampan berhati iblis.


Kenapa aku bisa memanggilnya iblis? Karena kelakuannya lebih mirip iblis. Sejak pertemuan pertemuan pertama kami yang sangat-sangat tidak menyenangkan. Dimana telingaku menangkap dia memanggilku dengan pembantu baru di rumahnya. Baru jadi anak mandor saja membuatnya besar kepala.


Hingga suatu malam di minggu yang sama, umi datang membawakanku kabar buruk. Aku dijodohkan dengan Arik!


***


"Anin, kamu pikirkan dulu ya. Siapa tahu Arik jodoh kamu."


Jujur, ucapan umi membuatku tidak habis pikir. Kenapa umi sangat bersikeras menjodohkanku dengan Arik. Padahal umi tahu kalau Arik orangnya seperti apa. Ucapan umi tadi itu sudah yang kesekian kalinya sejak pak Herman dan bu Herman datang ke rumah.


Arik memang tampan, ia kemana-mana selalu mengendarai mobilnya dan aku akui di usia Arik yang tergolong muda sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari kebun teh miliknya. Meskipun tanah kebunnya tidak seluas yang dimiliki juragannya pak Herman tapi setidaknya dia tidak berpangku tangan pada kedua orang tuanya lagi.


"Nin," ucap umi menyadarkan lamunanku tentang Arik.

__ADS_1


"Umi, Anin kan masih belum selesai kuliah. Anin belum terpikirkan menikah," balasku.


Aku melihat umi menghela nafas berat. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran umi sekarang.


"Nin, kamu sebentar lagi kan selesai kuliahnya. Sebentar lagi kan kamu sidang, Umi rasa kamu sudah cukup untuk menikah." Dan lagi umi membuatku malas. Kenapa harus dengan Arik? Pikirku pria macam Arik tidak ada bedanya dengan fuckboy.


Seminggu-seminggunya Arik pasti berganti-ganti wanita. Siapa yang tidak mengenal Arik.


"Tapi, Umi."


"Nin, kita temui dulu Arik ya. Siapa tahu kamu suka. Kan jodoh siapa yang tahu." Umi menepuk pundakku lalu bergegas pergi. Aku tahu pasti umi menghindariku demi tidak mendapat penolakan lagi.


Umi mengira aku tidak mengenal Arik, sejak hari dimana umi menyuruhku mengantar makanan. Sejak saat itu pikiranku selalu dipenuhi kekesalanku akan sosok bernama Arik itu.


Malam minggu dipilih keluarga Arik untuk bertemu denganku. Umi sangat antusias sekali, bahkan umi membelikanku baju baru demi bertemu dengan Arik. Sekali lagi aku tidak paham kenapa umi sangat bersemangat sekali.


Aku hanyalah mahasiswi biasa di kampus, cara berpakaiankupun pada umumnya sama dengan mahasiswi lainnya. Memakai kaos dan jeans dalam keseharianku tidak ada heels ataupun tas mewah bertengger di pundakku.


Kalau saja umi tidak membelikan baju baru, mungkin malam ini aku pakai jeans dan kaos seperti biasanya dengan hijab instanku. Aku cukup terpana melihat gamis yang umi belikan untukku. Tidak terlalu ramai dengan hiasan tapi terkesan anggun dan modis.


"Masya Allah anak Umi cantiknya, kamu singkirkan ya baju-baju ketat kamu ini. Percuma pakai baju tapi ketat kaya gak pakai baju."


"Iya Umi, nanti yah kalau Anin sudah banyak koleksi hijabnya." Aku langsung mengamankan jeans dan kaos kesayanganku agar tidak dibuang umi.


Umi mendelik kesal padaku. Aku selalu punya sejuta cara.


Kami berdua naik motor ke restauran yang sudah ditunjukan pak Herman.


Di tempat yang sudah direservasi, aku melihat punggung pria menyebalkan itu dari belakang.


Umi dan aku langsung menyalami kedua orang tua Arik. Kemudian mataku bertatapan dengan mata elang milik pria menyebalkan itu.


Cih, rasanya aku ingin melahapnya habis-habis sampai tak bersisa.


***

__ADS_1


__ADS_2