BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Kebelet Nikah


__ADS_3

Maryam mondar-mandir sambil memegang ponselnya. Menunggu kabar dari Anin yang sedang bicara berdua dengan Willy usai pulang kerja.


Anin mengabarinya kalau saat ini dirinya sedang di depan lobby kantor. Tak sengaja mereka bertemu, Anin meminta Willy kalau memang serius mengajaknya ta'aruf harus datang menemui ibunya beserta keluarga Willy juga.


Maryam bernafas lega, Anin sudah menjalankan maksud dan tujuannya. Maryam yakin Willy pasti akan datang secepatnya dengan keluarganya secepatnya.


Kalau kata Langit, Willy sekarang ini menunjukan wajah-wajah kebelet pengen nikah. Setiap hari selalu menanyai Langit, bagaimana rasanya punya istri sampai Langit tak bisa konsen mengerjakan pekerjaannya.


"Sayang, kenapa kenapa senyum-senyum sih?" tanya Langit yang baru saja datang dari kantor, ia melepas jas lalu melonggarkan dasinya.


"Mas, nggak sadar kamu sudah pulang. Ini loh masa Anin bicara hal serius sama Willy di lobby sih, kayak nggak ada tempat lain saja," Maryam menunjukan chat Anin pada suaminya.


"Ya, Anin sama kamu kan setipe. Kalau diajak berduaan itu pasti nggak nyaman." Langit menarik tangan Maryam untuk duduk bersamanya di sofa.


"Iya sih, tapi kan mereka itu membicarakan hal penting. Sudah seharusnya di tempat yang nyaman. Jadu nggak sabar gimana mereka kalau sudah nikah ya." Maryam jadi membayangkan keduanya sebentar.


Menurutnya keduanya punya karakter yang sama jadi akan saling mengerti satu sama lain.


"Aku rasa Willy harus segera menikahi Anin kalau tidak pekerjaan aku di kantor bakalan berantakan. Pertama kali dia ikut aku kerjanya hanya melamun terus. Aku kan jadi emosi." Cerita Langit tentang kejadian hari ini.


"Mas, jangan terlalu keras sama Willy. Kamu kaya nggak ngerasa saja sih kalau sedang jatuh cinta itu gimana rasanya,"

__ADS_1


"Sayang, gimana aku nggak emosi kalau nama klien di surat kontrak jadi nama Anindya harusnya kan jadi nama Natasya.


"Hahahaha." Maryam tertawa renyah, menggelikan memang tingkah Willy sampai salah gitu.


Ponsel Langit berdering, ia menekan tombol hijau dan menempelkan di telinganya.


"Sudah sampai mana? Nanti supir jemput tunggu saja," ucap Langit.


"Siapa, Mas?"


"Aisya, dia baru sampai di bandara. Anak itu katanya liburan cuma tiga hari tapi malah seminggu lebih."


***


Tampak sang ibu dan adik perempuannya sedang menuruni eskalator di Gambir. Sudah lama juga Willy tidak pulang ke Bandung karena urusan pekerjaannya yang banyak, ia hanya menyapa ibunya lewat video call saja kalau rindu sedang menyapa. Pria berkacamata itu juga punya perasaan rindu sebagai anak pada ibunya apalagi kalau ia sedang sakit. Bukan ingin ke dokter tapi Willy percaya kalau sudah bertemu ibunya pasti penyakitnya akan langsung lari.


"Bu." Sapa Willy mencium tangan ibunya dengan takzim.


"Apa kabar Ibu?" tanya Willy


"Baik, Kak. Kakak apa kabarnya?"

__ADS_1


"Baik, Kakak baik Bu."


"Kak." Winda, adiknya Willy yang sekarang baru lulus kuliah mencium tangan kakaknya.


"Dek, sini kopernya." Willy membantu membawa koper lalu menariknya ke luar stasiun. Mobilnya terparkir di sana, mobil hitam yang bisa memuat orang berkapasitas banyak. Mobil hadiah dari Langit sebagai dedikasinya selama ini.


"Ibu sama Adek mau makan dulu? Kalau mau kita mampir ke tempat makan saja dulu ya," ucap Willy menawari keduanya.


"Ibu mau nyari makanan sunda, yang ada urapnya sama sambel." Pinta ibunya secara khusus. Masih sama tidak berubah.


Willy mengangguk setuju, keluar dari stasiun tak jauh dari sana ada rumah makan khas sunda. Di sana menjual berbagai macam makanan dari tanah sunda itu.


Ibunya memesan jengkol, lalapan dan sambel sebagai menu utama yang tak boleh terlewatkan. Willy heran kenapa ibunya tidak memesan makanan khas jakarta saja, padahal di Bandung juga tidak pernah melewatkan yang namanya lalapan dan sambel.


"Ibu kan habis puasa satu minggu nggak putus, sebentar lagi puasa ramadhan. Ibu belum ganti puasa tahun lalu akibat sakit waktu itu, lagian ibu juga puasa buat anak-anak ibu juga apalagi denger kamu mau lamar anak orang. Sekalian saja." Sekarang baru paham kalau ceritanya seperti itu.


"Adek sama Ibu belum sempet sarapan, Kak. Ibu sih mendadak ajaknya, pagi-pagi langsung siapin baju langsung berangkat." Celoteh Winda.


"Loh, bukannya Kakak kirim tiketnya semalam ya. Ko mendadak siapin bajunya," ucap Willy.


"Yaitu salahnya Ibu, Ibu kebiasaan kalau hp itu nggak dibuka lagi, baru baca pesan dari Kakak tadi subuh langsung deh Ibu riweuh."

__ADS_1


Willy tergelak, sifat ibunya memang ajaib selalu membuat kehebohan sampai adiknya dibuat kesal.


***


__ADS_2