
Semenjak kepergian Faiz, Kanaya lebih banyak berdiam diri di dalam kamar. Sesekali terdengar isakan bahkan erangan, perempuan itu menangis dalam pilu. Masih tidak mempercayai suaminya akan begitu cepat meninggalkannya. Lupa mandi dan makan, Kanaya melewatkannya begitu saja. Kasihan melihatnya sekarang, begitu tak berdayanya. Hampa terasa.
"Mas, aku ingin menyusulmu." Kanaya menatap foto pernikahannya yang menempel di dinding kamar, bulir air mata kembali menetes di pipinya seolah tak ingin berhenti keluar.
Laila dan Fani saling bertatapan satu sama lain, Fani sebenarnya kasihan melihat keadaan Kanaya yang sekarang. Berbanding terbalik dengan Kanaya yang dahulu dikenalnya.
"Kak Nay nggak mau makan lagi, Bu?" tanya Fani yang melihat Laila keluar membawa kembali nampan yang berisi makan malam untuk Kanaya.
Laila menggeleng lemah, entah harus bagaimana membujuk Kanaya. Setiap hari Juwita datang menengok Kanaya dan melihat apakah anaknya itu sudah merasa baikan.
"Ini sudah dua minggu mas Faiz pergi, apa kita bawa kak Nay ke psikiater saja ya Bu. Siapa tahu kak Nay butuh mengelurkan semua isi hatinya." Saran Fani
"Psikiater? Apa tidak terlalu berlebihan kalau ke psikiater? Ibu kira wajar-wajar saja kalau Kanaya sangat terpukul, jadi nggak usahlah." Laila menolak, ia menyimpan kembali nampannya ke dapur dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk membereskannya kembali.
"Tapi ini udah dua minggu loh, Bu. Nggak wajar juga ngurung diri di kamar dua minggu. Kak Nay itu udah gak punya semangat hidup, pelan-pelan coba Ibu bujuk siapa tahu mau." Fani bersikeras karena bagaimanapun Kanaya harus melanjutkan kehidupannya secara normal.
__ADS_1
"Iya nanti Ibu bicarakan baik-baik," ucap Laila.
***
"Bu Bos, melamun saja? kenapa? Apa pak Langit tidak ngasih jatah ya semalam?" goda Dwi pada Maryam yang sedari tadi hanya melamun saja sambil menopang dagu. Malah pekerjaannya ia biarkan begitu saja.
"Ah jatah apaan sih, Wi? Nggak ko, aku lagi kepikiran sesuatu saja ko. Bukan karena mas Langit," jawab Maryam, pipinya merah merona karena Dwi menyindirnya tentang jatah semalam. Maryam malu sendiri karena semalam ia sendiri yang menggoda Langit hingga mereka berdua bekerja pada tengah malam.
"Ciee, mas Langit nih sekarang panggilannya. Euuhhh... hareudang, hareudang, hareudang, panas, panas. Kalian ini pasangan suami istri selalu bikin iri saja kaum jomblo di sini. Mau dong aku panggilnya 'mas' juga ya." Dwi bergelayut manja di pundak Maryam.
"Eeiitts gak boleh, cuma aku saja yang boleh panggil 'mas' istri sahnya." Maryam kemudian terkekeh melihat Dwi mengerucutkan bibirnya.
Kata-kata Dwi membuat Maryam kembali teringat Faiz yang telah tiada.
"Mantan suamiku sudah meninggal, Wi." Sontak Dwi membelalakan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Aa-ppa meninggal? Faiz? Kenapa? Kapan?"
"Iya mas Faiz meninggal karena penyakit kanker, dua minggu yang lalu. Aku kasihan sama Kanaya, pasti dia sangat sedih sekali." Maryam menghela nafasnya, membiarkan dadanya dipenuhi oksigen.
"Ya ampun, kenapa kita telat tahu ya. Kasihan juga sih, tapi justru kamu beruntung karena tidak bersuamikan dia."
Maryam hanya tersenyum, semua yang terjadi padanya, pada Faiz atau Kanaya semata-mata karena takdir. Jika takdir sudah berkehendak tidak akan ada yang bisa menghindarinya. Maryam tahu betul akan itu.
***
Bersambung..
Mana komennya
Like
__ADS_1
Vote..
Hihi dikit dulu ya readers...