
Haaii my beloves readers, belahan jiwa sudah sampai episode 66. Itu artinya ada 19 episode lagi menuju tamat insha allah kalau tidak ada perubahan ya.. Dibuat tamat karena tidak mau ceritanya jadi meleber kemana-mana dan kalaupun nanti ada perubahan paling dibuat extrapart. Sekilas info.
***
"Kenapa Kakak menghilang selama ini?" tanya Maryam dengan bibir bergetar.
"Cih, bukankah kamu senang aku hilang dari hidupmu, dari hidup ibu dan keluargamu itu. Dan aku tidak percaya Langitpun kamu rebut dari tanganku!" erang Zoya masih dikuasai amarahnya.
Mata Zoya menyalang laksana api yang berkobar.
"Kak, aku tidak tahu mas Langit itu mantan pacar Kakak," ucap Maryam.
"Sekarang kamu sudah tahu kalau Langit itu bagian dari hidupku, maukah kamu melepasnya demi Kakakmu ini?" tanya Zoya dengan segala kelicikannya.
Maryam tertawa sarkas.
"Jadi kalau menyangut mas Langit, Kakak berubah baik dan menganggapku adik? Kak, kenapa sejak dulu Kakak selalu meminta apa yang menjadi hak orang lain? Maaf Kak, mas Langit bukan barang. Dia adalah suamiku, kami tidak mungkin berpisah!" Tegas Maryam lantang tak ingin dibantah.
"Kamu? Beraninya kamu ya!" Zoya masih menatap Maryam dengan tatapannya yang sulit ditebak.
Ponsel Maryam terus-terusan berbunyi dan itu merupakan panggilan dari Langit. Karena tak ada jawaban Langit menghubungi pak Ujang, sopir yang mengantar Maryam.
__ADS_1
"Pak, istri saya sekarang ada di rumah lamanya?"
"Iya, Den. Ada di rumah lama sama non Zoya." Jawaban pak Ujang membuat Langit panik seketika, Langit takut Zoya akan berbuat nekat dan mencelakai istrinya. Ia memacu kendaraannya lebih cepat dari semula, sambil ia menghubungi Ibra dan menyuruhnya datang. Agar Ibra dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa Zoya. Untung mereka bertukar nomor siang tadi di kantor. Langit mengirim alamat rumah lama Maryam pada Ibra agar secepatnya datang.
Zoya meneriaki Maryam dengan kata-kata tak pantasnya, menyebut Maryam jalang, wanita penggoda, perebut laki orang dan kata tak pantas lainnya. Maryam tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, kenapa dari dulu Zoya selalu tak menyukainya.
"Cukup Kak, Kakak sudah keterlaluan!" Teriak Maryam.
Pak Ujang tidak bisa tinggal diam, bila didiamkan ia takut Zoya bertindak kasar pada istri majikannya itu.
"Non Zoya, tolong jangan kasar-kasar pada Non Maryam. Kasihan Non," ucap pak Ujang.
"Ini bukan urusanmu!" kata Zoya.
"Den Langit," ucap pak Ujang Girang. Langit datang tepat waktu.
Langit turun dari mobilnya dan segera menghampiri pak Ujang.
"Den, kasihan Non Maryam dimarahi terus sama Non Zoya." Adunya.
"Saya akan mengurusnya, Pak." Langit segera menghampiri keduanya di dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang." Langit berjalan menghampiri istrinya.
Zoya tersenyum kecut seolah mengejek.
"Mas," Langit memeluk Maryam dan menatap tajam Zoya.
"Langit, hah. Aku tidak percaya, ayah dari anakku adalah adik iparku. Seperti judul sinetron hahaha." Zoya mengejek sambil tepuk tangan.
"Adik ipar? Apa maksudnya, Sayang?" tanya Langit tak mengerti.
"Zoya adalah kakakku, Mas." Jawab Maryam.
Langitpun hampir tak percaya, ia jadi teringat akan persamaan keduanya. Mereka sama-sama berbola mata hazel.
"Dan kamu Zoya, aku tekankan padamu. Jangan kamu bilang Arsy adalah anakku sementara aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali. Kamu jangan mencoba mempengaruhi otak istriku demi membuat hubungan kami renggang karena kami tidak akan permah tergoyahkan oleh apapun. Tidak peduli siapa dirimu!" tekan Langit.
"Kalian benar-benar pasangan memuakan! Oke aku akui rencanaku memakai Arsy memang gagal. Tapi aku akan tetap menyerukannya sampai publik termakan omonganku, hahahha." Zoya tertawa lepas seakan tidak ada beban. Dan dari luar Ibra menyaksikan sendiri kebohongan tentang Arsy. Dia lega bisa mengetahuinya dari mulut Zoya sendiri.
"Kamu kalah Zoya," ucap Ibra.
***
__ADS_1
Bersambung..