BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Zayn dan Aisya (1)


__ADS_3

Haaii readers zeeyyyeenk, part ini otor mau ceritain kisah awal pertemuan Aisya dan Zayn ya.. Biasa cerita selang-seling biar tidak monoton... Jadi di belahan jiwa ini tokoh utamanya tetap Maryam dan Langit tapi ada juga tokoh lain yang juga penting yang punya pilihan pasangan mereka pada akhirnya jadi belahan jiwa sendiri.


***


Menginjak tahun ke 3 Aisya berkuliah di London tanpa sengaja ia bertemu dengan Zayn. Pria tampan berlesung pipit itu sama sekali tidak mengindahkan kehadiran Aisya. Sebuah cafee di pusat perbelanjaan yang menjadi tempat mereka bertemu. Saat itu Aisya dan teman-temannya sedang menghabiskan waktu bersama sehabis nonton. Gaya Aisya yang centil membuat Zayn memandangnya aneh.


Salah satu teman yang sedang bersama Zayn ternyata adalah teman dari Aisya. Mereka sama-sama orang Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia di London.


"Eh Ken," ucap Lissa teman yang sedang bersama Aisya.


"Lis, sama siapa?" tanya Ken.


"Ini sama Aisya dan Uli. Kamu lagi sama siapa itu?" Mata Lissa memandang ke arah Zayn yang sedang menikmati kopinya.


"Oh ini Zayn, sahabat aku. Kenalin," ucap Ken pada Zayn dan Lissa.


"Zayn,"


"Lissa, eh kenalin ini teman aku juga. Aisya,"


Aisya tersenyum ramah sebentuk sapaan pada Zayn, sayangnya Zayn tetap menampilkan wajah d.atar.


Sombong amat ini orang.


"Kalau begitu kita gabung sama-sama saja ya," Ken memindahkan minuman milik Lissa dan teman-temannya ke mejanya.


Sebagai orang yang tidak bisa diam, Aisya terbilang paling cerewet di sana. Setiap Aisya bicara mata Zayn menatapnya tidak suka. Entah karena kupingnya mendadak sakit karena suara Aisya yang cempreng.


"Aisya, kamu kapan pulang ke Jakarta?" tanya ken.


"Nggak tentu sih, kadang paling cepat tiga bulan sekali paling lama 6 bulanlah soalnya mama suka nyuruh pulang kalau ada libur bentar juga." Aisya bercerita dirinya disuruh pulang sang mama tapi malah mendapatkan omelan dari sang papa. Kalau Aisya sering pulang bisa-bisa dirinya tidak fokus belajar.

__ADS_1


"Anak mama," ucap Zayn pelan tapi masuh dapat didengar Aisya.


"Apa, maaf Mas apa tadi bilang?" tanya Aisya dengan nada tidak suka.


"Mas? Siapa yang kamu panggil Mas?" tanya Zayn mematik amarah Aisya.


"Loh bukannya kamu tidak laki-laki, apa salah aku panggil Mas. Atau kamu mau aku panggil Mbak?" Aisya menantang Zayn.


Ken, Lissa dan Uli jadi bingung kenapa suasana tiba-tiba jadi kacau. Sikap dingin Zayn memicu pertengkarannya dengan Aisya.


"Saya tidak suka ada orang baru kenal tapi sok akrab! Ken, aku pulang duluan ya." Zayn menepuk pundak Ken berpamitan padanya. Perlahan punggung Zayn mulai menjauh berlalu.


"Iih amit-amit deh kalau aku punya cowok kaya dia. Biar kata dia ganteng tapi sikapnya kaya gitu ogah!" Gerutu Aisya sambil bersidekap.


"Maaf ya, Aisya. Zayn memang sikapnya seperti itu. Tapi hatinya baik loh mungkin hari ini Zayn sedang tidak mood. Harap maklum ya." Aisya mengangguk paham. Yang salah kan Zayn bukan Ken.


Aisya berdo'a semoga tidak bertemu lagi dengan pria seperti itu.


Setahun berlalu, mendekati hari wisudanya Aisya tidak sengaja bertemu kembali di acara ulang tahun temannya. Yang kebetulan juga teman Aisya dan Zayn, Mahesa. Acara diadakan di sebuah hotel mewah, keduanya berpapasan saat akan mengambil cake yang sama. Aisya terlonjak kaget, tangannya bersentuhan dengan Zayn.


"Kamu," ucap Aisya.


"Siapa?"


Aisya kembali terpancing emosinya, bisa-bisanya Zayn bertanya siapa. Padahal mereka pernah bertemu satu tahun yang lalu di caffe dan kesan menyebalkan Zayn tidak akan pernah hilang dari ingatannya.


"Dasar aneh!" Aisya berbalik badan meninggalkan Zayn.


"Hei, Aisya." Aisya menghentikan langkahnya mendengar namanya disebut pria menyebalkan itu.


"Ada apa?" tanya Aisya ketus.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya menyebut namamu saja." Zayn melenggang santai meninggalkan Aisya yang melongo seraya membawa cakenya.


"Astagfirulloh, makhluk apa dia? Kenapa dia sangat menyebalkan sekali.


Jujur Aisya sangat kesal atas respon pertamanya bertemu Zayn ditambah kesan kedua tambah menyebalkan. Alamat Zayb tidak akan pernah bisa dilupakan dari ingatannya seumur hidup.


"Kenapa, Aisya? Kamu kesal lagi sama Zayn?" tanya Lissa yang melihat Aisya dan Zayn seperti bercakap-cakap. Bila dilihat-lihat wajah Aisya merengut.


"Iya, dia itu orang aneh. Heran baru pertama kali ketemu orang kaya dia. Itu orang gak pernah ngerasain kasih sayang kali ya, nyebelin banget." Aisya merutuk kesal.


"Awas dari benci jadi cinta loh," ujar Lissa.


"Amit-amit jabang baby deh, jangan sampai. Masa depan suram dapet cowok kaya dia." Aisya mengedikkan kedua bahunya menolak pernyataan Lissa.


"Eh jangan gitu, biasanya kalau benci, kesal, menolak nanti berjodoh loh. Tante aku saja sama omku ya itu kaya kamu sama Zayn. Benci-benci lama-lama jadi cinta. Dengerin, namanya jodoh itu jorok. Kita nggak pernah tahu sama siapa kita menikah," ucap Lissa pada Aisya.


"Aduh Non, gimana aku mau berjodoh. Kenal deket saja nggak, orangnya juga nyebelin kaya gitu. Kalau bisa mendingan nggak deh." Tolak Aisya.


"Yakin? Kamu tahu nggak siapa Zayn? Nih aku kasih tahu, cowok dengan tampilan kaya gitu itu sedang menyelesaikan kuliah S2nya di Madinah, dia itu calon dosen ilmu agama. Kata Ken, Zayn seorang pria yang rajin ibadah. Aduh kalau Zayn mau sama aku, gak bakalan aku tolak sumpah. Zaman sekarang jarang loh ada cowok kaya gitu, palingan kita ketemu santri atau lulusan pesantren. Eh iya Zayn lulusan pesantren, SMA nya sambil pesantren dia." Ungkap Lissa panjang lebar.


Zayn mencuri-curi pandang melihat Aisya yang sedari tadi hanya memegangi cakenya tanpa memakannya. Zayn berpikir apa yang sedang Aisya pikirkan sampai wajahnya sangat serius berbicara dengan Lissa.


"Aisya Jennahara Herlambang, anaknya pak Adam Herlambang. Keluarganya punya perusahaan di bidang kesehatan, Rumah Sakit dan kakaknya pak Langit salah satu pengusaha tersohor menggantikan ayahnya. Minat sama Aisya?" Ken menggoda arti tatapan Zayn pada Aisya.


"Apaan sih? Cewek cerewet kaya dia mana masuk kriteriaku. Bisa-bisa berantem terus tiap hari karena beda," sangkalnya.


"Eeiiitts, perbedaan itu indah loh Bro. Kalau lurus-lurus saja nggak bakalan indah, gak ada tantangannya." Ken merangkul Zayn sambil ikut menatap Aisya. "Pikirkan sebelum dia balik ke Jakarta, dan kamu juga balik ke Madinah kan?" imbuh Ken.


Zayn bernafaf berat, entah dalam hatinya apakah sesuai yang diucapkan Ken atau malah sebaliknya.


***

__ADS_1


Bersambung...


Otor minta komen, like dan votenya yaaa ..


__ADS_2