
"Aduh Non, ini wajahnya ko mirip Den Langit ya Den Langit ya semuanya." Bu Lela dan Bu Marni melihat wajah tampan Baby Gala di kamar Maryam.
"Iya Bu diborong semua wajah Papanya itu," ucap Maryam membuat Langit tersenyum.
"Non, nanti jangan keseringan digendong-gendong ya. Biar nggak kebiasaan, nantinya rewel pengen digendong terus soalnya sudah nyium bau tangan kita kata orang tua sih gitu." Bu Marni angkat bicara.
"Masa sih, Bu? Jadi jangan keseringan digendong-gendong ya."
"Iya Non, kalau sudah kebiasaan mau ke kamar mandi saja bakalan susah."
Maryam manggut-manggut, pelajaran baru untuk Baby Gala.
"Maryam, nanti Baby Gala nggak boleh dulu keluar ya sampai 40 hari. Terus nanti biar Mama yang siapin buat aqiqahnya ya," ucap Ainun bersemangat.
"Kalau untuk aqiqah biar Langit saja, Ma. Langit besok mau cari kambingnya. Mama siapin cateringnya saja seperti biasa," ucap Langit disetujui Ainun.
"Oke, nanti Mama siapin cateringnya. Maryam, kalau Baby Gala nangis dan rewel terus. Bangunin Mama saja ya, biar Mama yang jaga. Kamu banyakin saja ASIPnya ke dalam botol nanti biar gampang nggak harus perah-perah lagi dan kamu bisa tidur nyenyak," ucap Ainun penuh pengertian.
"Nggak ah, Ma. Masa Mama bangun akunya tidur," kata Maryam.
"Nanti kalau sudah kerasa capeknya, ngantuknya belum rewelnya pasti kamu bakalan minta bantun. Minimal Langit yang gentian nanti kalau Langit tidak bangun, Mama bangunin." Ainun keukeuh ingin dibangunkan tengah malam kalau Baby Gala rewel.
"Tenang saja, Bu. Kan ada saya, saya siaga kalau ibu membutuhkan." Suster Mira angkat suara.
"Waah, Baby Gala banyak yang mau jagain tuh. Bilang apa? Bilang makasih." Maryam menirukam suara anak kecil terdengar menggemaskan.
Setelah puas melihat wajah Baby Gala yang tampan rupawan, semua orang di kamar satu persatu mulai keluar. Meninggalkan Baby Gala hanya dengan kedua orang tuanya.
"Kamu senang, Sayang?" tanya Langit memperhatikan wajah Maryam dengan seksama.
"Senang banget, tidak tergambarkan perasaan aku saat ini Mas. Anak kita jadi pelengkap kebahagiaan kita," jawab Maryam. Matanya tetap memandangi wajah Galaksi yang sedang tertidur pulas.
__ADS_1
"Kamu dan Galaksi adalah belahan jiwaku, kalian sumber kebahagiaanku." Langit mengecup puncak kepala Maryam lalu beralih ke wajah tampan Baby Gala.
Senja telah berganti awan pekat hitam. Langit dan Maryam hendak akan beristirahat.
"Kangen banget sudah beberapa hari ini tidak tidur di ranjang kita." Maryam terlebih dulu menepuk-nepuk atas tempat tidurnya. Ranjang Rumah Sakit membuat badannya pegal-pegal karena ukurannya tidak sebesar miliknya di rumah.
"Kangen ranjangnya apa kangen tidur sama aku?" tanya Langit menggoda.
"Kangen dua-duanya, Mas. Aku kan tidur sering dipelukin kamu, kemarin di Rumah Sakit rasanya aneh saja lihat kamu tidur di kursi atau di sofa."
"Kalau gitu tempat tidur Galaksi agak jauhan saja ya taruhnya, atau Galaksi tidur di kamarnya saja."
Bibir Maryam mengerucut dengan dahinya yang mengerut.
"Mas tega jauhin bayi yang belum berumur 7 hari dijauhin tidurnya? Mendingan aku tidur nemenin Galaksi di kamarnya dari pada sama kamu, Mas." Maryam bersidekap. Ia mengira Langit serius dengan ucapannya sampai Langit tergelak sendiri.
"Sayang, masa iya aku tega biarin bayi kita tidur sendirian walaupun ditemani suster juga. Aku bercanda, Galaksi akan tidur dengan kita tapi di tempat tidurnya ya. Biar kamu bisa tidur nyenyak juga dan aku bisa tetap tidur sambil meluk kamu." Langit tersenyum malu, jujur ia sangat rindu aroma tubuh istrinya yang sudah beberapa hari ini tidak ia peluk.
"Mana bisa aku tahan, apalagi 40 hari. Berat rasanya, Sayang."
Dan lagi Maryam menekuk wajahnya.
"Mas serius? Mas mau selingkuh gara-gara gak bisa nyentuh aku?" tanyanya serius.
"Hahaha, kamu kalau dibercandain itu mukanya lucu tahu nggak sih. Sayang, dengarkan ya. Mau 40 hari atau lebih nggak bakalan ngaruh sama aku, toh rumah tangga bukan hanya sekedar ****. Lagian banyak cara memuaskan nafsu suami meskipun tidak harus melakukannya kalaupun memang sangat tidak tahan tanpa harus selingkuh." Seringaian di wajah Langit tercetak jelas.
Maryam percaya Langit tidak akan melakukannya, suaminya bukan tipikal orang rendahan seperti itu. Suaminya sangat menjaga hati dan perasannya. Meski Langit mampu melakukan apapun yang ia mau.
Tengah malam Baby Gala menangis kencang, kepalanya digerakan ke kanan dan ke kiri mencari sumber makanan untuknya. Langit terbangun dan meraih Baby Gala lalu menggendongnya, ia membawanya ke luar kamar karena khawatir mamanya bangun.
Untungnya ASIP sudah tersedia di lemari es. Stoknya baru ada 4 botol kecil, cukuplah untuk Baby Gala makan sampai subuh. Biasanya bayi laki-laki lebih banyak menyusu dari pada bayi perempuan.
__ADS_1
Langit fokus menggendong Baby Gala sambil memegangi dotnya. Bibir mungil bayi itu seperti kehausan, sangat rakus.
"Kamu itu lucu banget sih, Sayang." Langit benar-benar bahagia dengan darah dagingnya sendiri, matanya terbuka meski hanya mengerjap-ngerjap saja.
Keesokan paginya, Maryam tidak mendapati Baby Gala dan suaminya di tempat tidur mereka. Matanya memicing menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retinanya. Ia menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang.
"Kemana mereka?" tanyanya bermonolog.
Tangannya meraih pakaian kimono untuk menutupi gaun tidurnya yang terbuka. Dilihatnya bagian dadanya membesar dan ASI yang keluar sampai harus ditutupi dengan kain lagi. Ia bersyukur ASI nya banyak dan lancar.
Dari balkon kamar, tampak Baby Gala dan papanya sedang asyik berjemur berdua di dekat kolam renang.
"Ya ampun, jadi mereka di sana." Maryam tersenyum kecil, iapun turun menemui dua orang pria kesayangannya.
"Mas, ko kamu nggak bangunin aku sih?" Maryam menyandarkan kepalanya di bahu Langit seraya memperhatikan Baby Gala yang sedang berjemur dengan memakai baby bouncer dan kaca mata bayi khusus berjemur.
Menginjak hari ke 5, tubuh Baby Gala sedikit tampak menguning.
"Loh, Mas. Ko Gala agak kuning ya? Ini nggak apa-apa, Mas?" Maryam cemas baru jelas terlihat di bawah sinar matahari.
"Iya, sedikit. Kata mama wajar kalau bayi tubuhnya agak kuning dan jangan khawatir. Nanti juga nggak asal sering di jemur seperti ini," ucap Langit.
"Yakin?"
"Iya, mama tadi bilangnya begitu. Lihat gayanya, tangannya sampai dilipat ke belakang kepala gitu."
"Iya, gayanya mirip orang dewasa. Haha."
***
Bersambung..
__ADS_1