BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Sudah Mantap


__ADS_3

Flashback on


Pukul 13.55 Anin meminta ijin dulu ke masjid dekat pabrik, ia takut waktu shalat akan segera habis kalau terus-terusan menunggui Willy mengontrol proses produksi barang. Anin shalat dengan khusuk, kemana-mana ia selalu membawa mukenahnya di dalam tas. Usai shalat ia berdo'a seperti biasa.


Pemandangan indah seperti itu menggugah hati Willy memantapkan hatinya. Willy menunggu Anin di pelataran masjid. 10 menit kemudian Anin keluar, wajahnya segar mungkin karena air wudhu yang mengenai wajahnya untuk bersuci.


Anin menghampiri Willy yang sedang tertunduk melihat ponselnya.


"Pak, maaf ya kerjaannya jadi keganggu." Kata Anin.


"Ah nggak juga lagian kita belum istirahat, apa kita makan siang dulu saja ya. Kamu laparkan?" tanya Willy.


"Ah iya, Pak." Anin tersenyum malu.


"Ya sudah, kalau tolong minta stempel ke bagian adminnya. Saya tungguin di depan ya. Habis itu kita pulang tapi makan dulu cari tempat makan saja nanti."


"Iya, Pak. Kalau begitu saya ke bagian adminnya dulu ya."


Willy menatap punggung Anin yang mulau menjauh pergi.


"Hah, ternyata berdekatan dengannnya mampu membuat jantungku berpacu cepat. Apakah aku mulai tidak normal ya?" Willy berbicara sendiri, tak lama menggeleng-gelengkan kepalanya lalu pergi menunggui Anin di depan pabrik.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Mobil melaju pulang ke arah Jakarta. Pekerjaannya memantau pabrik sudah selesai, melewati rest area Willy berpikir lebih baik mereka makan siang di sana saja sekalian


"Di rest area saja ya makan siangnya," ucap Willy langsung keluar tanpa menunggu balasan Anin.


"Pak Anwar, ayo kita makan sama-sama." Ajak Anin.


"Tidak usah, Bu. Tadi Ibu sama pak Willy di pabrik saya sudah makan siang duluan." Tolak pak Anwar secara halus.


"Tapi kan itu tadi, sekarang Bapak ikut kita saja sambil cari angin." Anin memaksa.


"Nggak usah, Bu. Saya tunggu di sini saja sambil merokok."


"Ya sudah kalau Bapak keukeuh mau di sini tapi kalau mau makanan atau minuman susul kita ya," ucap Anin.


Ketika Anin sudah pergi pak Anwar terkekeh, "Saya kan sudah diminta pak Willy buat tunggu di mobil saja demi rencana besar pak Willy, ckck.."


Beberapa saat kemudian..


"Apa, Pak? Bapak tidak sedang bercanda kan?" tanya Anin membeliakan matanya mendengar ungkapan Willy.


Beberapa saat lalu Willy mengutarakan keinginannya untuk mengajak Anin ta'aruf. Selama di pabrik pikiran Willy terus saja seputaran mempersunting wanita berhijab itu.


Dengan mantap dan tanpa ragu ia pada akhirnya mengungkapkannya. Kejadian tadi berulang, di depan Anin keringat bercucuran cukup banyak. Lebih baik disuruh presentasi berkali-kali sama Langit dari pada menghadapi wanita.


"Tidak, saya sedang tidak bercanda. Saya ingin mengajakmu ta'aruf. Kamu bisa memikirkannya dulu jangan tergesa-gesa menjawab."


Anin tersenyum tipis hampir tak terlihat, dalam hatinya ia bersyukur atas jawaban yang selama pertanyakan. Hati Anin sudah lebih dulu tertarik pada pria berkaca mata yang tengah duduk di hadapannya.

__ADS_1


Anin tidak mempunyai keberanian memulai apalagi ia seorang wanita, berasa kurang pas jika ia yang memulainya lebih dulu. Hanya bisa mengagumi dalam diam sudah cukup membuat Anin senang. Karena dalam persepsinya cinta tidak harus selalu memiliki.


Kini apa yang diimpikannya sudah mulai mendekat, pria tampan berjas rapi bukan pria tampan berkuda.


***


Maryam merasakan matanya sangat berat untuk dibuka, ia masih ingin bergelung dalam selimut saja selama seharian ini. Semalaman Langit benar-benar membuatnya tidak bisa tidur, mereka baru terlelap pukul 2 menjelang pagi.


"Loh, mas Langit kemana?" Dirabanya tempat tidur di sampingnya sudah kosong.


Terdengar gemericik air, tak lama pintu kamar mandi terbuka.


"Mas, sudah mandi?"


"Belum," jawab Langit.


"Lalu kenapa sudah keluar lagi?" Maryam beringsut duduk, tangannya sibuk menutupi dadanya dengan selimut.


"Kan mau ngajakin kamu sekalian buat mandi." Tanpa aba-aba Langit membawa Maryam ke kamar mandi, mengangkat tubuhnya ala bridal style.


Bathtube sudah terisi air penuh busa, beraroma wangi menyegarkan. Pelan-pelan Langit mendudukan Maryam di sana, sangat hati-hati takut akan membuat perut Maryam tidak nyaman.


"Mas, kamu nggak usah mandiin aku segala." Sergah Maryam, wajahnya kembali merona. Tangan Maryam menahan sentuhan lembut tangan Langit di punggungnya.


"Sudah, jangan banyak protes. Nikmati saja hari ini, hari ini aku akan memanjakanmu." Bisik Langit.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2