BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Ayah Arsy


__ADS_3

Haii my beloved readers, maafkan part ena-enanya gak dijabarin 😂.. Takut yang jomblo gigit jari nantinya.


***


Kediaman Herlambang sangat ramai, sesuai tradisi bila salah satu keluarga mengadakan suatu acara maka semua anggota keluarga besar akan berkumpul. Begitulah cara mereka bersilahturahmi.


Badannya sudah segar bukan karena mandinya tapi 'kegiatan' yang dilakukannya di kamar mandi. Langit dan Maryam kembali mengulanginya lagi.


Mata Langit terus mengekor kemana saja Maryam bergerak seolah tak ingin terlewatkan. Senyum dan tawa Maryam bersama saudara sepupunya yang lain memberikan kesan kalau Maryam pandai membawa diri dan bergaul. Terlihat Maryam yang tidak malu diajak bicara atau mengajak bicara terlebih dahulu.


"Kak, ini jahe hangat buat Kakak." si cantik Aisya memberinya satu gelas penuh jahe hangat yang dirasa manjur sebagai antibiotik.


"Apa ini?" Langit menghirup aromanya.


"Ini jahe? Kakak gak suka, bawa lagi-bawa lagi sana." Langit meringis rasa jahe yang hangat dan agak pedas membuatnya mual. Lah lalu selama ini ia sering memberikan minuman dan menganjurkan Maryam mengkonsumsi jahe selama masa kehamilannya dulu.


Sweter hitam pas di badan terlihat gagah dipakai Langit mencetak bentuk tubuhnya semakin terlihat. Flu dan demamnya masih belum reda disertai bersin berulang kali.


Padahal nanti malam acara lamaran adiknya akan dilaksanakan dan mengundang kerabat dekat saja.


Maryam khawatir sakitnya Langit akan keterusan dan Langit bukan tipikal orang yang dengan mudah mau meminum obat. Pantang baginya, hanya tidur obat bagi Langit.


Maryam membuka kulkas dan mencari sesuatu di sana.


"Cari apa, Nak?" Ainun berdiri di belakang Maryam dan ikut-ikutan mencari sesuatu yang tidak ia ketahui di dalam sana.


"Cari susu murni, Ma. Susu murni kalengan buat mas Langit." jawab Maryam.


"Ada di lemari atas, Nak. Naik saja ya atau suruh Aisya yang naik."


Usai mengambil yang dimaksud. Maryam menuangkannya ke dalam gelas lalu memberikannya pada Langit.


"Mas, kamu tidak suka jahe kan? Nih kalau susu kamu pasti suka."


"Ini susu apa?" tanya Langit tapi ekspresinya seperti menggoda Maryam.


"Susu murni, habiskan!" suruh Maryam galak.


Sesuai perintah nyonya Langit, ia menandaskan segelas penuh tanpa sisa. Takut Maryam yang lemah lembut akan bersikap galak lagi padanya.


"Kamu pengen banget aku cepet sembuh biar bisa kaya tadi lagi ya? Kamu suka kan tadi yang kita lakuin di kamar mandi?" bisikan erotis membuat bulu Maryam menegang.


"Apa-apaan sih kamu, Mas."

__ADS_1


"Apa? Cuma bilang yang kita rasain aja. Memangnya kenapa?"


"Iiissshhh, suuutt." Maryam memberikan kode telunjuk di rapatkan di bibir agar Langit tidak berisik.


Maryam mendengus sebal, suaminya itu kembali membuatnya merah merona.


"Ayo ikut. Kita pergi!" tangan besar Langit menarik Maryam keluar rumah, lantas ia memerintahkan Ujang menyiapkan mobil sekarang juga.


"Mau kemana, Mas?"


"Cari lingerie seperti kata kamu saat aku lagi di Jepang." tatapan Langit seakan menggoda Maryam, ingin melihat bagaimana Maryam dibuat tidak berkutik di hadapannya.


Maryam menelan ludahnya, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Langit. Ia mengira Langit becanda atau sudah melupakannya.


"Tapi Mas, malam ini acaranya Aisya loh. Kita gak bisa pergi, apa kata yang lain kalau kita terlambat lagian ini sudah sore."


"Acaranya jam 7, Sayang. Ini baru jam 3, masih ada waktu, lagian jarak ke mall cuma 15 menit. Sudah jangan banyak alasan, aku tahu apa yang ada di pikiranmu." Langit langsung menarik tangan istrinya untuk masuk ke mobil.


Langit tidak peduli keadaan dirinya yang sedang sakit bahkan mengendarai mobilnya sendiri. Ia hanya ingin membuktikan kalau ucapan Maryam itu hanya godaan saja atau Maryam punya misi lain.


Langit menggandeng tangan Maryam, berjalan berdua menyusuri setiap outlet yang menyediakan perlengkapan pakaian dalam wanita.


"Tolong berikan semua yang diminta istri saya." pinta Langit pegawai toko di sana.


Maryam nampak ragu melihat-lihat pakaian dalam di sana, yang membuatnya ragu apa lagi kalau bukan keberadaan Langit.


Tolonglah, Mas. Jangan melihatku seperti itu.


"Sayang, bukankah kamu tanya warna apa yang aku suka. Kayanya bukan hitam deh tapi merah. Seperti itu." tunjuk Langit tanpa urat malu menunjuk salah satu model paling seksi yang menggantung.


Maryam jadi canggung lebih tepatnya ia sangat malu. Langit begitu jujur dan terbuka, kelihatan sekali niatnya menggoda Maryam.


"Kamu suka yang ini, Mas? Ini terlalu transparan. Bagaimana kalau yang itu saja?"


"Kalau yang itu bukan lingerie namanya tapi baju tidur biasa. Aku mau yang itu, bukankah kamu bertanya karena akan dipakai olehmu kan?"


Ingin rasanya Maryam membekap mulut Langit, ia ingin menangis saja mengingat pegawai toko juga ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Mama, papa dimana?" suara anak kecil nan lucu bertanya pada ibunya yang baru datang ke toko itu. Mata Langit dan Maryam segera menoleh pada sumber suara.


Anak kecil yang datang dengan keluarga Zayn waktu perkenalan keluarga Aisya.


"Haii Arsy.." Maryam melambaikan tangannya anak kecil lucu itu.

__ADS_1


Dengan imutnya Arsy menjawab sapaan Maryam.


"Hai Tante cantik, Om tampan."


Ibunya Arsy yang tak lain adalah Zoya tidak mengira kalau anaknya bisa mengenal Langit dan Maryam.


"Kamu kenapa bisa dengan Arsy?" tanya Langit.


"Hmm karena Arsy adalah anaku." niat ingin berkelit malah tertangkap basah secara langsung.


"Oh jadi kamu menikah dengan kakaknya Zayn."


Zoya mengangguk pelan. Langit tahu sekarang alasan Zoya meninggalkannya dulu karena menikah dengan pria lain. Tapi itu tidak masalah, malah Langit bersyukur Zoya tidak akan bisa mengganggunya lagi.


Zoya heran dari mana Langit mengenal Zayn.


"Kamu kenal, Sayang?" tanya Zoya pada Arsy.


"Tante Aisya adiknya Om tampan ini, Ma." jawab Arsy menggemaskan. Celotehannya membuat siapa saja ingin mencubit pipinya yang gembul.


"Aisya? Kenapa tante Aisya, kamu dimana ketemu tante Aisya?"


"Zayn akan menikah dengan Aisya." jawab Langit datar.


"Zayn? jadi akan jadi adik iparmu. Baguslah kalau begitu."


"Iya bagus, karena kita akan jadi keluarga besar." Maryam menimpali percakapan kaku keduanya.


"Bukan hanya keluarga besar tapi Arsy akan bersama dengan keluarga yang sebenarnya." kata-kata Zoya penuh penekanan.


Langit mengerutkan dahinya tidak paham arti kata yang dilontarkan Zoya.


"Maksudmu keluarga yang sebenarnya apa?" Maryam penasaran sendiri, ia ingin Zoya tidak membuat teka-teki yang membuatnya bingung.


Zoya merasa berada di atas angin, pertemuannya yang tidak disengaja akan memberinya keuntungan. Ia lantas mendekatkan bibirnya di telinga Maryam dan membisikan sesuatu di sana.


"Arsy akan bersama dengan ayah kandungnya. Kamu tahu kan ayah kandungnya siapa?" Dirasa sudah selesai urusannya, Zoya kemudian mengajak Arsy pergi dari toko itu.


"Dahh Tante cantik, Om tampan." celoteh Arsy melambaikan tangan pada keduanya. Maryam sudah tidak bisa tersenyum, ia diam terpaku seribu bahasa memikirkan ucapan Zoya barusan.


***


Bersambung...

__ADS_1


Jangan hujat aku yaa... 🙂


__ADS_2