
Mobil melaju membelah jalanan, sesekali Willy melirik pada seorang wanita di sebelahnya. Yang ia rasakan perasaan campur aduk tak karuan. Bukan tak pernah bersebelahan dengan wanita tapi kali ini wanita di sebelahnya punya arti spesial. Mendadak Willy merasakan perasaan lain pada Anindya. Entah karena dorongan hati ataukah dorongan menikah cepat-cepat.
Tidak ada waktu lagi memikirkannya, mengingat Anindya begitu cantik siapa tahu akan ada yang melamar lebih cepat.
"Hmm, Pak anda haus?" tanya Anin tiba-tiba.
"Apa?" Willy tersentak kaget.
Melihat Willy kaget, Anin jadi merasa bersalah.
"Maaf, Pak. Saya sudah ngagetin Bapak ya? Bapak lagi tidur?" Anin memiringkan tubuhnya ke arah Willy.
"Nggak, saya tidak tidur. Saya sedang memikirkan sesuatu."
Tenang Willy, kamu pasti bisa.
Semakin Anin menatap wajahnya, Willy semakin tidak karu-karuan. Keringat mulai merembes dari pori-pori tubuhnya. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, selama hidupnya malah. Nervous berlebihan.
"Pak, tolong ACnya dikecilin lagi ya." Pinta Anin pada sopir karena melihat Willy bercucuran keringat.
Padahal AC udah dingin banget, kenapa pak Willy keringetan gitu ya.
"Maaf ya, kamu jadi tidak nyaman." Willy melonggarkan dasinya, benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman.
"Tidak apa-apa ko, Pak. Kita berhenti saja dulu ya, mampir di minimarket dulu beli minuman."
"Oh iya, kita beli minuman dulu. Pak Anwar, kita mampir ke minimarket dulu ya sebentar di depan," ujar Willy.
"Baik, Pak." Sahut pak Anwar.
Mobil berhenti di salah satu minimarket, Willy dan Anin keluar bersamaan. Terlihat Willy menghela nafas lega, menghirup udara segar alami yang bisa menjernihkan otaknya seketika.
Gawat kalau lama-lama berdekatan seperti itu. Apa aku pindah duduk saja dengan pak Anwar ya. Kalau pindah takut dia jadi tersinggung, ah aku jadi bingung.
Willy menggaruk tengkuknya yang gatal, kebiasaan kalau Willy nervous berat ia akan salah tingkah.
Memilih minuman bersama Anin saja menimbulkan segala macam pikiran lain-lain di otaknya. Mulai melintas kalau saja Anin istrinya mereka seolah-olah sedang berbelanja berdua sebagai sepasang suami istri. Ah indahnya.
"Pak." Panggilan Anin membuyarkan lamunan Willy. Anin sudah bergerak maju di kasir membayar minumannya.
Cepat-cepat Willy menghampiri Anin, harga dirinya dipertaruhkan kalau wanita membayar belanjaannya.
"Ini." Willy menyodorkan selembar uang warna merah pada kasir.
"Sudah, saya yang bayar." Begitu gagahnya Willy saat mata Anin keberatan karena Willy membayarnya.
__ADS_1
"Makasih, Pak." Anin tersenyum manis sekali menambah rona kecantikannya memancar.
Beginikah rasanya jatuh cinta. Uh kata orang indah tapi ko aku rasanya debar-debar gini yah.
Anindya memperhatikan Willy yang sedang serius bicara dengan penanggung jawab pabrik. Sesekali ia mencatat hal yang penting takut-takut Langit meminta laporan padanya nanti.
Mata keduanya bersirobok cukup lama, Anin menundukan kepalanya tidak mau menatap lebih lama lagi.
***
Langit sampai di rumah mendapati istrinya tertidur pulas sambil menonton drama korea favoritnya di kamar. Ia menggeleng sambil tersenyum, wajah polos Maryam sangat menawan kalau ketiduran memeluk toples makanan seperti itu. Tambah hari tingkahnya semakin menggemaskan. Sampai ta tega Langit membangunkannya.
Terlebih dahulu ia mandi, membersihkan tubuhnya. Berganti pakaian lantas menghampiri istrinya yang masih tidur pulas. Merasa tak tega iapun memilih keluar.
"Mas." Panggil Maryam, ia terbangun mendengar decit pintu terbuka.
"Ko bangun?" Langit tak jadi keluar kamar dan memilih menghampiri istrinya.
"Mas, kapan datang? Kenapa nggak bangunin aku? Kamu mau makan? Aku siapin ya," ucap Maryam beringsut dari sofa.
"Nggak usah, kamu kayaknya lelah. Biar aku saja yang turun." Sergah Langit.
"Kamu nyindir aku karena di rumah saja sampai bilang takut lelah!" Nada bicara Maryam mulai meninggi.
Beruntung Langit paham emosi ibu hamil yang naik turun tidak stabil. Selama di kantor kadang-kadang ia membaca artikel mengenai ibu hamil dan parenting.
"Sayang, aku bukan nyindir. Namanya ibu hamil itu pasti mengalami yang namanya kelelahan, itu sudah alamiahnya. Proses yang dirasakan tubuh bukan karena sudah bekerja keras saja. Kamu yang sabar ya, ikhlas demi anak kita." Begitu bijaknya Langit memberikan pengertiannya pada Maryam.
"Maaf, Mas. Emosiku suka naik turun." Maryam mengerucutkan bibirnya.
"Aku ngerti ko, kamu tunggu ya. Aku mau makan dulu, tadi nggak sempet makan di kantor." Diciumnya puncak kepala Maryam lalu ia keluar dari kamar.
"Mas, kamu nggak ngajakin aku makan? Aku juga laper." Rengek Maryam manja.
"Ya ampun kamu juga belum makan?"
"Sudah cuma, bawaannya laper terus."
Langit terkekeh.
"Ya sudah ayo kita makan sama-sama." Langit menarik tangan Maryam lalu mengapitnya.
Di dapur, Maryam menyiapkan kembali makanan. Tersaji beberapa macam masakan bu Lela dan bu Marni.
Keduanya lahap menikmati setiap suapan mereka.
__ADS_1
Pukul 22.00, Maryam sudah terlelap terlebih dahulu sementara Langit masih sibuk dengan ponselnya.
"Besok tanggal 25, kejutan apa yang harus aku berikan untuk ulang tahunnya." Belum ada rencana apa-apa dipikirannya, ia membuka-buka internet tentang kejutan ulang tahun untuk istri.
"Apa ke hotel saja ya, dia paling suka kejutan manis. Cokelat, boneka? Kenapa seperti anak abege." Langit menyugar rambutnya, mulai pusing.
Willy : Pesankan satu kamar suite buat besok malam, siapkan juga dinner romantis. Kamar bertabur bunga mawar merah dengan lilin-lilin kecil. Jangan tanya sekarang! Besok aku bicarakan lagi.
Langit merencanakan sesuatu, ingin mengerjai Maryam sampai kesal akan sikapnya.
*
*
*
*
*
Pulang dari kantor, Langit langsung ke rumahnya. Menyuruh istrinya cepat-cepat bersiap.
"Bersiaplah, kita akan pergi keluar malam ini. Bawa perlengkapanmu juga!" ujar Langit ketus.
"Kamu kenapa sih, Mas? Pulang-pulang ketus banget sama aku." Kesal Maryam.
"Sudah jangan banyak tanya! Ikut saja." Nada Langit sudah terdengar mulai meninggi.
"Kita mau pergi kemana dulu?"
"Pokoknya kamu pakai gaunmu. Kita mau makan malam dengan kolegaku."
Maryam misuh-misuh, sikap Langit kali ini kembali lagi seperti dulu saat ia pertama mengenalnya.
Mau tak mau Maryam menuruti perintah suaminya, dress panjang ia pilih untuk busananya malam ini. Gaun malam sederhana tapi terlihat elegan.
Malam yang dinanti akhirnya tiba, Langit secara khusus meminta istrinya ikut dengannya malam ini. Maryam heran kenapa dirinya di suruh membawa perlengkapan pribadinya. Memangnya Langit mau mengajaknya kemana.
Mobil berhenti di depan hotel bintang 5, Langit dan Maryam disambut dengan baik. Sudah tersedia dinner romantis khusus untuk mereka beedua. Satu restauran sengaja direservasi atas nama Langit.
"Kenapa malam ini kosong? Para pengunjungnya tidak ada?" Hanya ada dirinya dan Langit diiringi alunan musik romantis.
***
Bersambung..
__ADS_1
Maaf readers, upnya telat. Hari ini tidak fokus karena berbagai macam kegiatan di kantor. Seperti biasa tinggalkan jejak like, komen dan votenya seikhlasnya aja.. 😘😘😘😘