
Emieer Sadiq POV
Perasaan bersalah pada Sava membuat ku tidak tenang. Gadis itu ternyata nekat.
Apa yang di pikirkan Sava sebenarnya.
Pemikirannya memang kadang masih labil dan membuat ku pening. Tapi sekarang fakta baru terungkap, jika ternyata Sava bukanlah anak kandung dari keluarga Hasan Malik.
Aku seperti tersangka utama dalam kekacauan hidup Sava. Karna sudah sejauh ini, aku harus bertanggung jawab. Tidak mungkin setelah aku membuatnya terusir dari rumah mewah nya, lantas aku mengabaikannya sekarang. Dia berani meninggalkan kehidupan mewah dan memilik menemui seorang pemuda miskin seperti ku.
Setelah pulang bekerja aku berniat mendatangi paman ku. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan dengan Paman.Karna hanya paman dan bibik lah satu satu nya keluarga yang aku punya.
Setiba di rumah Paman Faizal, aku menceritakan semua hal tentang Sava dan juga tentang hubungan kami. Sudah 7 bulan lamanya aku dan Sava menjalin hubungan. Hingga akhirnya kami pada titik ini. Dan pengusiran Sava dari keluarga nya membuat ku tidak tenang dan merasa bersalah.
🍁🍁🍁🍁
"Sekarang kamu punya tabungan berapa Emieer ?" tanya Paman Faizal menanyakan soal tabungan.
"Ada paman, memang kenapa?"tanya ku balik merasa bingung karna Paman menanyakan tabungan ku.
"Pergi lah ke toko mas, carilah sebuah cincin untuk melamar Sava," ucapan paman Faizal langsung membuat ku kaget. Membeli cincin untuk Sava, melamar nya.
"Kenapa?" tanya Paman Faizal pada ku dengan tatapan mata penuh tanda tanya.
"Ingat Emieer, Sava kini tidak punya tempat tinggal. Dia sudah terusir oleh keluarga nya, dia butuh pelindung dan juga tempat berkeluh kesah yang bukan lagi hanya sekedar pacar atau kekasih,"
"Paman kawatir,jika dia tidak kamu lindungi, jaga serta pantau dengan baik,"
"Bukan aku tak percaya pada kekasih mu itu, tapi aku kasian dengan nya. Paman tidak bisa bayangkan hidup gadis itu terlunta lunta,"
"Kamu yang dia datangi saat diri nya terusir darikeluarganya. Orang tua nya sudah tidak perduli lagi, dan orang tua asli nya pun juga dia tidak tau."
"Dan sekarang dia berada di kost kost san mu kan. Bertanggung jawablah dengan cara yang baik, halal kan dia untuk mu. Paman percaya kamu sudah mampu menjadi seorang suami untuk Sava."
Deg.....
Kata suami yang paman Faizal ucapkan menampar ku. Suami, apa arti nya paman menyuruhku untuk menikahi gadis 18 tahun itu. Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Membayangkannya kata "suami" yang sebenarnya aku belum siap menjadi seorang suami. Bukan berarti aku tidak ada niatan menikahi Sava. Hanya saja untuk kedaan ku yang masih seperti sekarang, aku belum siap memperistri Sava.
Membayangkan Sava jadi istri ku dan menjadikan aku suami nya membuat ku sakit kepala saat ini.
Padahal target menikah ada pada urutan terakhir setelah aku bisa lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Jika menikahinya, berarti aku harus menafkahi Sava lahir dan batin. Padahal untuk menafkahi diri ku sendiri saja aku masih banyak kurang nya.
"Kenapa paman bilang kamu harus segera menikahi nya, ya karna hanya kamu yang dia miliki sekarang," Ucap paman Faizal sambil menepuk pundak ku.
__ADS_1
"Soal Rezeki jangan takut Emieer, Tuhan pasti akan berikan kamu rezeki lebih jika kamu berniat untuk tujuan mulia itu,"
Aku paham dengan kekawatiran paman Faizal terhadap Sava, aku juga tidak bisa memungkiri itu.
Sava memang masih muda 18 tahun, tapi sebenarnya dia gadis yang lumayan dewasa dalam pikir, walau kadang juga masih labil. Dan aku mencintai nya, bukan karna ia putri seorang pengusaha kaya, karna memang kami saling tertarik satu sama lain.
"Jika kalian tidak segera menikah, justru paman akan lebih khawatir lagi, kalian kan laki laki dan perempuan. Jangan malah sampe kalaian berhubungan sebelum sah!" seru Paman Faizal yang kemudian membuat ku terkesiap.
"Paman!" protes ku pada paman, paman Faizal malah tertawa terbahak.
"Kamu sudah berumur Emieer, lagian kan Sava tingal di kost an mu, otomatis kalian akan lebih sering bersama. Dari pada banyak melakukan dosa lebih baik kalian menikah saja, sudah tentu hubungan kalian halal," aku hanya mengerutkan dahi ku, perkataan paman Faizal membuat ku panas membayangkannya.
"Aku bisa mengendalikan diri paman," sergah ku.
"Tapi nanti nanti siapa tau iman mu lemah, kadar iman seseorang tidak bisa konsisten Emieer, terkadang. Apalagi Sava itu anak nya cantik, cerdas dan siapa yang tidak gemas pada gadis itu. Jika setan sudah ada di antara kalian lalu kalian legah mau kalian nagung dosa, menikahlah, nikahi Sava,"
"Dia baru 18 tahun paman,kurasa dia juga tidak mau "
"Nikah muda apa salah nya ,bujuk dia ,yang terjadi saat ini situasinya berbeda Emieer.Mungkin kau bisa santai santai saja tapi ,pikiran gadis itu"
"Dimana dia tingal,bagaimna hidup nya selanjutnya...jika Kalian sudah terikat dalam satu pernikahan sebuah hubungan semua akan lebih mudah. Kau bisa mengawasi dan melindungi nya, terlebih kamu ada yang merawat,tidur ada nemenin dan satu lagi bisa ???? "ucap paham Faizal kemudia tertawa. Walau tidak meneruskan kata kata nya aku paham arah perkataan paman Faizal.
🍁🍁🍁🍁
Setelah pulang dari rumah paman Faizal, aku mengajak Sava pergi ke pantai,biasa kami pergi ke danau menghabiskan waktu. Danau yang selalu menjadi tempat kami saling membicarakan banyak hal.
Sesampainya di pantai ku ajak Sava bermain main dengan air laut,sekedar menjejakkan kaki telanjang kami di pasir. Dan membiarkan deru ombak yang lemah itu terhempas di kaki kami yang berjalan menyusuri pinggir pantai. Menikmati sore hari dengan di temenin terpaan angin sepoi-sepoi yang membuat rambut panjang kekasih kecil ku melambai-lambai.
Rasa ya aku gemas sekali melihat Sava yang tampak tenang itu, meski aku tau sebenarnya ia masih sangat sedih berpisah dengan keluarganya. Hal yang membuat ku kagum padanya adalah, Sava tidak pernah sekali pun mengeluh dan menangisi nasib nya. Sungguh aku mengangumi gadis ini, dan aku semakin mencintainya. Dan kini sepertinya aku ingin memiliki dia seutuhnya.
Dan perkataan paman Faizal membuat ku yakin sekarang. Jika memang saat ini lah waktunya aku mengambil alih tanggung jawab keluarga Sava untuk menjaganya. Menjaga gadis ini dengan cara yang benar. Melindungi, memberikan kasih sayang dan menafkahi nya.
"Sava menikahlah denga ku," ucap ku mantap saat kami saling sedang berdiri berhadapan.
Sava terlihat kaget dengan ucapan ku.
"Emieer, apa bercanda yaa.?" sergah nya sambil mengembangkan senyum manis.
"Aku serius, aku ingin menikahimu." ucapku lagi dan sengaja ku tampilan wajah penuh keseriusan. Karna Sava tampak menanggapi ucapan ku seperti candaan.
"Aku tau, aku hanya pria miskin tidak punya apa apa. Aku juga tidak punya rumah yang besar apalagi nyaman. Masih tingal di kost kost san. Kuliah pun belum lulus,hanya pekerja kasar." Sava terdiam menatap wajah ku penuh hikmat, tapi aku bisa membaca siratan (penerimaan diri ku yang apa ada nya ) ini untuk nya.
__ADS_1
"Aku memang miskin Sava, izinkan aku bertanggung jawab untuk hidup mu,"
"Aku yang sudah membuat mu menjadi seperti ini, terusir dari rumah istana itu, berpisah dengan orang orang yang kamu cintai."
"Biarkan aku ambil alih tugas mereka, memberikan semua kebutuhan mu, keperluan mu, menjaga dan melindungi mu dengan cara ........." aku sengaja menjeda mengucapkan kalimat sakral itu dengan sambil mengamati perubahan wajah Sava.
"Dengan cara apa kak ?"Sava seperti nya penasaran.
"Kita menikah...."
Sejenak kami saling diam. Aku menunggu kalimat jawaban Sava .
"Kak, jangan merasa bersalah untuk semua yang sudah terjadi pada ku. Aku tidak menyalahkan kakak,dan aku ambil keputusan itu atas kesadaran ku sendiri,tidak karna kau kekasih ku."
"Bahkan setelah ini aku sudah berfikir untuk hidup mandiri seperti mu, karna aku sudah putus kuliah aku berniat mau cari kerja. karma aku tidak mungkin tingal di kost kost an mu kak, aku akan hidup mandiri seperti mu. Maaf yaa aku sudah merepotkan kakak."
Ucapan Sava menampar ku. Aku tidak pernah menyangka dia punya pikiran dewasa seperti itu. Di saat aku merasa bersalah,dia malah tidak menyalahkan ku. Tidak tahan merasakan ke iba an ku pada Sava ,aku menarik tubuhnya dalam pelukan ku. Ya Tuhan gadis ini.
"Aku mencintaimu sayang," kemudian ku raih dagu nya dan ku tatap manik mata nya yang berwarna coklat tua tersebut. Senyuman manis, wajah yang merona dan sangat mengemaskan. Aku benar benar sangat mencintai nya .
"Menikah lah dengan ku," ucap ku lagi kemudian aku berjongkok di hadapan nya. Ku keluarkan sebuah cincin yang sebelumnya sudah ku beli tadi. Ku keluarkan cincin itu dari tempat nya dan aku meraih jari manis nya.
"Emieer,aku belum siap," ucap Sava, ku liat kini mata nya tampak merah, menahan air mata yang nyaris tumpah.
"Bersama ku, kita sama sama saling menguatkan Sava,"
"Kita akan sama sama menjalani hidup ini,kita sama sama saling melengkapi."
"Liatlah kita, kita ini senasib sekarang.Dan kita akan kuat jika kita bisa saling melengkapi dalam sebuah hubungan yang sakral. Jangan menolak Sava, aku berjanji akan membuat mu bahagia, aku akan berusaha membahagiakan mu."
Dan tak bisa di tahan lagi tangis Sava pecah, ia menangis dalam pelukan ku. Dan sejujurnya aku pun juga hampir meraung karna rasa iba serta cinta ku pada gadis ini. Dengan mantap ku sematkan cincin yang ku beli pada jari manis Sava sebagai bentuk aku telah melamar nya.
Dan aku berniat dua hari lagi, tepat di ulang tahun Sava yang ke 19 tahun, aku akan menikahi nya.
Bersiaplah Georgia Savanah Almeera
i love you
Alhamdulillah bab 9
,😬😁🥰
aku senang di kritik,klo ada yang salah mohon koreksi yaa 😬🤭🙏
__ADS_1
bab selanjutnya mereka menikah dan BLA BLA BLA 🤭😅