BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Mandi Air Dingin


__ADS_3

Maryam Azzahra : Mas, kamu suka aku pakai lingerie warna apa?


Pesan terkirim.


Langit hampir tidak percaya kata-kata yang dikirimkan istrinya. Ia mengusap wajahnya kasar karena hasrat kelelakiannya bangkit seketika. Apa yang mau diperbuatnya sekarang di menit-menit keharusannya berangkat ke kantor cabang.


Maryam, kamu mulai nakal ya sekarang.


Wajah Langit mendadak gusar, ia tidak mungkin pergi saat geloranya bangkit.


"Will, lo tunggu di lobby. Gue mau telpon Maryam dulu sebentar." pinta Langit berbohong. Rencana apa yang akan dilakukan Langit untuk meredam hasratnya? Ia tidak akan fokus untuk meeting dengan beberapa managernya.


"Baik, Pak." Willy tersenyum nakal matanya mengedip sebelah pada Langit.


"Ya ampun Maryam." dengan sangat-sangat terpaksa Langit membuka pakaiannya, ia ingin mendinginkan pikiran dan tubuhnya dengan mandi air dingin yang dirasa cukup efektif menurunkan hasrat yang sedang naik-naiknya itu. Entah ajaran dari mana yang penting ia bisa fokus untuk kembali bekerja.


Ia berdiri di bawah guyuran shower, membiarkan air dingin membasahi tubuh dan pikirannya. Ini lebih baik dari pada harus bermain 'solo'.


Suhu di Jepang sedang dingin-dinginnya dan Langit mandi dengan air dingin, jangan heran jika nanti ia flu atau demam. Salahkan saja istrinya yang sudah membangunkan 'singa junior' dari kandangnya.


Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Mengambil hair dryer untuk mengeringkannya, jangan sampai Willy curiga apa yang sudah dilakukannya barusan. Ia menertawakan dirinya sendiri, sungguh malang memang.


Damar Langit : Aku suka warna hitam, seksi. Tunggu aku pulang, aku akan membuatmu kewalahan dengan lingeriemu itu, Sayang.


Pesan terkirim.


Ia menyambar jasnya dan menyusul Willy ke lobby.


Jantung Maryam berdegup cepat, membaca balasan dari sauminya, seolah saat ini Langit sedang berbicara secara langsung padanya.


Wajah Maryam merona, hawa panas merasuk ke dalam dirinya. Bisa saja Langit membalasnya seperti itu. Ya ampun Maryam hampir tidak bisa bergerak. Ia terpaku dan terus mengulang membaca balasannya.


Ia menghela nafasnya berungkali. Mencoba berpikir jernih.


"Aku harus membeli beberapa yang mas Langit suka." pikirannya tertuju pada lingerie yang dibicarakannya. Kain tipis dengan bagian tubuh terbuka nan seksi bisa membuat pasangan bergairah dan 'ketagihan'.


Maryam jadi malu sendiri, apa yang harus ia lakukan kalau Langit nanti pulang.


Di dalam mobil Willy mencium aroma shampo menguar yang tidak ia hirup sebelumnya. Matanya beralih menatap Langit yang duduk di belakangnya.

__ADS_1


"Pak, saya suka wangi shampo anda." ucap Willy menyeringai jahil, pikirannya sudah menjelajah pada dunia yang belum menjadi haknya itu.


"Sial." umpat Langit tanpa bersuara.


***


Langit dan beberapa manager area di kantor cabang Jepang sedang berupaya mencapai kesepakatan yang bisa menguntungkan perusahaan dan meminimalisir dugaan kerugian akibat kualitas produk yang kurang. Langit marah karena penyebabnya biaya bahan baku dikurangi sehingga berpengaruh pada kualitas produk.


"Saya sudah menekankan kalau jangan mengganggu anggaran untuk bahan baku. Kita pilih bahan baku kualitas baik sehingga berpengaruh pada produk berkualitas juga. Kalau begini cara main kalian pantas mau rugi juga!" Langit kesal hampir saja angkat kaki dari meeting.


Hari itu ia lewatkan dengan mengubah beberapa struktur yang dirasanya kurang profesional. Tidak heran disetiap tubuh atau struktur terdapat pergantian pimpinan kalau tujuannya untuk kepentingan semua, kepentingan usaha, karyawan dan konsumen.


8 jam sudah ia habiskan, pita suaranya hampir serak akibat berteriak-teriak sepanjang hari. Semua karyawannya telah paham watak Langit yang akan meledakan amarahnya jika tidak ada kesesuaian pada pekerjaan.


"Will, siapkan pesawat malam ini juga." perintah Langit dengan mata masih pada layar ponselnya.


"Malam ini juga? Bukannya kita di sini menginap, Pak."


Langit menggeleng secepatnya.


"Nggak! Kita pulang malam ini juga. Masalah kantor sudah selesai, laporan biar mereka kirim lewat email saja."


Pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu sengaja tidak mengabari istrinya terlebih dahulu. Ingin memberikan kejutan dengan kedatangannya di rumah secara tiba-tiba.


Subuh pukul 5 Langit sampai tepat waktu di rumahnya, kediaman Herlambang. Ia mengendap masuk ke kamarnya dan lantas menguncinya. Maryam yang masih tidur terkejut dengan belaian-belaian berhasrat suaminya di bagian intinya itu.


"Mas, ko kamu sudah pulang?" wajah Maryam tak kuasa menahan keterkejutannya. Namun Langit seolah menulikan indera pendengarannya. Sepanjang perjalanan pikirannya sudah berkeliaran membayangkan setiap inci tubuh istrinya itu.


"Mas." Maryam menahan pergerakan tangan Langit yang sudah tidak sabaran membuka pengait yang membungkus dada istrinya.


"Ini semua gara-gara kamu." Langit serta merta menghujani Maryam dengan ciuman nafsu yang menggelora.


Maryam sampai kewalahan, ia pasrah membiarkan Langit membenamkan dirinya pada penyatuan tubuh mereka. Membiarkan suaminya meloloskan berjuta-juta sel ke dalam rahimnya yang kosong.


"Maaf, aku terlalu bernafsu. Itu semua karena aku sudah tidak tahan dengan lingerimu itu." bisik Langit setelah peperangan berkeringat di atas ranjang bergoyang.


Maryam kembali bersemu merah, suaminya itu memang pandai membuatnya merona.


"Maaf Mas, apa pesanku mengganggu pikiranmu? Maafkan aku." ucap Maryam penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tidak mengganggu, aku justru senang. Istriku sudah pandai menggoda, aku jadi lebih bergairah. Bagaimana kalau nanti kita cari lingeri sama-sama."


Ya ampun Langit, kenapa kamu terus-terusan menggoda istrimu. Lihatlah wajahnya sudah mirip kepiting rebus.


Langit membelai wajah istrinya yang berkeringat. Nafas mereka masih terengah-engah.


"Mas, aku mandi duluan. Nanti aku akan turun untuk menyiapkan sarapan."


Langit menahan tubuh Maryam agar jangan pergi. Ia masih betah bergelung dengan nyaman di pelukan Maryam.


"Nanti saja, aku ingin seperti ini dulu. Kita sarapan di kamar saja, suruh bu Lela mengantarkannya," ucap pria itu tanpa membuka matanya.


"Loh mana bisa kita sarapan di kamar, nanti mereka curiga lagian malu semua keluargamu yang ada di sini."


Tapi Langit tidak mau mendengarnya, yang ia butuhkan saat ini hanyalah tidur mengumpulkan kembali kekuatannya untuk tempur nanti malam.


Rupanya Maryam hanya bisa pasrah, ia membalas pelukan Langit dan membiarkannya dalam pelukannya.


Pukul 9 mereka berdua baru bangun, Langit dan Maryam sama-sama tidak berangkat ke kantor. Sesuai dugaan Langit malah terserang flu dan badannya demam akibat mandi air dingin karena menahan hasratnya.


"Mas, kamu demam? Aku ambilkan sarapan dan air hangat ya, Mas."


"Nanti saja, aku ingin mandi. Tubuhku lengket," pinta Langit.


"Tapi Mas, kamu lagi demam. Nanti tambah gak enak badannya,"


"Pakai air hangat, Sayang. Tolong ya."


Maryam membantu Langit mandi, untuk pertama kalinya sebagai suami istri. Ia menyusuri setiap jengkal tubuh Langit tanpa terlewati.


"Lagi, mau?"


Goda Langit nakal.


***


Bersambung..


Mau part '***-***' nya dijabarkan dengan sejelasnya? Boleh tapi jangan di NT ya... Tuliskan komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2