
Kesalahpahaman antara Anindya dan Celin terus berlanjut, teman-temannya termasuk Agnes bingung harus menengahi mereka dengan cara apa. Di sisi lain Anin adalah teman mereka di disi lainnya Celin juga sama. Kegaduhan kemarin siang diakibatkan ulah Celin yang menyindir Anin telah merebut Willy darinya.
Flashback On
Celin terus merengut kesal bila berdekatan dengan Anin. Kekesalannya itu buah dari kedekatan Willy dengan Anin sampai mereka menikah. Anin baru tahu kalau Celin menyukai Willy. Rupanya Celin memendamnya cukup lama setelah Celin bekerja di sana hampir tiga tahun.
Pertemuan pertama Celin dengan Willy ketika mereka bertemu dalam acara family gathering di Bali. Celin begitu terpesona dengan sikap Willy yang baik. Pria berkaca mata itu memang baik pada siapapun, tidak salah bila Celin punya perasaan lebih padanya. Cerita dimulai saat kaki Celin terkilir, mereka sedang berjalan cukup jauh ketika dirinya mengikuti acara yang diselenggarakan panitia.
Tidak ada orang lain di sana kecuali Celin dan Anet, sementara Anet tenaganya kurang mampu memapah tubuh Celin. Kebetulan Willy lewat bersama Teguh, merasa kasihan Willy membantu memapah Celin sampai posko terakhir.
"Terima kasih, Pak." Celin mengucapnya dengan pipi merah merona. Antara senang dan malu bercampur jadi satu.
"Sama-sama, semoga cepat sembuh." Willy tersenyum iapun pamit untuk kembali ke kumpulan para petinggi perusahaan.
Sejak saat itu Celin tidak pernah absen menyapa Willy bahkan memberinya perhatian lebih, sedangkan Willy tidak pernah merasa berbuat lebih dan hanya menganggap Celin sama seperti karyawan lain.
Flashback Off
Hingga saat Anin dan Willy dekat satu sama lain sejak kebersamaan mereka yang tidak disengaja dan terlibat dalam drama percintaan Langit dan Maryam, timbul benih-benih suka berujung cinta.
Kemarin, kantin perusahaan.
"Celin, aku minta dong nanti aku ganti. Udah gak nahan pedes." Anin menyeruput es jus jeruk milik Celin. Hal itu seperti itu sudah biasa terjadi di antara mereka, jadi wajar kalau mereka tidak terlalu fokus pada Anin dan Celin.
Dari sana Celin merengut kesal dan menatap Anin tidak suka.
"Cel, kenapa sih? Kamu marah gara-gara jusnya aku minum? Aku ganti ya, sebentar." Tak lama kemudian setelah ia menyelesaikan makan siangnya, Anin memesan lagi jus jeruk yang sama.
"Cel, ini aku ganti." Sungguh Anin tidak tahu kalau Celin seriusan marah padanya. Anin hanya berpikiran polos, ia menganggap jika Celin sedang PMS. Ia juga sering merasa tiba-tiba perasaannya tidak enak hanya karena candaan teman-temannya.
__ADS_1
"Heran deh sama temen yang hobi nyerobot milik orang lain. Gak minta ijin dulu belum diiyain langsung ambil." Sembur Celin tidak biasanya.
Anin diam karena ia tidak merasa jadi objek sindiran Celin. Anin malah bertanya pada Dwi dan Indri, siapa yang Celin maksud.
Dengan polosnya Anin tanya pada Celin. "Cel, siapa yang kamu maksud? Kamu sedang sakit hati ya karena inceran kamu diserobot orang?" tanya Anin.
Pertanyaan yang dilontarkan Anin ditangkap Celin berbeda. Celin langsung naik pitam, baginya Anin sudah menantangnya secara tidak langsung.
"Kamu jangan pura-pura jadi teman padahal uler, kamu sadar nggak sih apa yang sudah kamu lakukan sama aku?" Celin menggebrak meja, otomatis semua karyawan yang sedang ada di sana terkejut apalagi teman satu mejanya.
Anin melongo kaget, tidak menyangka Celin akan semarah itu. Ia belum sadar jika masalah Willy adalah hal utama pemicu kemarahan Celin.
"Maksud kamu apa masa gara-gara masalah jus sampai semarah itu sama aku, kalau kamu marah kamu bisa bilang baik-baik jangan sampai malu-maluin semua orang tahu!" Anin ikut kesal dengan intonasi bicara yang mulai meninggi.
"Apa gara-gara jus? Heh bukan hanya jus yang kamu ambil tanpa seijin aku, tapi juga masalah pak Willy. Kamu diam-diam nyerobot padahal kamu tahu kalau aku yang lebih dulu dekat, kamu kan tahu aku suka sama pak Willy." Teriak Celin jadi tontonan gratis di kantin.
Mata Anin membulat sempurna mendengar Anin menyukai suaminya.
Celin mengempaskan tangan Agnes dari pundaknya.
"Jangan membela dia yang tidak tahu sopan santun!" Celin lebih dulu meninggalkan kantin, amarahnya masih belum padam dan masih ingin melampiaskannya pada Anin.
"Sudah-sudah. Nin, ayo kita balik ke ruangan." Ajak Agnes menghela Anin keluar dari kantin.
Sedangkan Dwi mendadak berwajah pucat, ia diam terpaku setelah kepergian teman-temannya seorang diri.
"Mati gue!"
*
__ADS_1
*
*
*
*
"Nin, Celin kalian berdua kemari!" Titah Agnes di caffe dekat Rumah Sakit Medika usai menengok Maryam.
Kedua-duanya tidak menunjukan wajah yang ramah, hanya wajah yang tertekuk menahan kesal. Anin merasa Celin telah mempermalukannya di depan umum sedangkan Celin merasa Anin sudah merebut pria pujaannya.
"Anin, Celin dengarkan saya. Tidak ada yang boleh bicara jika saya belum selesai! Ini murni kesalahpahaman. Dwi sudah cerita sama saya, bukan saya membela Anin atau membela Celin. Saya menengahi kalian, saya malu kalau kalian bertingkah seperti anak kecil. Celin, Anin tidak tahu kalau kamu suka sama pak Willy dari dulu. Anin tidak tahu kalau kalau kamu menitipkan hadiah dan pesan untuk pak Willy. Karena saat itu Maryam keguguran jadi yang memberikan hadiahnya yaitu Dwi. Setahu Dwi saat itu pak Willy juga disibukan dengan tugas pak Langit. Jadi di sini sebenarnya tidak ada yang salah semuanya hanyalah missunderstanding."
Celin teringat beberapa bulan lalu, ia memang menitipkan hadiah untuk Willy beserta pesan ungkapan cintanya. Ketika itu Celin ditugaskan dinas ke luar kota dan menyuruh Dwi menyampaikan pesan pada Anin agar memberikannya pada Willy karena Celin tahu Anin sering bertemu dengan Willy.
Namun kejadian Maryam di Rumah Sakit membuat Anin tidak datang ke kantor. Dwi berinisiatif sendiri menyimpan hadiah dari Celin di ruangannya Willy.
Celin mengusap wajahnya kasar mendengar pengakuan Dwi langsung.
Anin juga berpikiran jika setelah ia menikah Celin menjaga jarak dengannya, bahkan ketika pernikahannyapun Celin tidak hadir dengan alasan pulang kampung karena orang tuanya sakit.
Anin paham sekarang kenapa selama ini Celin bersikap Aneh.
"Anin, Celin. Ini murni salahku, kalian tahu kan kalau aku ini pelupa. Salahnya juga aku tidak bilang lagi sama Celin dan Anin. Aku juga tidak peka dengan perubahan sikap Celin pada Anin akhir-akhir ini. Maafin ya," ucap Dwi penuh penyesalan.
Baik Anindya maupun Celin tidak ada yang menjawab sama sekali, mereka hanya diam dalam pikirannya masing-masing.
***
__ADS_1
Bersambung...