
flashback on
Sore itu Emieer dan Sava pergi ke dokter kandungan untuk USG. Karena seminggu yang lalu, bidan yang biasa menangani cek rutin Sava berucap, jika sang janin di dalam kandungan Sava dalam posisi melintang.
Sebagai suami Emieer ikut kawatiran dengan keadaan sang janin di dalam perut Sava. Apalagi kini kandungan Sava sudah memasuki bulan ke sembilan. Yang artinya, adalah bulan persiapan untuk bersalin.
Karena sang bidan telah menyuruh Sava untuk berkonsultasi ke dokter, maka Emieer dan Sava sore itu pergi ke dokter spesialis kandungan.
"Bagaimana dokter, keadaan bayi kami di dalam kandungan Istri saya," tanya Emieer pada sang dokter, yang baru saja selesai memeriksa Sava.
Sava yang sejak di beri tau jika, keadaan bayi dalam kandungan nya dalam posisi melintang menjadi sedikit takut. Sepanjang berkonsultasi ke dokter, tangan Sava tak berhenti mengengam jari jemari Emieer.
Setelah melakukan serangkaian USG dan juga pemeriksaan yang mendalam tentang kondisi bayi di dalam perut Sava. Kini sang dokter memberikan penjelasan yang detail soal hasil pemeriksaan tadi. Dan juga memberikan penyuluhan beberapa tips pada Sava untuk di praktekan di rumah.
"Jagan terlalu panik Bu, janin nya dalam keadaan sehat dan aktif. Hanya saja memang, posisi sang janin dalam keadaan susang. Tapi hal itu tidak perlu di takutkan. Bisa di atasi dengan beberapa metode seperti yang sudah saya jelaskan tadi." pungkas sang dokter memberitahu Sava dan juga Emieer.
"Lalu, metode apa yang tepat untuk di lakukan istri saya dokter?" tanya Emieer sangat ingin tau. Sepajang percakapan dengan sang dokter, Emieer lah yang banyak bertanya. Sava lebih banyak diam dan terus menempel pada Emieer, merangkul lengan Emieer.
"Ibu relek saja ya Bu, jangan terlalu takut. Hal semacam ini banyak di alami oleh para ibu di usia kandungan yang mendekati persalinan. Asal ibu banyak melakukan senam dan beberapa gerakan mensimulasi janin agar bisa kembali berputar pada jalan rahim, saya yakin ibu bisa melahirkan bayi ibu dengan cara normal seperti yang ibu inginkan." ucap sang dokter menjelaskan dengan ramah.
"Nanti akan saya berikan tips dan juga rekaman video dalam bentuk CD agar ibu bisa mempraktekkan di rumah. Setelah satu Minggu ibu kembali untuk konsultasi ya, untuk pengecekan kembali."
Akhirnya dengan perasaan sedikit lega, Sava dan Emieer dengan menaiki taksi berniat kembali ke rumah kost.
Sepajang berjalan menuju rumah kost di daam taksi, Sava yang duduk bersandar pada Emieer hanya diam saja. Emieer yang sejak tadi menjadi tumpuan tubuh Sava mengelus elus lengan Sava.
"Tenang sayang, kamu pasti bisa. Dia anak pintar dan juga sayang mama nya," tukas Emieer sambil mengelus perut bulat Sava yang semakin besar.
"Aku bukan takut sakit nya, aku juga belum tau seperti apa sakit nya melahirkan. Karena aku juga belum berpengalaman soal itu. Aku hanya takut terjadi apa apa dengan bayi kita."
__ADS_1
"Nanti kamu lakukanlah senam dan gerakan gerakan yang tadi dokter sarankan, semoga itu bisa membantu membuat posisi nya kembali normal." tukas Emieer, menentramkan. Selama perjalanan menuju rumah, Sava tak jarak sedikit pun dari Emieer di kursi belakang taksi. Diri terus menempel.
Semakin hari Sava semakin tak terpisahkan dengan Emieer. Sifat manja dan posesif selalu di tampak kan oleh Sava pada suami nya itu. Sedangkan Emieer sendiri pun juga semakin perhatian pada Sava. Bahkan untuk hal hal kecil sekalipun. Emeeir begitu merawat dan mengurus Sava.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sesampainya mereka di rumah kost. Emieer menyuruh Sava untuk membersihkan diri. Sedangkan Emieer kemudian membuka lemari pendingin dan mencari sesuatu untuk bisa di olah.
Akhirnya Emieer mengeluarkan saous pasta siap masak kemudian dia memasaknya. Tak lupa juga dia merebus pasta yang di tungku yang lain.
Begitu Sava keluar dari kamar mandi, sambil mengusap usap rambut panjang nya dengan handuk setelah ia keramas, Sava tersenyum manis, melihat sang suami begitu cekatan dalam memasak.
"Dari mana kau belajar memasak Emieer, bahkan kau lebih jago dari ku soal masak memasak." ucap Sava, berjalan kerarah Emieer yang masih sibuk menyiapkan makan malam mereka di depan meja kompor kecil mereka.
"Aku ditinggal orang tua ku dari kecil sayang, aku sudah biasa hidup mandiri dari aku masih berumur 12 tahun. Kemudian aku di asuh oleh Paman Faizal setelah orang tua meninggal karena kecelakaan. Saat aku lulus SMA aku sudah hidup mandiri di tempat kost ini." ucap Emieer sambil mengaduk aduk rebusan pasta nya.
"Boleh aku bertanya?" tanya Sava ragu.
"Pernah kah kau membawa wanita selain aku masuk ke kamar ini ?" tanya Sava menyelidik, sampe sampe dia mengigit bibir bawah nya. Takut Emieer marah. Mendengar pertanyaan sang istri membuat Emieer tertawa geli.
"Pernah!" jawab Emieer mantap.
Lalu Sava yang tadi nya berexpresi santai, kini berubah merah padam wajah nya. Sava terlihat terbakar cemburu.
"Seorang wanita cantik, yang baik dan penyayang." lanjut Emieer.
"Siapa wanita itu? Kau tak pernah bercerita sebelumnya," ucap Sava berucap dengan intonasi suara tinggi. Dan Emieer semakin bersemangat untuk mengerjai sang istri. Emieer kemudian mematikan kompor, dan berjalan ke arah Sava yang kini sudah berwajah cemberut dan masam.
Melingkarkan kedua tangannya ke arah perut Sava yang buncit, Emieer kemudian mengecup dahi Sava dalam dalam.
"Ingat Bu mil, jangan suka darah tinggi. Dokter bilang apa, orang hamil tidak boleh tekanan darah nya tinggi. Harus rilex." ucap Emieer.
"Jawab dulu pertanyaan ku yang tadi, siapa wanita yang pernah datang ke sini," tanya Sava tak sabaran.
__ADS_1
"Wanita itu, Bibik Fatimah sayang. Bibik ku, Istri Paman Faizal. Puas." ucap Emieer. Lalu pukul keras mendarat di lengan Emieer.
"Kau sengaja ya membuat aku cemburu." ucap Sava gemas pada sang suami. Tak hanya memukul lengan Emieer, Sava juga mencubit perut Emieer, sampe sampe Emieer meng aduh kesakitan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah mereka selesai makan malam sebuah olahan pasta yang Emieer buat. Yang cukup membuat Sava sampe menambah dua kali. Kini Emieer berjalan ke arah ranjang, mempersiapkan tempat tidur dengan rapi untuk sang istri yang hendak beristirahat.
Sava yang memperhatikan sang suami yang super siaga dan perhatian itu, membuat Sava tak pernah berhenti bersyukur memiliki pendamping hidup seperti Emieer Sadiq.
"Tempat tidur sudah siap sayang." ucap Emieer.
"Aku belum mengantuk sayang, boleh kah kita mengobrol dulu di sini." ucap Sava, kemudian Emieer kembali duduk di kursi di sebrang Sava kini juga duduk.
"Aku membaca ini, ini buku kerja mu kan, aku tak sengaja membaca tulisan mu di buku mu. Jika kau ingin sekali mengajak ku pergi ke Alaska dan mengunjungi sungai Nil. Kau tau itu juga tempat yang ingin aku kunjungi." ucap Sava, yang kemudian memperlihatkan tulisan Emieer, di mana Emieer menulis beberapa bait tulisan jika dia ingin mengajak istri nya pergi ke Alaska dan mengunjungi sungai Nil. Emieer meraih buku nya dan kemudian tersenyum.
"Yeah... entahlah. Aku tertarik dengan Alaska, sebuah negara bagian dari Amerika yang beriklim dingin itu. Aku pernah browsing dan melihat betapa indah nya alam di sana, hampir semua masih terlihat alami. Itu hanya sepenggal ke inginkan sayang. Entah bisa apa tidak aku mengajak mu ke sana. Dan tentang sungai Nil. Aku ingin juga membawa mu kesana. Menikmati pagi dan malam di sana. sambil bersenandung seperti yang sering kita lakukan di danau."
"Aku yakin, kau bisa membawa aku ke sana Emieer. Bukan hanya aku. Tapi juga bersama anak kita." ucap Sava tersenyum manis.
"Ya, kita kesana bersama anak kita nanti. Dan sekarang waktunya ibu hamil untuk istirahat."
Ucap Emieer, yang kemudian tanpa persetujuan Sava. Mengendong Sava dari kursi ke tempat tidur. Sava yang di perlakukan seperti itu oleh Emieer hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Di letakkannya Sava pelan ke tempat tidur. Lalu menarik selimut sampe menutupi perut sang istri.
"Tidurlah, aku ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan." ucap Emieer. Lalu mengecup puncak kepala Sava.
"Jangan malam malam ya, kamu juga harus istirahat."
"Ia, sayang ku." balas Emieer.
🤗💐🥰
__ADS_1