
Cara berpakaian Adinda saat ini juga cukup memancing lawan jenis untuk melirik, blouse putih yang dikenakannya cukup transparan sehingga bagian pakaian dalam Adinda tercetak jelas.
Langit sadar ia tidak mau memancing cemburu Maryam, ia masuk ke ruang kerjanya memilih memeriksa berkas-berkas.
Langit kemana sih? Kenapa dia malah pergi, aku kan mau ketemu dia bukan mau ketemu Maryam.
"Kamu cari siapa?" tanya Maryam merasa tingkah Adinda cukup aneh.
"Aku hanya melihat-lihat dimana toiletnya. Tadi sebelum ke sini aku ke caffe dulu banyak minum jadinya kebelet," ucapnya berbohong.
"Mau ke toilet? Itu masuk saja ke pintu itu lurus terus belok di sana toiletnya." Tunjuk Maryam.
"Oh iya, kalau gitu aku numpang dulu ya." Adinda jalan tergesa berpura-pura ingin buang air kecil, jangan sampai Maryam tahu dirinya berbohong.
"Tenang saja, Langit tidak akan sampai tertarik dengan model begituan. Nggak ada dalam kriterianya." Ainun tersenyum tipis memperhatikan raut wajah Maryam.
"Nggak ko, Ma. Cuma nggak suka saja, dari dulu dia orangnya kaya gitu. Aku nggak suka caranya lihatin Mas Langit kaya tadi," ucap Maryam menyebikkan bibirnya.
"Tenang saja yang penting Langitnya kan nggak, sudah jangan dipikirkan."
Suara langkah terdengar mendekat, Adinda sudah kembali dari toilet. Ia mengambil duduk di dekat Maryam, pura-pura memperhatikan Baby Gala. Padahal ia sedang mencari-cari dimana Langit.
"Masih mau ke kamar mandi?" tanya Maryam.
"Nggak, aku mau pamit pulang tapi pak Langit dimana ya?"
"Mm mungkin mas Langit sedang ada di ruang kerjanya. Sedang banyak pekerjaan," kata Maryam sengaja.
Adinda tersenyum paksa, ia lantas pamit setelah dirasa cukup. Lagi pula Langit tidak ikut di sana tidak ada alasan lagi untuknya berada di rumah Langit.
"Sial! Apa aku bilang, Langit berubah sikap sejak hari itu." Adinda mengeram kesal, memukul stir kemudinya.
Adinda memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal, kekesalannya ia tumpahkan di jalanan memacu adrenalinnya sendiri.
__ADS_1
*
*
*
*
*
Sudah 2 jam Langit belum keluar dari ruang kerjanya, Maryam ingin tahu apa yang sedang suaminya lakukan di sana.
Tidak ada Langit di meja kerjanya, mata Maryam menangkap sosok yang dicarinya itu sedang tertidur pulas berbaring di sofa.
"Ya ampun, Mas Langit tidur di sini." Maryam bersimpuh menahan kaki dengan lututnya.
"Jangan lihatin terus kaya gitu, aku memang tampan ko." Mata Langit terbuka, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kamu memang suamiku yang tampan, Mas. Kamu sudah mendekati sempurna, terima kasih atas semua hal yang sudah kamu lakukan buat aku."
Langit beringsut duduk menarik tangan Maryam sehingga Maryam berada di pangkuan Langit. Tangan Maryam dilingkarkan di leher suaminya.
"Aku juga tidak mengira sama sekali akan memiliki keluarga bersamamu. Wanita bersuami yang kukejar-kejar bahkan kini berada dalam dekapanku." Langit mengecup bibir Maryam cukup lama, merasakan desiran hangat yang terjadi dalam tubuh. Desiran hangat yang mampu mengobrak-abrik pertahanannya untuk tidak minta dipuaskan.
Maryam menahan diri untuk tidak tertawa, merasakan Langit junior sudah menegang di bawah sana.
"Puas kamu, Sayang?" Matanya sudah tampak sayu, bila dibiarkan ia takut tidak bisa mengontrol dirinya untuk berbuat lebih.
"Sabar ya. Aku yakin kamu bakalan tahan." Seringaian di wajah Maryam tercetak jelas membuat Langit tersenyum kesal.
***
Maryam merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya melayang pada bayi dan suaminya. Ia merasa bersalah pada Gala tapi di sisi lain ia juga tidak mau memberikan ASInya secara langsung. Tubuhnya benar-benar lelah.
__ADS_1
"Langit, jangan terlalu keras pada istrimu. Kasihan, Mama juga pernah merasakan masa-masa hamil dan melahirkan. Keduanya berbeda. Kalau Maryam awal-awal merasa bahagia dengan kehadiran buah hatinya maka jangan heran jika suatu saat Maryam akan merasakan kesal. Tidurnya terganggu, tidak mau menyusui. Semuanya wajar," ucap Anin memberikan pengertiannya.
"Huh," Langit mendesah. Ia memang sedikit berkata dengan nada tinggi pada Maryam tapi bukan berniat memarahinya hanya merasa kesal saja akibat sikap Maryam seakan cuek mendengar bayi mereka menangis.
Ia memang tidak merasakan rasanya menyusui itu seperti apa, kenapa juga ia harus marah pada istrinya karena putingnya yang sakit. Toh Maryam juga punya alasan sendiri, ia juga bukan seorang ibu yang tega melihatnya bayinya kelaparan.
Langit mulai menyingkirkan pikiran-pikiran kotornya, mungkin saja benar kata Ainun kalau istrinya mengalami baby blues. Ia harus banyak bersyukur, sejauh ini Maryam merupakan istri yang baik dari semenjak mereka menikah, hamil sampai punya anak. Istrinya tidak pernah neko-neko hanya rasa cemburunya yang tinggi itupun Langit sangat menyukainya.
"Wanita melahirkan dan menyusui itu punya emosi berubah-ubah, kamu sebagai suami harus peka. Tidak boleh bersikap keras, jangan bermain fisik atau verbal. Mama yakinlah kamu nggak akan melakukannya. Mama sangat yakin itu," kata Ainun.
"Iya, Ma. Langit cuma sedikit emosi saja. Kalau begitu Langit bawa Galaksi ke kamar ya,"
Ainun mengangguk, dibawanya Galaksi ke kamar.
Di dalam kamar, Maryam sedang berbaring. Ia belum sepenuhnya memejamkan mata, telinganya masih bisa mendengar sayup-sayup langkah kaki mendekat.
"Tuh, Mama belum tidur." Langit membaringkan Baby Gala di samping Maryam. Berharap istrinya tidak merasa dimarahi seperti tadi.
"Mas," ucap Maryam.
"Iya, kenapa? Bisa menyusui langsung apa pakai botol saja?" Langit coba bicara sehati-hati mungkin.
"Pakai botol saja ya, soalnya putingku masih sakit. Lecet, Mas."
Langit tidak ingin memperpanjangnya, kalaupun diperpanjang ia tidak akan mampu menahan godaan dari dua gundukan sintal yang bisa menggugah hasratnya.
"Iya, aku ambilkan dulu ASIPnya ya. Bu Mira sedang menghangatkan lagi di bawah, tadi bu Mira bawa tidak cukup buat Gala. Masih lapar saja dianya." Langit beranjak sambil terkekeh, memang benar kata mamanya bayi laki-laki kadar asupan ASInya lebih banyak dari pada bayi perempuan.
***
Bonchap ini lanjutan dari TAMU TAK DIUNDANG dan LANGIT KESAL.
SEMOGA MENGHIBUR..
__ADS_1