BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Makanan Untuk Ibu Hamil


__ADS_3

"Selamat pagi Pak Langit, Ibu Maryam. Kita bertemu lagi." Sapa dokter Prisa sangat ramah, terakhir mereka bertemu ketika Maryam kehilangan calon janinnya saat itu.


"Pagi juga, Dokter." Keduanya membalas sapaan secara bersamaan.


"Kalau begitu langsung saja ya kita periksa, dokter Ryan sudah membicarakannya tadi. Silahkan Bu Maryam direbahkan dulu di sana," ucap dokter Prisa.


Maryam mengikuti perintah Prisa merebahkan dirinya di bed pemeriksaan.


Prisa menaikan bluose yang dikenakan Maryam dan menurunkan bagian celana agak ke bawah. Prisa mengoleskan gel ke area rahim dan mulai menggerakan doplernya.


Dari monitor Prisa menjelaskan kondisi Maryam saat ini.


"Kehamilannya masih 3 minggu ya Bu, sebenarnya 3 minggu ini masih tahap implementasi embrio. Dan pada usia 3 minggu inilah penentu bahwa Ibu Maryam hamil. Bentuknya masih sebesar kepala jarum pentul ya, bisa di lihat ya Bu." Prisa menggerakan doplernya lalu memperbesarnya.


Langit bisa merasakan kebahagiaan yang juga dirasakan istrinya, matanya terasa panas dan Langit menahan agar air di dalamnya tidak keluar.


"Iya, Dok. Saya bisa melihatnya." Maryam tersenyum bahagia, penampakan di depannya sangat nyata dan jelas. Ia diberikan kesempatan untuk mengandung lagi.


Selesai di USG, Prisa sedikit memberikan saran agar keduanya hati-hati dalam berhubungan suami istri terlebih Maryam pernah mengalami keguguran.


"Ibu Maryam harus menjaga kondisinya sebaik mungkin, jangan kelelahan dan mengangkat barang berat dan juga hubungan suami istrinya dilakukan secara lembut saja ya, Pak." Prisa menyunggingkan senyumnya melirik pada Langit yang dengan seksama mendengarkannya dari awal.


"Saya melakukannya selalu lembut, Dok. Tidak pernah kasar." Pernyataan Langit seolah bantahan dirinya memperlakukan Maryam penuh kelembutan.


"Mas." Maryam mencubit paha Langit agar suaminya itu tidak bicara lagi.


"Ada mual muntah ya, Bu?"


"Ada, Dok."


"Saya akan meresepkan vitamin dan juga pengurang rasa mualnya." Prisa tampak mencatat di kertas resep.


"Dokter, saya minta anda sendiri yang langsung mengambilkan obatnya. Saya tidak mau kejadian dulu menimpa istri saya lagi!" Tegas Langit. Tiba-tiba hawa dingin terasa di ruangan pemeriksaan kandungan itu.


Prisa ingat betul kejadian dulu salah satu perawat dengan sengaja memberikan obat peluruh kandungan pada Maryam.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya akan mengambilkannya sendiri. Anda bisa menunggu di loket obat."


Langit dan Maryam berjalan mengekor di belakang Prisa. Mereka berdua menunggu di loket obat, di dalam ruang farmasi Prisa tampak menyiapkan sendiri obat untuk Maryam.


Kedua pasangan yang berbahagia itu terus menyunggingkan senyuman mereka. Sesekali Maryam mengusap air mata yang terus saja lolos. Langit dengan penuh kasih sayang mengusap puncak kepala istrinya.


"Jaga kesehatan ya, Sayang. Jangan terlalu cape. Dan mulai minggu depan kamu tidak akan bekerja lagi!" Langit memegaskan secara tidak langsung Maryam untuk resign.


Tidak ada bantahan yang keluar sedikitpun, Maryam menyetujuinya demi keselamatan calon janin yang dikandungnya.


***


Tiba di kedimanan Herlambang, Ainun dan Adam menyambut keduanya penuh haru setelah sebelumnya Langit mengabarkan berita kehamilan Maryam.


"Mari, Sayang. Mama bantu kamu." Ainun memapah Maryam ke ruang keluarga.


"Ma, Maryam tidak kenapa-napa ko." Agak risih sebenarnya perlakukan begitu sangat hati-hati. Ia juga masih sehat dan bisa berjalan sendiri.


"Mulai saat ini kamu harus benar-benar menjaga kehamilanmu ya. Mama akan siapkan sendiri semua makanan untukmu, harus benar-benar sehat dan bergizi. Langit sebaiknya kalian tunda rencana untuk pindah ke rumah baru. Selama kamu bekerja, Mama khawatir Maryam tidak ada yang menemani. Sampai melahirkan kalian akan tetap tinggal di sini."


Siangnya Ainun benar-benar menyiapkan makanan sehat khusus ibu hamil, grilled salmon dan tumis brokoli beserta buah-buahannya sudah terhidang di meja. Khusus hanya untuk Maryam.


"Ma, cuma buat Maryam saja. Buat Langit mana?" tanya Langit heran.


"Ya kan yang hamil istrimu, memangnya kamu mau juga?"


"Iyalah, Ma. Masa cuma Maryam saja yang dimasakin. Langit juga mau." Langit mengercutkan bibirnya karena kesal.


Ainun dan Adam terkekeh melihat putera mereka manja.


"Nanti Mama masakin lagi, sekarang makan saja masakan yang ada."


Langit menoleh pada istrinya yang sedang sibuk melahap dan menikmati setiap suapan masakan buatan Ainun. Langit sampai harus menelan salivanya. Tak tega kalau harus menyomot makanan istrinya.


Selesai makan siang Langit pergi membawa mobilnya ke mall yang tidak jauh dari rumah. Ia membeli banyak susu hamil untuk istrinya dan juga buah-buahan serta cemilan sehat.

__ADS_1


Matanya tertuju pada beras merah yang tepajang, di jalan ia sempat membuka artikel kalau nasi merah sangat bagus untuk ibu hamil. Ia mengambil 2 bungkus sekaligus. Hidungnya mencium aroma makanan yang dipanggang dari foodcourt sebelah. Kakinya membawa Langit ke sana, sosis bakar dan juga daging bakar menggugah selera Langit untuk mencobanya.


"Satu porsi-satu porsi ya." Pinta Langit di kedai makanan di sana.


"Silahkan di tunggu ya, Kak."


Langit menunggu pesanan makanannya di salah satu kursi. Semua barang belanjaannya ia simpan di troly besar.


Ponselnya berdering lalu Langit mengambilnya di saku jaketnya. Tertera nama 'Istriku' di layar ponselnya.


"Sayang, kamu dimana? Ko pergi nggak bilang-bilang." Terdengar suara Maryam nyaring di seberang sana.


"Lagi belanja, sebentar lagi pulang ko." Suaminya itu sedang menghabiskan suapan terakhirnya.


"Kamu lagi makan?"


"Iya, soalnya di rumah mama nggak ngasih aku masakannya. Jadinya makan aja di sini," kilah Langit.


"Ya ampun kamu sampai segitunya sih. Nanti deh aku masakin, kamu pulang ya. Aku lagi pengen makan mangga muda. Kamu beliin ya, sekalian bumbu rujaknya juga. Belinya yang udah dikupas bentuk bunga itu, banyak ko di tempat jualan rujak." Pinta Maryam. Langit sampai mendesah pelan, permintaan ibu hamil memang aneh-aneh.


Begitu mobil keluar dari mall, Langit melihat penjual rujak sesuai dengan permintaan Maryam. Mangga muda yang dikupas berbentuk bunga.


"Bang, dibungkus 10 ya. Sekalian bumbu rujaknya, pedesnya di pisah."


"Buat istrinya ya, Pak?" tanya si abang penjualnya.


"Iya, Bang istri saya lagi hamil muda." Langit tersenyum, akhirnya ia merasakan lagi keinginan ngidam Maryam. Dulu Maryam juga pernah ngidam makanan pedas.


Satu kantung kresek pesanan Maryam sudah


bertengger di kursi penumpang di sebelah kemudi. Sambil bersenandung penuh kebahagiaan Langit melajukan mobilnya secara perlahan pulang ke rumahnya. Sebagai suami ia punya kewajiban memenuhi keinginan sang istri dan juga menjadi suami siaga selama kehamilan.


***


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2