
Setelah Langit selesai membereskan semua peralatan barbeque di taman belakang, terdengar suara ribut-ribut di depan rumah. Maryam yang sedari tadi hanya diam atas perintah Langit, melihat ada siapa di depan rumah.
"Apa itu teman-teman? Mas, aku ke depan dulu ya siapa tahu itu teman-teman." Maryam berjalan cepat meninggalkan suaminya sendiri.
"Jalannya hati-hati!" Teriak Langit khawatir melihat cara jalan Maryam yang tergesa-gesa.
Maryampun menuju pintu untuk tahu siapa yang datang. Bu Lela sudah terlebih dahulu membukanya.
"Maryam!" Seru teman-teman dekat satu divisi Maryam. Namun ekspresi mereka berubah tak kala melihat bu Lela yang maju.
"Hihihi." Maryam terkekeh di belakang bu Lela.
"Maaf, silahkan masuk." Bu Lela jadi malu sendiri salah sasaran teman-temannya Maryam.
Barulah ketika bu Lela masuk, Maryam menampakan dirinya.
"Aaaaahhh kangen!" Mereka berpelukan secara bergilir.
"Sama kangen juga. Selamat ya, atas kehadiran calon janinnya." Bu Agnes mengusap-usap gemas perut Maryam.
"Makasih, Bu. Ayo-ayo masuk. Langsung ke belakang saja ya, biar santai."
Teman-teman Maryam berdecak kagum, rumah bos mereka memang bukan abal-abal megahnya mirip di film-film eropa, megah dan berkelas. Maryam pasti bangga bisa tinggal di rumah mewah seperti ini. Pikir mereka.
"Pasti ini teman-temannya Maryam," ucap Ainun yang menyembul datang membawa banyak makanan.
"Eh Ibu." Serentak semuanya bangun membantu Ainun mengambil makanan di tangan mertua Maryam itu.
"Ah jangan sungkan, ayo-ayo anggap rumah sendiri ya. Sudah lama loh Ibu tidak merasakan suasana ramai seperti ini, Langit kan anak laki-laki jarang bawa teman-temannya ke rumah sedangkan si bungsu lama di luar negeri. Beruntung ada anak perempuan Ibu yang lain ini." Ainun mengusap lembut kepala Maryam.
"Iya Ibu, maaf kamu gerombolan datang kemari. Sudah lama tidak bertemu Maryam, pak Langit kemari meminta kami untuk datang." Bu Agnes sebagai yang senior mewakili teman-temannya.
"Iya, kasihan Maryam sedang hamil muda. Tidak boleh cape-cape jadi harus resign. Dinikmati yah makanannya jangan sungkan, Ibu masuk dulu." Senyum merekah di bibir Ainun sangat hangat menyambut. Keberuntungan bagi Maryam memilik mertua sebaik Ainun.
Makanan yang disediakan Ainun cukup banyak tertata di meja, puding mangga, cheese cake favoritnya Maryam, rujak segar plus sambal kacangnya, cemilan ringan dan jus jeruk yang melengkapi hidangan kali ini.
"Ngomong-ngomong pak Langit dimana?" tanya Dwi sedari tadi celingukan mencari bosnya itu.
"Eh iya, tadi sih ada di sini. Mungkin lagi ke atas. Nanti juga pasti datang," timpal Maryam.
__ADS_1
"Kalian sudah datang?" Suara Langit memecah keriuhan di taman belakang.
Bos mereka datang dengan tampilan yang menurut mereka baru pertama ini dilihatnya. Kaos hitam dan celana selutut.
"Eh iya, Pak. Maaf kami merepotkan Bapak dan Maryam juga keluarga," ucap Agnes disahuti yang lainnya.
"Santai saja, tidak repot. Kalian sendiri kan yang akan membuat makanannya, tuh saya sudah sediakan." Tunjuk Langit pada alat barbeque dan juga semua bahan-bahannya.
"Waaahh ini sih pesta," sahut Anet girang.
"Kalian santai saja ya, temani istri saya. Syukur-syukur tiap hari datang biar ada temannya," ucap Langit.
"Maaas," Maryam mendelik tajam. Mana mungkin teman-temannya tiap hari datang kan mereka juga cape baru pulang kerja.
Tak berapa lama teman-teman Maryam cukup tahu diri, mereka menuju alat barbeque. Anindya, Sely dan Anet dengan cekatan langsung memulai dengan membakar daging. Mereka tidak perlu lagi mengolesinya dengan bumbu marinasi karena rupanya Langit sudah membumbuinya terlebih dahulu.
Mereka benar-benar tidak membiarkan Maryam bekerja sedikitpun.
"Eh tahu nggak sih, si Gissele ituh yang pernah ada masalah sama Maryam dulu." Celetuk Dwi memulai kebiasaan mereka di kantor, bergosip.
"Iya dia kenapa?" tanya Agnes penasaran. Sudah lama sekali sejak bermasalah dan langsung dipecat.
"Katanya dia jadi simpenan om-om loh. Kemarin ada yang lihat dia lagi jalan berdua dan pakaiannya ituh bikin merinding disko." Dwi ngeri-ngeri gimana gitu sambil membayangkan bagaimana para wanita pemghibur berpakaian seksi.
Maryam dan Anin sibuk bercerita masa-masa hamil muda yang dirasakan Maryam. Istri bosnya itu tampak ekspresif menceritakan kalau tiap pagi ia akan mual muntah. Sesekali Maryam meringis mengingat kejadian tiap pagi.
"Eh lihat si bos, lagi diam tidak bicara saja tampak cool ya." Bisik Dwi.
"Apaan kamu bilang si bos cool? Maryam, ini nih Dwi mulai macem-macem di belakang kamu." Goda Anet.
"Apaan sih kamu iseng banget, emang si bos cool dari dulu juga." Kilah Dwi.
Maryam, Anin, Agnes, dan Sely hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.
Semuanya selesai dibakar, aroma nikmat menguar. Beruntung udara sejuk tidak turun hujan jadi bisa menikmati waktu malam sambil makan-makan.
Selesai bakar-bakar, semua makanan di hidangkan di meja kayu yang terletak di tengah-tengah taman.
"Mas, ayo kita makan sama-sama." Teriak Maryam ke arah suaminya yang masih sibuk dengan ipadnya.
__ADS_1
Langit menghampiri istri dan karyawan kantornya itu.
"Maaf saya tidak membantu," ucap Langit.
"Ah tidak masalah, masa anda membantu bakar-bakar." Sely cengengesan sambil menunjukan giginya yang putih.
"Eh, mama sama papa kemana? Sayang, aku panggil dulu ya." Maryam beranjak daru tempatnya.
"Nggak usah biar aku saja, kamu tunggu ya."
Semua teman Maryam yang menyaksikan keuwuan mereka berdua jadi baper sendiri. Melihat ke arah Maryam kemudian bergantian pada Langit. Memang keduanya pasangan serasi.
"Aduuh, pak Langit memang suami idaman banget ya. Sudah kaya, ganteng, baik lagi. Kurang apa coba? Tapi sayang," wajah Dwi mendadak ditekuk membuat semuanya penasaran.
"Apa?"
"Sayang bukan milikku, hahaha." Dwi tergelak karena kekonyolannya sendiri.
"Dasar." Sungut Maryam kesal.
"Waah, sudah selesai bakar-bakarnya?" Adam dan Ainun datang ikut bergabung. Adam menarik kursi untuk Ainun duduk lalu dirinya juga ikut duduk di sebelah istrinya itu.
"Sudah Pak, Ibu silahkan."
Sedangkan Langit duduk di sebelah Maryam.
Penuh perhatian Langit kembali mengambilkan piring beserta makanannya untuk istrinya itu.
Lagi-lagi teman-teman Maryam jadi baper. Cara Langit memperlakukan Maryam sangat berbeda dengan Langit yang mereka kenal.
"Kenapa lihatin Langit sama Maryam sampai segitunya?" Goda Adam pada Dwi yang hampir tak berkedip.
"Aaah, nggak Pak. Cuma suka saja lihatnya." Dwi beralasan.
"Dwi syirik Pak, karena pak Langit memperlakukan Maryam begitu romantis. Jadi Dwi kepengen," sahut Anet.
"Makanya cepetan nikah," ujar Langit santai dan to the point. Serentak semuanya menertawakan Dwi yang hanya tersenyum mendengar ucapan Langit.
***
__ADS_1
Bersambung...
Biasakan tinggalkan jejak, komen, like dan vote seiklhlasnya 😁