
Pagi ini Langit pergunakan untuk mengasuh Gala yang sudah menginjak usia 5 bulan. Mulai dari memandikan sampai memakaikan baju ia sendiri yang lakukan. Sementara sang mama diberikan waktu untuk menikmati quality timenya. Sekedar ke salon atau berbelanja.
Tiap 30 menit Maryam akan menelepon Langit menanyakan apakah Gala rewel ketika dirinya tidak ada dan Langit hanya menjawab semuanya oke. Padahal ia cukup kerepotan di saat istrinya tidak ada di rumah, itu dilakukan hanya untuk tidak membuat Maryam cemas dan tetap menikmati waktunya.
Di bantu suster Mira, Langit sekarang sedang memasang popok. Gala baru saja pup dan air kencingnya sampai mengenai baju sang papa.
"Pak, biar saya saja. Sebaiknya Bapak istirahat," kata suster Mira merasa kasihan melihat Langit sangat kerepotan.
"Tidak Sus, biar saya saja. Lagian saya menikmati waktu seperti ini, mumpung saya lagi libur Sus."
Suster Mira mengulum senyumnya, memberikan apresiasi setinggi-tingginya karena majikannya itu sudah mau mencoba dan mau berbohong pada istrinya.
Beruntung Maryam bersuamikan Langit, begitu sangat perhatiannya ia. Seminggu yang lalu, Langit menyuruh Maryam untuk menghabiskan waktunya sendiri. Jangan terlalu fokus mengurusi anak, karena Langit juga akan membantu jika waktunya senggang.
"Aku jadi gak enak sama mas Langit, harusnya aku yang jaga Gala tapi mas Langit maksa aku untuk jalan-jalan katanya biar gak stress." Maryam bercerita tentang semua yang kegiatannya di rumah semenjak memiliki anak.
__ADS_1
Maryam tidak hanya bersama Anin sekarang, ia juga berkumpul dengan teman satu divisinya. Sekarang mereka berenam sedang makan di sebuah restauran.
"Aku gak nyangka deh di balik sosok pak Langit yang tegas ternyata bucin juga yah," ujar Anet.
"Bener tuh, setuju aku sama Anet." Agnes ikut menimpali.
Maryam melengkungkan bibirnya mendengar pujian-pujian yang mengalir untuk suaminya.
Tak dapat dipungkiri hati Agnes masih menyimpan riak-riak sukanya pada atasannya itu tapi apalah daya, Maryamlah sang pemenangnya.
"Naksir? Bukannya kamu udah punya pacar?" sembur Dwi.
"Gak jadi itu, soalnya dia kurang dewasa. Masa tiap makan harus aku yang bayarin, kan gak seru." Anet dengan polosnya mengungkap kedekatannya dengan pria yang umurnya berada di bawahnya.
"Itu sih bukan kurang dewasa Net, tapi kurang duit hahaha." Sontak semuanya tertawa tanpa terkecuali.
__ADS_1
Wajah Anet sudah berubah merah merona, ia membenarkan perkataan Dwi barusan.
"Udah deh ketawanya udahan, aku kan bukan mau cerita dia yang nyebelin itu. Yang mau aku ceritain yaitu anak baru di divisi keuangan," ucap Anet malu-malu.
"Aku nyerah deh, aku no comment karena aku tidak kerja lagi jadi aku gak tau." Maryam melambaikan tangannya.
"Emangnya ada anak baru di keuangan? Siapa? Ganteng Gak?" Dwi ikut penasaran, ia menopang dagunya untuk mendengarnya cerita Anet lebih lanjut.
"Gantenglah, tapi masalahnya si Siska anak pemasaran udah mepet-mepet lebih dulu. Bawain kopilah, makananlah." Curhatnya.
"Ya elah Net, bawain kopi mah kecil. Kamu tinggal bawain dia sama mesin-mesinnya sekalian atau kamu bayar pak Mamat buat bikinin kopi tiap hari buat tuh cowo."
Anet mendengus kesal, Dwi selalu menjawabnya dengan candaannya. Kalau seandainya mereka tidak sedang berada di tempat umum Dwi sudah habis di bantai Anet.
***
__ADS_1