BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Senang Memanjakan Istri


__ADS_3

Sudah sejak 30 menit lalu Maryam pulas tidur dalam pelukan suaminya. Sedangkan Langit masih belum memejamkan matanya padahal ia sudah sangat lelah karena seharian ini disibukan dengan pekerjaannya. Turun langsung meninjau pabrik dan pulang lagi ke kantor. Ini akibatnya menyelesaikan pekerjaan untuk hari esok.


Langit bergerak sepelan mungkin agar istrinya tidak terbangun. Ia menarik dirinya dan menyandarkan tubuh Maryam ke tempat tidur.


Langit mengambil nafas pendek-pendek, minggu depan ia harus bertolak ke Bandung dan mau tidak mau harus meninggalkan Maryam. Akan berat baginya di saat-saat sulit istrinya, semoga saja minggu depan sudah membaik.


*


*


*


*


*


Tengah malam Maryam terbangun, tenggorokannya terasa kering. Ia melihat air minum dalam botol di atas nakas sudah kosong, lupa tidak mengisinya sebelum tidur.


Ada juga minuman dingin di dalam kulkas, Maryam tidak mau ia ingin air hangat lewat ke tenggorokannya itu. Dilihatnya Langit sudah mendengkur halus, pria itu masih terlihat tampan meskipun sedang terlelap. Maryam menarik satu sudut bibirnya ke atas.


Langkah kakinya membawanya ke luar kamar, menuruni anak tangga untuk sampai ke dapur.


"Sayang." Tangannya tercekat tak kala mendengar suara seorang pria dan ternyata itu Langit. Pria itu menyandarkan dirinya di daun pintu.


Maryam mengehela nafasnya, sepertinya Maryam benar-benar kaget dengan kedatangan Langit yang tiba-tiba.


"Mas, kamu bikin aku kaget." Hampir saja Maryam ambruk.


"Kamu mau ambil minum, kenapa nggak bangunin sih. Kan aku bisa ambilin, jangan kamu yang turun." Mulai deh Langit cerewet.


"Aku nggak tega, lihat kamu lagi tidur dengkur gitu mana berani aku bangunin." Maryam meneruskan menekan tombol dispenser mengisi botol airnya sampai penuh.


"Mana ada aku dengkur, kamu salah lihat kali." Elak Langit.


Maryam tergelak sendiri, "Iya salah lihat, emangnya kamu punya kembaran. Udah ah kamu masuk kamar sana. Aku masih mau lihat-lihat isi kulkas," tangannya sambil dikibas-kibaskan pada suaminya.


"Kamu lapar? Mau aku bikinin sesuatu?" tanya Langit.


"Iya, perutku perih. Sepertinya memang butuh asupan makanan biar di dalam sini tidak protes dan tenang lagi." Tunjuk Maryam pada perutnya yang masih rata.


Langit tersenyum tipis, tanpa menunggu persetujuan Maryam. Ia mengambil bahan-bahan membuat pasta.


"Pasta saja ya, nggak perlu lama bikinnya. Gampang lagi." Tangan yang biasanya memegang bolpoin itu kini beralih memegang pisau, memotong dan mengiris. Sampai memasukan bahan-bahannya ke dalam rebusan air dalam panci kemudian dengan cekatan ia mengambil teflon lalu memasukan bahan-bahan beserta sausnya, terakhir barulah bahan utamanya si pasta itu sendiri.

__ADS_1


Aroma harum masakan khas italia itu mulai menguar, menusuk indera penciuman Maryam.


"Ini sih bukan masakan abal-abal, kamu belajar dari mana?" Tatapan Maryam menelisik membuat Langit menjadi geli sendiri. Entahlah Langit memang menyukai Maryam menatapnya seperti itu kalau saja ia sedang tidak sibuk sudah pasti jari-jemarinya mencubit pipi istrinya sampai kemerahan.


"Pernah tinggal di luar negeri membuatku bisa masak makanan ini. Kalau dikita ini lebih kaya masak mie karena lebih praktis," jelas Langit.


"Aduh-aduh ternyata suamiku pinter juga masak ya. Ah gimana aku tidak jatuh cinta, selain tampan, perhatian, senang memanjakan istri pinter masak lagi.. Uuunncch banget sih kamu." Di cubitnya pinggang Langit yang sedang menyajikan hasil karyanya ke atas piring.


"Apaan sih kamu kaya abege labil saja."


Istrinya hanya terkekeh melihat wajah suaminya yang mulai merona.


10 menit kemudian Maryam berhasil memindahkan isi piring ke dalam perutnya, ia tersenyum puas. Masakan suaminya mampu membuat perutnya kenyang.


"Sayang, nanti besok kamu jadi ambil libur sehari?"


"Jadi, kamu mau kemana besok? Jalan-jalan atau kemana?"


"Mmm,, kemana ya. Besok aku sih rencananya mau ke mall belanja gitu kan tadi sore aku chat sama bu Agnes katanya besok sehabis pulang kerja mau ke rumah sama teman-teman divisi aku. Aku mau bikin acara sama mereka, boleh kan?" Mata Maryam mengedip-ngedip minta suaminya mengabulkan permintaannya itu.


"Hhmm," jawab Langit asal.


"Mas, ko cuma hmm aja. Gimana boleh?"


"Mama sama papa gimana?"


"Jangan dipikirin, mama sama papa orangnya bebas. Mama malah seneng, lihat saja besok pasti ikutan heboh nyambut temen-temen kamu."


Mata Maryam berbinar menantikan hari esok tiba.


***


Keesokan harinya, Maryam dan Langit mampir dulu sesuai rencana ke makam kedua orang tua Maryam. Dari kejauhan netra Maryam menangkap satu sosok wanita yang dikenalnya tengah mengusap-ngusap pusara ibunya. Siapa lagi kalau bukan Zoya.


"Jangan takut," ucap Langit memegang tangan Maryam.


Merasa ada yang datang, Zoya membalikan tubuhnya. Ia melihat Maryam dan suaminya berdiri sambil menatapnya.


Zoya mendesah pelan, ia mencium pusara ibunya sebelum beranjak.


Saat akan pergi ia berhenti sebentar, kaca mata hitamnya ia turunkan. Dan tatapannya beralih pada Maryam.


"Aku akan pergi, kembali ke luar negeri dengan ayahku. Aku titip tengokin makam ibu, dan aku juga titip Arsy pada kalian. Dia juga bagian dari keluarga kalian juga." Rupanya Zoya sudah berubah pemikirannya, ia sudah tersadar selama ini sudah membuat kesalahan.

__ADS_1


Tangan Zoya menyentuh pundak Maryam sebelum ia benar-benar pergi.


*


*


*


*


*


Selesai berziarah, Maryam dan Langit berbelanja ke mall. Mereka memilih banyak makanan dan memasukannya ke dalam troly besar. Ini kali pertamanya teman-teman kantor satu divisi Maryam mau bertamu ke rumah. Maryam ingin membuat acara kecil-kecilan seperti makan-makan bersama, sudah kangen rasanya tidak kumpul-kumpul.


"Mau barbeque saja buat acara nanti sore hmm?" tanya Langit memastikan karena istrinya masih tampak bingung.


"Iya sajalah ya, kayaknya asik juga kalau bakar-bakar. Kita pilih daging segarnya yuk, Mas." Ajak Maryam menarik tangan suaminya berserta troly besarnya itu.


Matanya berbinar melihat berbaga jenis lauk segar. Ia meminta dipilihkan udang, cumi, tuna, ikan, daging merah yang banyak. Karena teman-teman Maryam hobi makan jadi kalau hanya sedikit takut kekurangan.


"Aku pilihin sayurannya ya," ucap Langit.


Maryam mengangguk.


Sayuran segar dan juga jagung jadi pilihan Langit, ia juga mengambil bahan pelengkap lain seperti bakso dan makanan khas korea.


"Kita nggak usah beli tusuk giginya, Mas?" tanya Maryam.


"Tusuk gigi?" Dahi Langit mengerut, "ko tusuk gigi?" tambahnya lagi.


"Eh maksudnya tusuk dagingnya. Kalau tusuk gigi kan buat gigi, hehe."


Langit terkekeh, bisa saja istrinya bercanda. Memang ketika hamil segala keajaiban akan mungkin terjadi. Seperti sekarang dari mana istrinya punya bakat jadi komedian.


"Sudah semuanya?"


"Aman, Sayang."


***


Bersambung...


Haii bala-bala Maryam dan Langit. Sorry dorry morry. Aku mau minta maaf, awalnya belahan jiwa ini mau ditamatin aja jadi 85 episode. Tapi demi apa ini levelnya jadi naik. Jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja, rezeki jangan ditolak iya kaaaaannn# alaalasyahriniieuteh.

__ADS_1


Jadi mohon dimaklum, demi level eh demi readers eh demi apalah itu namanya. Jadi ceritanya mau diperpanjang sama anaknya berojool.... Duh maap ya😘😘😘


__ADS_2