BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Kemungkinan


__ADS_3

Maryam mengerjap saat alarm berbunyi nyaring, sengaja ia memasangnya sejak malam tadi karena tidak mau terlambat berangkat ke bandara. Rencananya hari ini ia dan Langit akan ikut Aisha dan Zayn bulan madu ke Bali. Adik iparnya sengaja tidak memilih tempat yang jauh atau luar negeri sebagai destinasi bulan madunya. Cukup di Bali saja, karena Zayn seminggu lagi sudah harus berangkat ke Madinah.


Maryam menyibak selimutnya, ia bangkit dari tidurnya. Tapi baru saja Maryam bangun, kepalanya terasa sangat berat.


Langit yang sudah bangun terlebih dahulu mengahampiri istrinya, ia duduk di samping Maryam lalu merangkul Maryam.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Langit khawatir.


"Apa memang pucat, Mas?"


"Iya, kamu sakit? Kita ke dokter ya," saran Langit.


Maryam menggeleng.


"Nggak usah, Mas. Kita akan telat kalau ke dokter dulu. Kita kan mau berangkat pagi, kasihan kan kalau Aisha dan Zayn menunggu. Cepat Mas mandi, aku akan menyiapkan baju gantinya. Perlengkapan buat nanti di Bali sudah aku siapkan tadi malam."


Maryam mendorong tubuh suaminya ke arah kamar mandi, Langit mengalah saja dan membiarkan tangan istrinya mendorongnya sampai ke depan pintu kamar mandi.


"Oke kita berangkat, tapi sampai di Bali kalau kamu merasa tidak enak badan kita langsung periksa, aku tidak mau kamu kenapa-napa." Langit mencubit pipi Maryam sampai meninggalkan bekas di sana.


"Sakit, Mas." Maryam mengaduh, ia kesal karena akhir-akhir ini Langit hobi sekali memcubit pipinya.


Langit hanya menyeringai menimpali Maryam, ia lekas mandi kalau tidak Maryam akan kembali cerewet mengeluarkan petuah-petuahnya.


Maryam mengambil kaos polo warna putih, celana jeans navy dan juga sepatu sneackers putih untuk suaminya. Usai menyiapkan pakaian, gilirannya turun ke lantai bawah memeriksa untuk sarapannya ke dapur. Di sana sudah ada Ainun dan juga Aisha sedang menyiapkan sarapan. Aroma masakan menguar membuat perut Maryam keroncongan.


"Ma, masak apa? Kayaknya masak makanan berat ya" tanya Maryam mengintip sambil mengendus-endus aromanya.


"Iya, Langit tadi minta Mama masakin gulai kambing katanya sejak semalam dia pengen makan ini. Aneh, biasanya Langit tidak terlalu suka sarapan yang berat-berat." Ainun mengatakannya sambil menatap Maryam. Ainun menambahkan kaldu dan juga sedikit gula.


"Rasanya sudah pas, Langit tidak suka makanan terlalu manis. Dia itu lebih cerewet dari pada Mama," tukas Ainun lagi.


"Masa sih, Ma?" tanya Maryam.


"Iya Kak, Kak Langit itu bawelnya minta ampun. Masalah makanan saja bisa heboh seisi rumah," timpal Aisha.


Maryam jadi tertawa, baru tahu sifat suaminya yang satu itu.


"Kamu bawa dulu minumannya ke kamar sana, nanti kalau sarapan sudah siap Mama kasih tahu."


"Iya, Ma. Aisha nganter dulu kopinya dulu ya buat Zayn." Aisha berlalu sambil membawa nampan ke kamarnya. Sudah dua hari setelah ia menikah dengan Zayn, Aisha mulai belajar memasak dan melayani kebutuhan suaminya. Ia juga untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya sebelum ikut Zayn ke Madinah.

__ADS_1


"Waah, aromanya sedap." Langit menyembul dari balik pintu dapur begitu mencium aroma masakan yang sampai ke lantai atas kamarnya. Seketika para asisten rumah tangga di rumahnya menyingkir saat nyonya rumah turun langsung menyiapkan makanan.


"Sarapanmu sudah siap, kalian harus makan banyak sebelum berangkat." Ainun lekas menghidangkannya di meja makan, ia juga membuatkan makanan lain untuk Adam. Suaminya itu menjaga sekali pola makannya, Adam hanya memakan makanan tanpa di goreng.


"Kalau gitu aku mandi dulu ya, Mas. Nggak lama ko." Maryam berlari kecil menuju kamar. Ia lekas membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi, perut Maryam tiba-tiba terasa bergejolak tidak enak. Bukan kembung tapi ia juga merasakan mual dan ingin muntah.


"Hoek,, hoek." Hanya cairan yang keluar, belum usai mengangkat kepalanya Maryam kembali muntah.


"Hoek,,hoek." Tiba-tiba tengkuknya terasa hangat, rupanya tangan Langit memijat tengkuk istrinya itu.


Guratan kekhawatiran kembali tampak dari wajah Langit.


"Mas," ucap Maryam, matanya berair. Sekuat tenaga ia memuntahkan isi perut yang belum terisi apa-apa.


"Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" Langit membantu memapah istrinya dan mendudukannya di sofa.


"Mual, Mas. Tiba-tiba mual dan ingin muntah. Rasanya perutku gak enak deh. Apa masuk angin ya,"


"Kita periksa ke dokter dan lebih baik kita tidak usah berangkat ke Bali. Kesehatanmu lebih penting."


"Ini minumlah dulu." Langit memberinya segelas air mineral.


"Makasih, Mas."


Langit mengambil handuk kecil lalu membantu mengeringkan rambut Maryam. Setelah itu ia mengambil ponselnya lantas menelepon Ryan.


"Ryan, aku dan istriku akan datang sebentar lagi. Sepertinya istriku sedang tidak enak badan, muntah-muntah. Oke." Ia menekan tombol merah dan mengakhiri pembicaraannya dengan Ryan.


"Habis sarapan kita langsung ke Rumah Sakit ya," ucap Langit lembut.


"Iya, Mas."


Ketika sarapan berlangsung Langit memberitahukan pada Zayn dan Aisha sekaligus meminta maaf karena tidak jadi ikut, ia akan mengantar Maryam ke Rumah Sakit memeriksakan kondisi istrinya itu.


"Iya lebih baik tidak usah ikut ke Bali, lihat wajah Maryam pucat begitu. Papa takut kenapa-napa nanti di sana," ucap Adam menatap lekat menantunya.


"Iya, kalian nanti sajalah liburannya. Mama tidak mau Maryam kenapa-napa," timpal Ainun.


"Kayaknya Kakak hamil deh kalau mual muntah gitu." Aisha ikut menimpali, sontak Langit dan Maryam langsung saling berpandangan satu sama lain. Dan pandangan Langit langsung beralih menatap adiknya.

__ADS_1


"Baca di internet, Kak." Aisha tahu arti tatapan Langit dari mana Aisha tahu kalau muntah mual diindikasikan hamil.


Maryam mengingat kapan ia terakhir datang bulan.


Ya ampun sudah telat satu minggu.


"Kalau hamil bagus itu, kalian periksakan saja dulu ya. Mama berharapnya Maryam memang hamil biar bisa nimang cucu." Tak terasa Ainun mengucapkannya yang langsung diamini Adam.


***


Di dalam mobil, Langit masih memikirkan kenapa istrinya mual dan muntah. Ia jadi terpikirkan ucapan adiknya kalau Maryam hamil.


"Mas." Maryam menyentuh tangan suaminya yang sedang memegang kemudi.


"Iya, Sayang?"


"Kamu lagi mikirin aku hamil atau nggak ya?" tanya Maryam. Ia juga masih bingung, kehamilan pertamanya dulu yang juga merasakan hal serupa. Mual muntah di pagi hari.


"Iya, aku lagi mikirin kalau memang kamu beneran hamil. Semoga saja ya." Seberkas harapan terbit dari wajah tampan dan teduh itu. Maryam menganggukan kepalanya mengharapkan hal yang sama dengan suaminya.


Sampai di Medika, Langit dan Maryam langsung menuju ruangan Ryan. Tapi dokter keluarganya itu tidak nampak di sana, hanya ada tas nya saja di atas meja.


"Pak Langit, Bu Maryam sudah lama menunggu?" Suara Ryan terdengar dari arah belakang, ia masuk setelah terlebih dahulu ke berkunjung ke lantai atas.


"Baru saja, baru lima menit. Bisa periksa sekarang?" tanya Langit.


"Bisa, tapi ke lantai atas ya. Dokter Prisa yang memeriksanya," jelas Ryan.


"Loh bukannya Prisa dokter kandungan?" tanya Langit dengan heran.


"Benar, Pak. Kalau dari gejalanya kemungkinan besar Bu Maryam hamil. Tapi kita belum bisa pastikan kalau belum USG."


"Baiklah, kami akan ke sana."


"Mari saya antar." Tidak mungkin Ryan tidak mengantar pemilik dari tempatnya bekerja itu.


***


Bersambung...


Yok sedekah like, komen dan votenya 😂

__ADS_1


__ADS_2