BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Langit Kesal


__ADS_3

Maryam melihat bayinya dan Langit sedang tidur di tempat tidur yang sama, mereka bagai pinang di belah dua. Lucunya tangan Baby Gala yang menutupi wajah papanya.


Maryam menghampiri keduanya memperhatikannya dengan seksama. Ia tidak menyangka bisa melewati semua fase ini, menikah, bercerai, menikah lagi dan mempunyai anak. Tidak serta merta Maryam bisa melewatinya dengan mudah semuanya butuh tahapan untuk berproses. Seperti yang sudah dilewatinya, semua orang terdekatnya tahu bahwa apa yang menimpanya adalah suatu ujian indah.


Rasanya ini seperti mimpi, bagaimana Maryam menolak habis-habisan pesona Damar Langit. Tapi justru Allah punya kehendak sendiri dan rencananya itu indah, kehadiran Damar Langit bukan tanpa alasan justru dihadirkan untuk menyempurnakan dan membahagiakan hidupnya.


Kegagalan rumah tangganya yang pertama membuatnya banyak belajar, bahwa pernikahan bukan hanya tentang memuaskan nafsu saja tapi lebih dari itu. Ada yang lebih penting, yaitu kebahagiaan.


"Sayang,"


Mata Maryam mengerjap perlahan tidak sadar jika suaminya sudah bangun.


"Kamu sedang apa?" Pelan-pelan Langit beringsut agar tidak menganggu ketenangan Baby Gala.

__ADS_1


"Aku sedang memperhatikan wajah malaikatku, dua-duanya sedang tidur terlelap. Kalian membuatku takjub," ucap Maryam.


Langit tersenyum, membalas belaian tangan istrinya di wajahnya.


***


Malam-malam Baby Gala menangis kencang tidak berhenti-henti, Ainun cepat-cepat melihat ke kamar atas. Langit sudah terlebih dahulu bangun tapi kenapa Maryam malah menangis hanya melihat Baby Gala dengan tatapan bersalah seperti itu.


"Maryam, kenapa Nak? Gala kenapa?" Ainun menghela Maryam untuk duduk dan suster Mira sedang menghangatkan ASIP untuk Gala.


"Putingku sakit, Ma. Tapi Mas Langit malah marah-marah disangkanya aku tidak mau kasih Gala susu."


Ainun tidak mau memperpanjangnya, mungkin memang karena ****** payudara Maryam yang lecet atau bisa jadi Maryam terkena baby blus.

__ADS_1


"Aku nggak marah, aku cuma kesal saja kenapa Gala nangis tapi kamu malah diemin saja. Kamu kan bisa bangunin aku, aku juga bisa jagain dia tengah malam kalau kamu pengen istirahat." Langit bersuara.


"Langit, sudah. Kamu kasih Gala susu di bawah ya. Biar nanti Mama yang gantian, Mama mau bicara dulu dengan Maryam."


Langit mengalah, ia keluar membawa Galaksi dari kamar.


"Sayang, kamu mungkin sedang capek ya. Besok di pijat lagi ya sama bu Lisma. Kalau kamu ngantuk, tidur saja ya. Jangan pikirkan masalah Langit. Nanti Mama gantiin jagain Gala," ucap Ainun lembut.


Sebagai seorang wanita dan ibu, ia juga pernah mengalami masa-masa seperti itu. Masa dimana ia tidak mau menyusui Aisya dulu dan sikap Adam sama persis dengan Langit. Hanya saja Adam dibantu ibunya dan mertuanya Ainun. Makanya Ainun sangat kasihan pada Maryam. Disituasi seperti ini pasti Maryam juga ingin merasakan kehadiran ibunya.


Maryam merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya melayang pada bayi dan suaminya. Ia merasa bersalah pada Gala tapi di sisi lain ia juga tidak mau memberikan ASInya secara langsung. Tubuhnya benar-benar lelah.


"Langit, jangan terlalu keras pada istrimu. Kasihan, Mama juga pernah merasakan masa-masa hamil dan melahirkan. Keduanya berbeda. Kalau Maryam awal-awal merasa bahagia dengan kehadiran buah hatinya maka jangan heran jika suatu saat Maryam akan merasakan kesal. Tidurnya terganggu, tidak mau menyusui. Semuanya wajar," ucap Anin memberikan pengertiannya.

__ADS_1


***


__ADS_2