BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Keberuntungan Hidup


__ADS_3

Setelah pria itu kembali ke arah motor nya dan mengendarai motor kembali, Sava pun kini bisa bernafas lega.


Kemudian ia segera kembali ke dalam mobil.


Bahkan saat ia kini sudah terduduk di kursi kemudi pun Sava masih terlihat bengong.


"Fa, kamu kenapa. Kok malah bengong." tanya Jessy. Sava yang kaget karna mendapat tepukan dari pundaknya pun menoleh ke arah Jessy.


"Tidak apa apa Jess, aku hanya masih gemetaran soal insiden tadi. Bisakah kau saja yang setir. Aku masih gemetaran." ungkap Sava.


"Okey, aku saja yang menyetir."


Dan akhirnya mereka pun bertukar posisi.


Sepanjang perjalanan menuju lokasi yang sudah mereka pilih untuk ber rekreasi, Sava hanya diam membisu. Sava tak lagi seriang tadi sebelum berangkat. Jessy yang melihat gelagat aneh temen nya itu hanya bisa melirik tanpa ingin bertanya lebih banyak.


Sava sendiri pun kini merasakan gejolak yang aneh. Hal yang sama ia rasakan beberapa waktu yang telah silam, ketika pertama kali diri nya bertemu Emieer di hotel malam itu.


Perasaan itu apakah benar, ia rasakan kembali pada sosok pria yang ia tabrak tadi.


Sambil memandangi wajah putranya, Sava kembali teringat wajah Emieer yang kini sedang berputar putar di kepala nya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan. Akhirnya mereka kini telah tiba di lokasi yang mereka tuju.


Dengan sangat bersemangat, Sava mempersiapkan semua barang barang yang mereka bawa.


Dengan merentangkan sebuah alas untuk mereka bisa duduk bersantai, Sava dengan cekatan menata makanan dan juga minuman untuk mereka nikmati.


"Apakah kau dulu sering melakukan ini bersama keluarga mu Sava?" tanya Jessy, sambil menggendong baby Zee, Jessy kagum pada Sava yang terlihat sangat lihai dalam menata semua hidangan yang akan mereka santap.


"Iya, aku dulu sering melakukan ini. Keluarga ku suka menghabiskan waktu akhir pekan bersama."


Sava kini menyiapkan alat barbeque sederhana yang mereka bawa, kemudian meletakkan beberapa sosis di atas alat pemanggang itu.


Kemudian Sava melanjutkan dengan menata beberapa roti dan juga sandwich yang sudah ia buat dari rumah di atas sebuah piring, lengkap dengan minum nya.


"Sempurna," ucap Sava, puas telah menata dengan rapi segala sesuatu nya.


"Sini sayang ikut mama," ucap Sava, yang kemudian menjulurkan kedua tangan nya untuk meraih baby Zee dari gendongan Jessy.


"Famely time," seru Sava bahagia, sambil mengajak baby Zee berinteraksi dengan meme wajah lucu yang Sava tunjukkan pada sang putera.


Dan kini, dua wanita beda status itu begitu menikmati acara piknik di hari weekend yang mereka rencanakan.


__ADS_1




Sava



Jessy



baby Zee



Di saat mereka tengah bersantai-santai dan menikmati moment kala itu, tiba tiba terdengar suara seorang pria sedang berdehem.


Dan Sava pun familiar dengan suara itu, kemudian ia menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Matthew," seru Sava kaget.


"Hai Sava," ucap Metthew sambil tersenyum manis.


"Sedang apa bapak di sini," tanya Sava sarkatis.


"Tapi kenapa bisa di sini?" tanya Sava menyelidik. Dia merasa terganggu dengan kehadiran sang bos.


"Santai Sava, rilex. Bukankah ini tempat umum, siapa saja bisa berpiknik di sini kan,"


Sava tak menjawab, ia kemudian mengalihkan perhatian pada baby Zee.


"Dia siapa Fa," tanya Jessy dengan berbisik.


"Dia bos ku, CEO di tempat ku bekerja." jawab Sava, dan Jessy pun kemudian menganguk.


"Sebenarnya, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu Sava. Jika kau tak keberatan bisa kita bicara sebentar." ucap Metthew yang masih berdiri itu.


Sesaat Sava menoleh ke arah Jessy.


"Jika ada yang ingin kalian bicarakan, bicara lah. Biar aku yang menjaga Zee." ucap Jessy.


Dan akhirnya, Sava pun memberikan waktu untuk sang bos yang ingin membicarakan sesuatu dengan nya. Entah hal apa itu, Sava pun juga tidak tau.


Dan di sebuah bangku pajang yang ada tepat di sisi danau. Di sanalah akhirnya Sava dan juga Metthew mengobrol.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


"Sebelumnya aku minta maaf, karena telah lancang kemarin. Soal aku ingin menjadikan mu istri. Tapi sebenarnya itu hanya gurauan Sava." tutur Metthew memulai pembicaraan.


"Tidak perlu minta maaf pak, karena saya juga tau, bapak hanya bercanda." ucap balik Sava.


"Tapi jika boleh aku jujur. Aku memang suka pada mau Sava. Suka dalam arti, menyukai mu secara keseluruhan. Dan itu ada sebabnya."


Mendengar itu Sava tak menjawab, ia hanya diam mendengarkan.


"Liat ini," Metthew berucap lagi, Metthew berucap sambil memperlihatkan sebuah foto pada Sava. Sebuah foto yang di dalamnya ada gambar seorang wanita cantik memakai gaun pengantin warna putih yang indah.


Wanita di dalam foto itu nampak sangat anggun.


"Apa dia istri bapak." ucap Sava.


"Ia, dia istri ku. Cantik bukan." Metthew berucap sambil tersenyum getir. Karena wanita yang mereka bicarakan saat ini telah meninggal dunia.


"Namanya Mia, kami sudah 8 tahun menikah. Di tahun pernikahan kami yang ke 8, kami sangat bahagia kala itu, karna Mia di nyatakan hamil. Berita yang membahagiakan. Tapi, beberapa bulan saat Mia mengandung, dokter juga memvonis Mia mengidap kanker darah. Hal yang membuat kami syok. Mia berjuang, Mia bertahan demi janin yang ia kandung. Demi calon anak kami ketika itu. Tetapi Mia tidak bisa melawan takdir. Tuhan lebih sayang pada Mia, dan di tahun itu pula aku kehilagan dua sosok penting dalam hidup ku. Yaitu Mia istri ku dan janin yang ada dalam kandungannya, calon putera ku. Waktu itu kami sudah sempat melakukan USG dan bayi kami lelaki. Tapi sayang, aku tidak bisa bersama dengan mereka."


Sava yang mendengar cerita Metthew pun tercengang. Dia tak mengira sang bos yang di cap nya sangat aneh dan arogan itu ternyata memiliki kisah hidup yang pedih.


Sepedih dengan hidup yang ia alami. Tetapi sang bos bernasib lebih tragis, dan diri nya jauh lebih beruntung. Karena masih ada sang putera bersama nya. Walau ia juga kehilangan suami tercintanya.


"Maaf pak, saya tidak tau kisah hidup anda sedemikian sedih. Saya sendiri juga kehilangan suami saya. Hanya saja,"


"Hanya saja, kamu lebih beruntung, kamu masih memiliki putera." jawab Metthew memotong ucapan Sava.


"Begitulah Sava, kadang kehidupan memang seperti itu. Orang lain memandang kita beruntung. Tapi sebenarnya kadang kita yang iri dengan kehidupan mereka. Mereka yang iri pada apa yang kita punya kekayaan, jabatan, kedudukan. Tapi aku malah iri pada mereka yang hidup sederhana tapi bahagia bersama keluarga nya. Sedangkan aku." Metthew kemudian terkekeh menertawakan kehidupan nya sendiri.


"Aku sendirian Sava. Padahal aku punya segalanya. Tapi aku merasa kosong."


Sesaat mereka hanya saling diam membisu. Mendalami nasib mereka masing-masing.


"Oya, kejadian kemarin di kamar hotel tidak usah di bahas lagi. Kembali pada niat ku. Aku mengajak mu bicara karena satu hal tadi, yaitu aku minta maaf jika aku lancang karena meminta mu menjadi istri ku. Itu hanya bercanda, tapi jika kau mau aku akan senang," Metthew terkekeh.


"Dan soal tawaran ku kemarin untuk mengangkat mu menjadi resepsionis atau sekertaris pribadi ku masih berlaku. Itu pure bukan karena aku ada maksud dengan mu. Kita bisa melakukan perjanjian di atas kertas bila perlu, jika kau meragukan niat baik ku. Tapi semua itu aku lakukan karna aku kasian pada mu dan karna juga aku sangat salut melihat diri mu yang begitu gigih bekerja berjuang demi diri mu dan putra mu." ucap Metthew pajang lebar menjelaskan.


"Terimakasih untuk perhatian bapak. Saya sangat berterima dengan niat bapak juga. Tapi sepertinya, saya tetap ingin menjadi housekeeping saja dulu. Masih banyak yang lebih ber hak dari pada saya pak." jawab Sava mantap.


Dan Metthew pun mengangguk paham.


"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, saya pergi dulu."


"Apa kau tak menawariku untuk bergabung," tanya Metthew yang sepertinya senang sekali menggoda Sava.


"Jika bapak mau, silahkan bergabung."


Metthew kembali terkekeh.

__ADS_1


"Lanjutkan piknik kalian, aku tidak akan mengganggu. Terima kasih sudah mendengar curhatan ku Sava." ucap Metthew tersenyum.


__ADS_2