BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Firasat


__ADS_3

flashback on


Beberapa Minggu setelah Sava melakukan banyak gerakan terapi menstimulasi janin agar kembali ke posisi jalan rahim, kini telah membuahkan hasil. Terakhir cek ke dokter, kini posisi sang bayi telah masuk pada area panggul atau jalan lahir.


Dan prediksi tanggal lahir pun semakin dekat. Emieer semakin intensif memperhatikan Sava. Setiap Sava merintih kesakitan, pasti Emieer langsung sigap bertanya, kenapa dan ada apa pada sang istri.


Dan terkadang Emieer terjaga sampe larut malam hanya untuk mewaspadai, jika sewaktu-waktu Sava hendak melahirkan.


Sava pun beberapa hari ini tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena banyak sekali hal hal yang ia rasakan. Mulai dari pegal di area pinggang yang semakin menjadi jadi. Pusing kepala, serta kaki nya yang kini terlihat sedikit bengkak.


Walaupun kata dokter itu hal biasa dan tidak apa apa, tetap saja itu membuat Emieer khawatir.


Setelah Emieer tidak bisa memejamkan mata kala malam itu. Akhirnya Emieer memilih melakukan sesuatu. Kemudian ia berjalan ke arah lemari mencari cari sesuatu. Setelah menemukan sesuatu yang ia cari, Emieer meraih sebuah tas ransel kecil, kemudian dia memasukkan beberapa helai pakaian Sava dan juga beberapa pakaian calon bayi mereka ke dalam tas.


Hal itu Emieer lakukan karna dia teringat perintah sang bidan agar mempersiapkan tas yang berisikan perlengkapan persalinan. Dari baju ganti sang ibu, baju bayi dan segala bentuk perlengkapan lain nya.


Dengan sangat teliti, Emieer mengecek kembali semua perlengkapan yang ia siapkan ke dalam tas tersebut. Pikir Emieer, itu untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Sava hendak melahirkan.


Sava yang tadi nya bergerak untuk mengubah posisi tidur dan meraba di sisi nya tak ada sang suami, kemudian ia ikut terbangun. Dan Sava pun kaget, karna sang suami nampak sibuk berkutat di depan lemari pakaian mereka.


"Kamu sedang apa jam 3 pagi begini sudah nampak sibuk Emieer," tanya Sava, yang kini telah duduk bersila di rajang sambil mengamati sang suami yang masih berkutat pada tas di hadapannya.


"Aku sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan mu bersalin sayang. Ingat kan kata bidan waktu itu, kita harus bersiap siap. Dan di dalam tas ini sudah aku siapkan berbagai hal kebutuhan mu dan juga calon bayi kita." mendengar itu Sava tersenyum bangga.


"Kau teliti sekali Emieer."


"Aku hanya berusaha menjadi suami siaga untuk kalian."


"Kembali lah tidur. Masih terlalu awal untuk bangun." perintah Emieer pada Sava. Tanpa membantah, Sava pun kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Kau juga kembalilah tidur Emieer, jika sudah selesai membereskan itu." ucap Sava menambahkan.


🍁🍁🍁🍁


Setelah Emieer selesai membereskan isi tas, pandang Emieer kembali terarah pada sang istri. Di liatnya sang istri yang kini telah pulas kembali.


Entah ada dorongan apa. Emieer mendekati Sava yang terlelap itu. Kemudian Emieer duduk di lantai sambil memperhatikan wajah Sava, dan sesekali mengalihkan pandangannya ke perut buncit Sava.

__ADS_1


"Kau wanita kuat Sava. Kau wanita hebat. Anak kita akan bangga memiliki ibu seperti diri mu. Saat wanita seusia mu masih sibuk dengan kehidupan ala remaja nya dan menghabiskan waktu dengan temen dan bebas. Kau terkurung di sini bersama ku. Menjadi istri yang penurut dan kini juga iklas menjadi seorang ibu." ucap Emieer bermonolog.


"Jika suatu saat, entah apa yang akan terjadi pada diri ku. Aku akan selalu berdoa untuk mu. Kau akan selalu mendapat kebahagiaan. Jika kelak misal aku pergi lebih dulu dari mu, aku mengizinkan mu untuk membuka hati mu untuk orang lain. Buka lah hati mu untuk org lain yang memiliki cinta yang sama besarnya dengan cinta ku pada mu."


"Tapi aku selalu berkeinginan untuk bisa mendampingi mu sampe kita tua Sava. Sampe kita berjalan membungkuk. Sampe mata kita mulai rabun, sampe helai di helai rambut kita memutih. Aku sangat ingin seperti itu. Tapi kadang umur dan waktu adalah rahasia pencipta. Jika memang aku pergi terlebih dulu dari mu, dan kau masih layak untuk melanjutkan hidup bersama pendamping yang lain. Aku rela Sava."


Kemudian Emieer mencium dahi Sava dengan dalam. Sesaat kemudian beralih mencium perut besar Sava. Sambil mengelus lembut, Emieer berbisik pada bayi nya di dalam perut Sava.


"Sayang, jika kau nanti sudah waktunya untuk lahir, dan melihat dunia, lahir lah dengan mudah yaa, jangan nakal. Jangan buat mama terlalu lama merasakan kesakitan. Mama mu berjuang untuk mu, mama mu adalah mama yang hebat. Dia yang awal nya belum siap saat kau hadir, kini mama sangat menginginkan mu sayang. Mama kini sangat antusias untuk melihat mu. Jadilah anak yang pintar ya."


Lagi lagi Emieer bermonolog. Kemudian Emieer kembali melabuhkan ciuman sayang pada perut buncit Sava.


"Papa sangat menyayangi mu nak."


🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi itu Sava terbangun ketika Emeeir sedang membersihkan diri di kamar mandi. Melihat ruangan yang rapi dan juga sarapan sudah siap di atas meja makan membuat Sava menggeleng.


"Emieer, lagi lagi kau menyerobot mengambil alih tugas ku." ucap lirik Sava. Kemudian pandangan teralihkan pada sebuah tempat tidur box bayi yang sudah terpasang di sisi ranjang. Kemudian Sava juga melihat tas ransel yang sudah siap di sudut ruangan yang semalam Emieer siapkan.


"Pagi sayang," sapa Emieer tersenyum manis pada Sava.


"Pagi juga kak," balas Sava.


"Apa kau semalam tidak tidur kembali?" tanya Sava.


"Kau juga sudah memasang tempat tidur bayi nya? bahkan kau juga sudah memasangkan mainan di atas nya. Kenapa aku bisa tidak dengar kau melakukan ini semua?" kilah Sava.


"Kau tidur nyenyak sekali sayang. Aku sengaja memasang semua itu biar nanti gampang jika bayi kita tiba tiba sudah lahir, dia sudah bisa menggunakan tempat tidur nya saat dia pulang ke rumah. Bukan kan prediksi nya Minggu ini." ucap Emieer sambil mengenakan kemeja nya untuk pergi bekerja.


Kemudian Sava menghampiri Emieer yang masih sibuk memakai kemeja itu. Kemudian dengan inisiatif Sava mengancingkan satu persatu kancing baju di kemeja yang Emieer pakai.


"Kau terlihat lebih tampan pagi ini Emieer. Wajah mu bersih dan kau wangi sekali," ucap Sava sambil mengernyitkan penciuman nya ke arah bahu sang suami. Emieer yang merasa gemas mencubit hidung mancung Sava.


"Bisa aj kamu Georgia." Emieer menimpali, kemudian dia melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Sava, mengunci tubuh Sava.


"Tumben memanggil ku Georgia," tukas Sava yang masih sibuk mengancingkan baju di kemeja Emieer.

__ADS_1


Emieer tak menjawab ucapan Sava, tapi Emieer malah mendekatkan wajahnya ke wajah Sava. Kemudian satu ciuman mendarat di bibir ranum Sava. Emieer yang awal nya hanya ingin mencium sekali, tiba tiba menjadi sangat posesif. Emieer kembali menciumi bibir Sava dengan penuh arti. Sava yang merasakan di cium dengan posesif oleh Emieer hanya bisa pasrah sambil ikut mengimbangi. Tapi ada ke aneh an pada diri sang suami yang bisa Sava rasakan, Sava hanya bisa membantin.


Setelah beberapa saat ciuman pagi yang terasa penuh siratan makna itu berakhir, Emieer masih menautkan dahi nya ke dahi Sava, sambil memejamkan mata nya.


" I love you." ucap Emieer dengan suara serak.


"I love you too." jawab Sava dengan nada lemah. Dan tiba tiba saja diri nya merasa sedih.


Setelah acara ciuman itu. Emieer dan Sava kemudian duduk di kursi dan menikmati sarapan sereal yang sudah Emieer siapkan.


Sepajang acara sarapan, baik Emieer dan Sava sama sama diam. Tak ada pembicaraan apapun.


Setelah selesai sarapan, Emieer bergegas meraih tas ransel yang biasa dia bawa ketika bekerja.


"Aku pergi dulu ya."


"Berangkat," koreksi Sava. Kemudian Emieer tersenyum.


"Ia sayang, aku berangkat bekerja dulu."


"Hai sayangnya papa, kesayangan papa, papa pergi dulu ya. Kamu baik baik sama mama. Jaga selalu mama, kalau kamu mau lahir, jangan buat mama terlalu lama menahan sakit nya. Papa sayang kamu." ucap Emieer berdialog dengan bayi nya yang masih berada di perut buncit Sava. Kemudian Sava membelai kepala Emieer yang kini sedang mencium perut nya.


"Papa cepet pulang ya," ucap Sava menimpali.


Setelah acara pamitan itu Emieer melangkah pergi meninggalkan ruang kamar. Sesaat sebelum Emieer benar benar melangkah pergi, Sava masih terus mengengam tangan Emieer. Kemudian akhirnya tangan mereka berdua terpisah saat Emieer semakin melangkah pergi.


"Emieer, lekas pulang." ucap Sava saat Emieer sudah berjalan beberapa meter dari pintu.


"Ia sayang, kamu kalau ada apa apa langsung hubungi aku ya. Baik baik di rumah." jawab Emieer kemudian mengulas senyum manis khas nya. Dan Sava pun membalas dengan senyuman manis.





😔😔😔😔

__ADS_1


__ADS_2