
3 Bulan kemudian
Ini adalah hari Minggu, dimana Sava tidak bekerja di hari libur itu. Di dalam kamar kost, Sava tampak asik bermain dengan baby Zee di atas rajang.
Baby Zee saat ini telah berusia 3 bulan. Sava, yang baru saja selesai memandikan dan memakaikan baju buat baby Zee kemudian bermain main dengan puteranya itu.
Sava nampak gemas sekali dengan bayi nya. Baby Zee kini badan nya nampak gemuk, berisi, dan sangat montok di bagian pipi nya. Kehadiran sang putera ternyata membuat dampak yang begitu besar dalam kehidupan seorang Georgia Savanah Almeera.
Terkadang, saat dia merenung sendiri. Dia banyak belajar dari kisah hidup nya. Sava yang selama 18 tahun mengira adalah anak kandung dari pasangan suami istri Hasan Malik dan juga Hannah Malik terkejut saat mengetahui jika ternyata dia hanyalah anak pungut.Tapi kemudian kenyataan itu tak membuat bersedih.
Setelah sang Papa Hasan Malik yang waktu itu sangat kecewa dengan sikap sang putri, akhirnya membongkar rahasia yang selama ini dia jaga. Hasan memberitahukan pada Sava jika diri nya bukan bagian dari keluarga Hasan Malik, dan hanya seorang anak yang di pungut dari hamparan perkebunan teh.
Tetapi Sava sendiri yang awal nya sangat sedih, kemudian berpersepsi jika dia harus nya tetap bersyukur. Bahkan dia merasa telah banyak berhutang Budi pada keluarga Hasan Malik. Karma bersama keluarga itu selama 18 tahun dia benar benar di perlakukan seperti tuan Puteri. Di sayangi oleh mama Hannah, dan juga di cintai olah dua kakak nya Audrey dan juga Kemal. Sava tetap bersyukur akan hidup nya yang masih banyak sekali di berikan anugerah dan banyak orang yang mencintai nya.
Sava juga bersyukur walau kini sang suami telah tiada, namun kehadiran sang putera seolah telah menggantikan kekosongan di hati nya. Ruang itu kini di isi oleh sang putera Zeeyan.
Kini Sava sudah benar benar menerima semua takdir yang ia hadapi.
Bersama sang putera dia menghabiskan waktu bersama di kamar kost yang bagi Sava tempat itu adalah tempat ternyaman yang ia punya saat ini. Tempat bersejarah bagi kehidupan dia bersama mendiang sang suami Emieer.
Bekerja giat, dan setelah itu bercengkrama dengan buah hati nya adalah hal yang paling Sava sukai saat ini. Rasa kehilangan itu sudah kian menguap, berganti dengan rasa keikhlasan untuk melepas sang kekasih hati.
__ADS_1
Bagi Sava Emieer tak akan terlupakan dan tak kan pernah di lupakan.
Walau diri nya kini sudah menerima kenyataan itu. Tetapi, kadang Sava masih suka berbicara dengan Emieer dengan cara memandangi foto Emieer yang ia bingkai di sebuah figura yang ia taruh di atas nakas dekat tempat tidur.
Terkadang foro itu ia bawa saat ia sedang menikmati makan di meja makan kecil mereka.
Biasanya, Sava akan mengoceh apa saja yang ingin dia ocehan kan di hadapan foto Emieer yang ada dalam figura itu. Sava tak peduli menganggap diri nya gila. Hal itu ia lakukan semata mata hanya untuk melepaskan beban pikiran yang kadang datang menganggu nya. Dan hanya ingin sekedar bercurhat, walau hanya dengan foto Emieer.
Dan seperti saat ini, saat baby Zee sudah tidur siang di tempat tidur box nya. Sava tampak memasak sesuatu untuk nya. Saat makan nya sudah siap, Sava manaruh makanan itu ke meja. Dan sepertinya Sava sudah tak sabar untuk menikmati makanan yang ia sudah buat.
Ketikan Zeeyan tidur, Sava mengunakan waktu itu untuk sekedar ber quality time untuk diri nya sendiri. Kapan lagi ia bisa lakukan itu, jika tidak di sela sela sang putera tidur.
Saat Sava begitu antusias menikmati makan nya siang nya kala itu. Dan saat ia hendak menyuapkan sup ke mulut nya, Sava teringat sesuatu. Kemudian dia beranjak dari kursi nya. Sava berjalan pelan dengan kaki telanjang nya di lantai agar baby Zee tidak terbangun.
"Nah, sudah sempurna. Selamat makan Sava." ucap nya pada diri sendiri.
"Hai Emieer, liatlah, aku makan siang sekarang. Anak mu sudah tidur nyenyak setelah ia menyusu dari sumber nya langsung tadi. Kau tau Emieer, aku selalu merasa lapar sesuai anak mu itu minum ASI, dia kuat sekali menyusunya. Aku tidak memberikan dia susu formula. Selain karna untuk berhemat, ASI itu kata mu adalah makanan terbaik buat bayi kan." ucap Sava bersemangat kemudian dia menyuap kan sup yang ia buat ke mulut nya dan menikmati nya.
"Aku menyusi anak mu Emieer, dan aku sampe sekarang melakukan itu. Jadi aku melakukan apa yang kau perintah. Jadi lega kan, saat kau menceramahi ku soal kelak jika bayi kita lahir dia harus minum ASI, aku memberikannya." ucap Sava kembali bermonolog bersama foto Emieer dalam figura. Kemudian ia kembali menyuapkan sup itu ke mulut nya sampe habis.
"Oya sayang, aku minta maaf belum sempat mengunjungi makam mu. Belakangan ni aku sibuk. Kau tau aku sekarang bekerja di hotel tempat dulu kau bekerja. Gaji ku lumayan cukup buat membiayai hidup ku dan juga anak mu."
__ADS_1
Sava berbicara dengan riang di hadapan foto Emieer. Seperti seolah olah Emieer sedang duduk di hadapannya sekarang.
"Jangan kawatiran aku sayang, walau tanpa diri mu di sisi ku, aku baik baik saja. Meski kau telah tiada, bagi ku kau masih ada di sekitar ku sekarang. Menemani ku, menjaga ku, dan mungkin kamu sedang memandangi ku sekarang." ucap Sava, kemudian seperti orang gila Sava terkekeh sendiri.
"Aku tidak peduli diri ku gila, aku hanya ingin selalu bahagia walau kau tak lagi bersama ku." Sava berucap dengan perasaan mendamba. Kemudian Sava menoleh ke arah sang putera yang masih tertidur dengan pulas di box tidur nya.
"Bersama anak mu Zeeyan, aku kuat sayang, aku bertahan, aku baik baik saja." ucap Sava, kemudian dia meraih figura itu, kemudian mencium foto Emieer.
"Love you my darling,"
Setelah selesai makan siang. Sava yang kini punya kesempatan untuk berbenah. Ketika sang putera masih terlelap, biasanya Sava buru buru berbenah apa saja yang bisa ia bisa berani.
Tak lupa ia menaruh baju baju kotor di sebuah plastik besar. Misakah kan nya dengan baju baju bayi Zeeyan yang kotor. Soal kebersihan pakaian, Sava mengunakan jasa loundry. Karna ia tak punya waktu untuk mencuci.
Saat sang putera bagun nanti, ia berencana untuk pergi belanja. Membeli keperluan nya dan juga pergi ke loundry.
Hal hal macam itu lah yang membuat Sava senang melakukan nya dan bersemangat. Menjadi ibu walau di usia muda dan bekerja ternyata tak se menyeramkan yang ia pikir.
Kehilangan seseorang tak membuatnya terpuruk. justru kini Sava menjelma menjadi wanita 20 tahun yang mandiri. Menjadi wanita tanguh, bekerja, merawat anaknya dan melakukan semua hal sendiri. Ia bahagia untuk hidup nya, dan juga bersemangat untuk sang putera Zeeyan Emieer Sadiq.
__ADS_1