BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bonchap 10


__ADS_3

Adinda terus meneteskan air matanya, ia tidak bisa melihat kemesraan yang terjadi di depannya. Pemandangan yang hanya membuat hatinya sakit. Mata Langit memandang penuh cinta, cinta kepada Maryam. Tanpa mereka sadari, ada yang sedang memperhatikan kemesraan mereka berdua.


Adinda menyuruh seseorang melukai Maryam saat istri pria pujaannya mengajak Baby Gala berjalan-jalan di taman komplek. Langit yang membopong Maryam dan mengobati lukanya, itu membuat Adinda semakin sakit. Apalagi perhatian yang Langit berikan pada Maryam.


Baby Gala sudah aman di tangan suster Mira. Kaki Maryam terkilir dan lututnya sakit.


Sampai di rumahnya, Ainun ikutan cemas melihat lututnya mengeluarkan darah segar.


Maryam meringis tak kala kapas yang sudah diberikan cairan antiseptik mengenai kulit lututnya yang lecet.


"Aaw, Mas. Sakit." Maryam meringis.


Dalam pikirannya siapa orang yang sudah menjalankan mobil dengan kecepatan penuh di jalan komplek. Apalagi komplek tempat tinggal Langit tidak akan sembarangan bisa didatangi orang luar. Langit mengesampingkan pikirannya itu dulu. Ia fokus mengobati luka istrinya yang menolak untuk di bawa ke Rumah Sakit.


"Jangan pergi tanpa aku lagi, aku merasa gagal menjadi suami kalau kau sampai kenapa-napa, untunglah hanya luka lecet saja bagaimana kalau kamu terluka parah." Kekhawatiran Langit cukup beralasan apalagi istrinya sedang bersama puteranya.


"Mas, aku juga tidak kenapa-napa. Jangan berpikiran aneh-aneh," ucap Maryam.


"Tidak, Sayang. Kalau kamu kenapa-napa aku adalah suami yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik dan kewajibanku untuk menjaga dan memastikan istriku baik-baik saja." Langit


bicara dengan nada yang lembut.


***

__ADS_1


Di tempatnya, Adinda sedang memikirkan perbuatannya tadi.


"Apakah aku jahat sudah mencelakakannya? Aku bersyukur Maryam tidak kenapa-napa, kalau dia mati maka aku akan dijebloskan ke penjara. TIDAK!" Adinda berteriak menggebrak meja riasnya.


Rasa cintanya pada Langit, sudah membuatnya hilang akal.


"AKU BEGINI GARA-GARA LANGIT!"


***


Aisya terus menerus mengerucutkan bibirnya


, ia kesal pada Zayn. Zayn salah membawanya makan di warung sederhana pinggir jalan, dan Aisya kurang suka makanannya.


hadapannya.


"Kenapa makanannya tidak dimakan? Tadi kamu bilang kau lapar."


Apakah suaminya itu titisan manusia salju, kenapa dingin dan kurang peka sekali. Istrinya sedang hamil minta makanan seafood malah dipesankan pecel ayam.


"Aku nggak lagi pengen makanan ini, aku sedang ingin makanan seefood. Kenapa kamu nggak ngerti sih." Gerutu Aisya semakin menjadi.


Sepertinya Zayn memang titisan manusia salju, ia kurang peka terhadap mau istrinya. Zayn malah sedang lahap menghabiskan bebek goreng pesanannya.

__ADS_1


"Kak, aku maunya seefood." Aisya mulai merajuk.


"Kamu tinggal pesan, kan bukan aku penjualnya juga." Kata Zayn dingin.


"Ya pesenin dong," kata Aisya merajuk lagi.


Tanpa banyak bicara, Zayn memesakan makanan yang diinginkan istri manjanya.


"Salah siapa kamu mau nikahin aku," ucap Aisya kesal.


"Nggak salah juga, tapi kamu itu manjanya kelewatan."


Aisya semakin meradang mendengar Zayn kalau bicara suka seenaknya.


"Kamu nyesel?"


"Nggak,"


"Kalau gitu aku mau pulang saja ke rumah mama, biar mama dan bu Lela yang ngurusin aku."


Zayn mengusap wajahnya dengan kasar.


Menghadapi istri manjanya memang butuh kesabaran penuh. Sama sekali Zayn tidak menyesal menikahi Aisya karena sudah menjadi pilihan hatinya. Hanya saja Zayn selalu memendam rasa cintanya seorang diri, Zayn hanya mengungkapkannya dengan perbuatan sebagai bentuk segala rasanya pada Aisya.

__ADS_1


***


__ADS_2