
flashback on
Setelah Emieer dan Sava selesai makan malam di tempat makan favorit mereka. Warung makan tenda pinggir jalan, akhirnya sepasang suami-istri itu kini dalam perjalanan menuju rumah kost.
Tapi di tengah perjalanan tiba tiba saja Sava merasakan mual yang mendadak datang.
Emieer pun menepikan sepeda motor nya. Dan Sava sendiri kini sudah menghambur ke arah saluran air yang ada di sisi jalan. Di tempat saluran air itu Sava sambil memegang perut nya nampak mengeluarkan semua isi perut.
Emieer yang kini sudah ada di belakang Sava, nampak memijat tengkuk Sava. Membantu menetralisir agar rasa tak nyaman yang tiba tiba menghampiri istri nya sedikit membaik.
Beberapa saat setelah Sava memuntahkan semua isi perut, Sava nampak berjongkok dengan tubuh yang sedikit lemas.
"Ayam goreng sialan."
Sava mengumpat kesal.
"Ayam itu tiba tiba terasa mentah di mulut ku kak. Dan terasa bau amis,rasa nya mual sekali perut ku." gerutu Sava. Emieer yang mendengar umpatan sang istri hanya diam saja,sambil terus memijat tengkuk Sava.
"Bagaimana, sudah baikan mual nya?"
"Sudah kak, dari tadi aku nahan mual. Sampe akhirnya aku ngk tahan lagi dan memuntahkan semua isi perut ku."
"Ya sudah kita lanjutkan arah pulang ya, sampe rumah aku buatkan minuman hangat."
🍁🍁🍁🍁
Dan akhirnya mereka pun tak lama tiba di rumah kost. Sesampainya di rumah kost Sava langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kak, ada Paracetamol tidak. Kepala ku rasa nya pusing." ucap Sava yang kemudian memijat mijat dahi nya.
__ADS_1
Melihat Sava yang biasa enerjik dan jarang mengeluh sakit, membuat Emieer sedikit kawatir.
"Ada, tapi aku buatkan kamu teh hangat dulu ya."
Emieer pun dengan segera membuat kan Sava minuman hangat.
Setelah teh nya jadi, kemudian Emieer membawa teh itu pada sang istri. Dengan penuh perhatian Emieer mengarah teh yang hangat itu ke mulut Sava. Dan satu tangan nya membelai punggung sava pelan.
"Bagaimana?.Lebih baik?"
"Sedikit."
"Minum lagi lebih banyak teh nya,ini bisa mengurangi rasa mual mu sayang."
Ucap Emieer, disertai kecupan manis di puncak kepala sava dengan sayang.
Dan Sava pun menurut, dia meminum teh hangat manis yang sudah Emieer buatkan untuk nya. Bahkan dia sudah menghabiskan teh itu sampe tandas.
"Lepaskan dulu jaket mu."
Lagi lagi Sava pun menurut tanpa proses. Setelah Emieer membantu Sava melepaskan jaket nya, Emieer membantu Sava rebahan dan juga menyelimuti tubuh sang istri.
Emieer yang masih setia berbaring di sisi Sava, membelai rambut pajang Sava yang sedikit ikal itu.
"Emieer, apa kau senang jika aku bisa hamil?"
pertanyaan Sava membuat Emieer terkesiap. Tapi sejurus kemudian emier menjawab.
"Tentu saja aku senang,aku akan sangat bahagia. Semua orang yang sudah menikah pasti sangat menantikan kehadiran keturunan Sava. Dan aku akan sangat bahagia sekali jika kau hamil."
__ADS_1
"Apa kau sudah siap jadi ayah ?"
Pertanyaan Sava membuat Emieer bingung. Walau sebenarnya dia pasti akan sangat bahagia. Tapi menelisik bagaimana tadi pagi Sava sangat takut soal dia telat menstruasi membuat Emieer meredam ke antusiasan nya soal bahagia jadi ayah.
"Maksud mu ?" tanya Emieer bertanya manipulatif
"Apa jika aku hamil kita dah siap jadi org tua. Ku rasa punya anak itu butuh persiapan. Soal materi juga perlu kan. Sedangkan saat ini kita baru saja bersemangat mengumpulkan uang untuk masa depan kita dulu. Kamu juga masih membiayai kuliah mu. Aku sedang menabung untuk bisa kuliah lagi. Jadi menurut ku, aku belum siap jadi ibu. Bukan berarti aku tidak mau punya anak. Bukan itu, hanya saja aku belum siap kak." ucap Sava dengan nada bergetar seakan ada rasa ketakutan.
Mendengar penuturan sava, akhirnya Emieer memahami satu hal.
Tanpa bayak kata dan tak bisa berkata apa apa untuk menjawab keluh kesah sang istri, Emieer hanya bisa memeluk tubuh Sava dengan erat.
Bukan saja memeluk, Emieer juga mencium kening Sava berulang ulang. Mendapati sang suami bersikap seperti itu mbuat Sava heran.
"Kau kenapa Emieer ?"
Tanya Sava sambil menangkup wajah Emieer dengan ke dua tangannya. Menatap nya dalam dalam, menelisik bola mata Emieer yang berwarna cokelat itu. Berusaha menembus bola mata sang suami yang terlihat sendu. Dan Emieer sendiri pun membalas Menatap ke arah mata Sava yang hitam pekat, mencoba mengirim kan pesan penuh permohonan maaf.
Dua tatapan bola mata yang berbeda argumen.
"Maafkan aku Sava, maafkan aku ya."
"why....?"
Sava yang tak mengerti arti permintaan maaf sang suami mengerutkan dahi nya.
"Aku merasa bersalah saja,andai waktu bisa di putar ulang. Aku ingin kau bisa meraih masa masa muda mu. Aku seperti orang jahat yang sudah merenggut masa depan yang kau bangun. Dan aku ......"
Belum selesai Emieer berucap. Bibir Sava sudah membungkam bibir Emieer yang bicara tidak jelas.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka pun kini terbawa suasana. Saling memberikan dan menuntut kenikmatan dalam setiap sentuhan bibir. Sehingga dorongan permintaan lebih dari hasrat mereka muncul. Semakin terhanyut kedalam gairah. Semakin masuk kedalam kebutuhan seksual masing-masing. Saling memberikan kepuasan dan kebahagiaan dalam setiap sentuhan.
♥️♥️♥️♥️♥️