BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Istirahatlah!


__ADS_3

Dampak dari kecerobohan Maryam tadi masih berlanjut. Langit tampak kesal, wajahnya datar dan tidak ada senyum sedikitpun.


"Istirahatlah," ucap Langit dingin. Menyuruh Maryam untuk tetap diam dan tidak beranjak dari tempat tidur. Steak yang ia inginkan sudah tersaji di meja makan lipat tempat tidur bersama makanan lainnya, segelas susu hamil turut bertengger di sana.


Sadar suaminya sedang kesal, Maryam hanya diam saja tidak bicara ataupun protes. Biasanya ia tidak akan suka makan di meja lipat tempat tidur kecuali tubuhnya sangat lemah.


Menunggui istrinya makan, dan melihatnya berbaring Langit baru keluar kamar. Diam di taman belakang sambil membuka-buka ipadnya, tangannya sesekali menempelkan ponselnya menelepon Willy membicarakan pekerjaannya di kantor.


Apa aku terlalu keras padanya? Aku hanya kaget takut dia jatuh, itu saja.


Rasa bersalah menghinggapi hatinya, sentakannya tadi menjadikannya Maryam jadi pendiam.


"Langit." Ainun menepuk pundak puteranya dari belakang.


"Iya, Ma. Mama belum tidur?" tanya Langit. Ainun mendekatinya, mengambil duduk di sebelahnya.


"Belum, Mama kepikiran adikmu. Dia nggak mau ikut Zayn ke Madinah, sementara Zayn membutuhkan waktu lumayan lama menyelesaikan tugas akhir sampai wisudanya nanti.

__ADS_1


"Kalau Zayn mengijinkan ya tidak masalah, Ma. Tapi kalau tidak terpaksa Aisya harus nurut. Dia itu sudah jadi seorang istri, wajib hukumnya menuruti perintah suami." Langit mengomentari adiknya. Selama ini Aisya sangat dimanja, tidak terpikirkan oleh Langit sebagai kakanya apakah Aisya bisa menjalankan kewajibannya. Menjadi seorang istri bukan hanya modal cantik saja, perlu ketelatenan mengurusi keperluan suami dalam urusan kasur maupun dapur.


"Masalahnya Zayn mengijinkan Aisya tidak ikut tapi Aisya tidak mau Zayn pergi," jelas Ainun menceritakan puteri bungsunya yang merajuk.


"Wajarlah, Ma. Namanya pengantin baru, pasti maunya deket-deketan terus."


"Ngomong-ngomong kenapa kamu belum tidur? Maryam sudah tidur?" tanya Ainun melihat kebiasaan Langit tak biasa, pukul 22.00 pasangan suami istri itu sudah masuk kamar beristirahat. "Kamu sedang kesal? Atau Maryam sedang marah?" Sambung Ainun.


"Lagi sedikit kesal saja, Ma. Tadi sore Maryam hampir terpeleset," jelas Langit.


"Tapi tidak kenapa-napa kan? Maryam tidak sampai jatuh?"


"Langit, kamu itu tidak boleh berkata keras atau bicara dengan nada tinggi. Wanita hamil emosinya naik turun. Coba kamu lihat, mungkin Maryam lagi nangis sekarang kamu diamkan seperti ini."


Deg,


"Nangis?"

__ADS_1


"Iya, siapa tahu sedang nangis. Kamu mendiamkannya terlalu lama."


"Iya, Langit ke kamar dulu ya. Sudah malam, Mama juga istirahat." Ia beranjak dari tempatnya kembali masuk ke dalam kamar.


Suara langkah kakinya hampir tak bersuara, dibukanya handle pintu. Lampu kamar sudah gelap, hanya diterangi lampu tidur.


Disimpannya ipad dan ponselnya di atas nakas, Langit terlebih dahulu mencuci wajahnya bersiap menyusul istrinya beristirahat.


Ia naik ke tempat tidur, menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama. Hangat tubuh Maryam mengenai dirinya. Didekapnya tubuh yang sedang mengandung keturunannya itu dengan hati-hati. Tercium aroma vanila menguar dari balik tubuh Maryam.


Suara helaan nafas terdengar lembut dan teratur, istrinya tidak menangis. Pasti istrinya sudah paham, Langit menyentaknya karena rasa khawatir terhadap istri dan kandungannya. Takut kenapa-napa apalagi sampai terluka.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak berniat menyentakmu. Aku hanya tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa." Bisik Langit di daun telinga istrinya. Langit terus mengulang perkataannya tadi sore.


Maryam tersenyum mendengar ungkapan Langit padanya.


***

__ADS_1


Bersambung...


Haii maaf baru sempet up, hari ini sangat sibuk sekali. Ayo dukung dengan tinggalkan jejaknya...


__ADS_2