BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Dukun Bayi


__ADS_3

Menginjak hari ke 5, tubuh Baby Gala sedikit tampak menguning.


"Loh, Mas. Ko Gala agak kuning ya? Ini nggak apa-apa, Mas?" Maryam cemas baru jelas terlihat di bawah sinar matahari.


"Iya, sedikit. Kata mama wajar kalau bayi tubuhnya agak kuning dan jangan khawatir. Nanti juga nggak asal sering di jemur seperti ini," ucap Langit.


"Yakin?"


"Iya, mama tadi bilangnya begitu. Lihat gayanya, tangannya sampai dilipat ke belakang kepala gitu."


"Iya, gayanya mirip orang dewasa. Haha." Maryam tergelak melihat ekspresi Baby Gala yang menggemaskan minta dicubit.


"Kamu seneng banget lihat anak kamu kaya begini," ucap Langit sambil diangkatnya satu tangan Galaksi ke atas.


"Mas, kasihan dong jangan diangkat-angkat gitu, sambil tidur dia."

__ADS_1


"Habisnya lucu sih, diapa-apain juga ekspresinya tetap menggemaskan."


"Maryam, ini Bu Lasmi paraji yang mau bantuin Baby Gala sama kamu. Mau Baby Gala dulu atau mamanya dulu?" tanya Ainun pada bu Lasmi, paraji yang didatangkan langsung dari Bandung. Sementara akan tinggal selama 40 hari untuk membantu ibu dan bayinya. Zaman modern sekarang ini apalagi di kota besar sudah jarang yang memakai jasa paraji padahal sangat dibutuhkan untuk menbantu memandikan bayi atau memijat ibunya.


"Paraji itu apa, Ma?" Langit sama sekali tidak tahu menahu masalah itu selain kertas dan balpoin.


"Paraji itu kalau di Jakarta disebutnya dukun bayi, Mas. Buat bantuin bayi syukuran nanti. Ya apa salahnya kita menjaga adat orang tua zaman dulu tidak ada ruginya ko. Lagipula sudah datang dari jauh, kasihan." Bisik Maryam ditelinga Langit. Suaminya menunjukan ekspresi tidak suka sekaligus aneh mendengar dukun bayi. Langit takut terjadi sesuatu pada anaknya nanti.


"Ya sudah, tapi jangan diapa-apain!" Tegasnya.


"Maaf ya, pinjam dulu dedeknya. Uuh gantengnya," ucap bu Lasmi mengangat Baby Gala dari bouncernya.


Galaksi menggeliatkan tubuhnya lalu bayi itu menangis kencang.


"Jangan nangis, Dek. Ibu pinjam dulu tangannya ya, pinjam kakinya. Dedek nikmati pijatannya sambil bobo ya." Bu Lasmi mulai memijat tubuh Baby Gala tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di spa bayi. Hanya saja cara yang dilakukan bu Lasmi benar-benar tradisional sambil membacakan do'a.

__ADS_1


Baby Gala yang awalnya rewel dan menangis kencang perlahan mulai santai dan diam. Bayi itu mengikuti setiap pijatan bu Lasmi sambil matanya terpejam.


"Lihat, Mas. Baby Gala tidur dia." Maryam mengusap-usap kepala Baby Gala.


***


Willy terus-terusan mengikuti Anin ke sana ke mari. Sedari kemarin Anin bersikap tidak biasa, tatapannya juga berbeda hanya saja Anin tidak berkata apa-apa. Sikap beda istrinya Willy rasakan ketika ia bertanya soal Celin yang mengantarkan berkas tapi wajahnya ditekuk.


"Harusnya Mas sadar kalau Celin itu suka sama Mas. Aku jadi malu dengan semua karyawan di kantin, disangkanya aku ini merebut kamu dari Celin!" Kesal Anin.


"Loh, salah aku dimana?" Elaknya memang tidak tahu Celin menyukainya. "Aku sama sekali tidak tahu kalau Celin suka sama aku? Kalaupun tahu juga tidak akan berpengaruh apa-apa. Biar aku yang bicara dengan Celin."


"Jangan, Mas. Sudahlah aku tidak mau memperkeruh masalah lagi. Biarkan saja, aku hanya kesal saja Celin tidak meminta penjelasanku lebih dulu."


***

__ADS_1


__ADS_2