BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Untuk Pertama Kali


__ADS_3

Hari ini Maryam ingin sekali jalan-jalan, Ainun sudah memperbolehkannya membeli perlengkapan bayi. Rasanya ia ingin sekali memborong semua yang ada di toko. Maryam bersorak senang, ia cepat-cepat bersiap-siap.


Sebelumnya ia meminta ijin suaminya agar membolehkannya pergi.


Pria posesif itu pasti akan sangat rewel dan mengeluarkan petuah-petuahnya dulu sebelum ia pergi. Hal yang akhir-akhir ini ia lakukan.


My Husband : Mas, aku mau pergi ke mall.


Mama sudah bolehin beli perlengkapan ko. Boleh ya?


Pesan terkirim.


Sambil mengenakan sepatunya, Maryam menunggui Langit membalas pesannya.


Lima


Empat


Tiga


Dua


Satu


Bip.


Pesan diterima.


My Husband : Boleh, tapi ditemani suster Mira. INGAT JANGAN TERLALU CAPEK!


"Aduh pakai di capslock segala, biasa posesifnya tidak berubah-berubah. Sus, temani saya ke mall ya. Saya mau beli perlengkapan bayi," ucap Maryam pada suster Mira.


"Baik, Bu. Saya akan menyuruh pak Ujang menyipkan mobilnya dulu." Sudah 2 minggu bekerja, suster Mira hafal betul apa-apa yang harus dikerjakannya. Terlebih kebiasaan-kebiasaan Maryam sekarang.


Maryam dibantu suster Mira menuruni anak tangga perlahan-lahan. Ia menolak pindah ke kamar bawah, itung-itung olah raga menurutnya kalau naik tangga itu.


"Ma, Maryam belanja dulu ya. Sudah ijin ke mas Langit ko," ijinnya pada Ainun.


"Iya hati-hati, Sayang. Mama nggak nemenin soalnya nanti ada pengajian sama ibu-ibu komplek sini," ujar Ainun.


"Iya Ma, nggak kenapa-napa ko. Maryam berangkat dulu ya," ucap Maryam.


"Iya hati-hati, Sus hati-hati tolong jagain."


"Baik Bu."


Pak Ujang mulai menghidupkan mesinnya. Sesuai kebiasaan Maryam yang baru semua kaca jendela mobil harus dibuka, Maryam biasanya mual kalau mencium wangi parfum mobil yang membuatnya sakit kepala. Dengan menghirup udara segar, indera penciumannya juga tidak terganggu.


Sampai di mall, Maryam langsung menuju baby shop yang dikunjunginya dulu saat kandungannya masih kecil. Matanya berbinar menangkap banyak sekali model pakaian bayi yang lucu-lucu dan menggemaskan. Apalagi model baju bayi perempuan mungkin dia akan kalap belanja semuanya.


"Sus, ini bagus nggak sih?"


"Bagus Bu, tapi kalau menurut saya bahannya kurang adem. Kan kalau bayi suka rewel kalau kegerahan." Sebagai seorang ibu juga, suster Mira berpengalaman urusan soal anak.


"Oh iya ya, kita cari bahan kaos saja yang bahannya bisa menyerap. Tolong Sus cariin ya, kulit bayi kan sensitif." Dibantu pegawai toko, Maryam mencari baju bayi kualitas terbaik. Ia tidak mau membeli yang biasa-biasa saja takut suaminya ngomel-ngomel tidak jelas apalagi urusan anaknya.


"Hei." Suara orang yang dikenalnya membuat Maryam menengok.


"Kak Gavin." Maryam tidak menyangka Gavin sudah kembali ke Jakarta.


"Kakak kapan datang? Ko nggak ngabarin sih?"


"Dari satu bulan menikah juga sudah balik ke Jakarta, Mar. Cuma nggak ngabarin kamu saja takut suamimu nggak suka. Gimana kabarnya bayimu ini." Gavin mengusap-usap perut Maryam yang sudah membesar.


"Alhamdulillah, Baik." Maryam tersenyum lebar.


"Syukurlah, cewek apa cowok?"


"Cowok, Kak."


"Wah sama dengan papanya dong, semoga saja sifat menyebalkannya nggak sama ya."


Gavin tertawa lepas diikuti Maryam.


"Oh iya, Kak Gavin mau ketemu siapa di jam kantor seperti ini?"


"Steffani, istriku. Dia ingin makan siang bersama. Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa gabung dengan kami. Sekalian nanti aku kenalin," ucap Gavin.


"Iya Kak, nanti kalau kebetulan aku sudah selesai mampir ya."


Gavin mengangguk, setelah itu ia pamit lebih dulu.


Baru saja akan melanjutkan acara belanjannya lagi. Terdengar suara deheman seseorang.

__ADS_1


"Mas, kamu datang. Aku kira kamu lagi meeting, kata Willy kamu lagi meeting." Maryam terkejut melihat suaminya sudah berdiri dengan tangan bersidekap.


"Sudah selesai! Tadi ngapain dia kesini? Kalian janjian buat ketemua?" Belum apa-apa Langit sudah menyemburnya.


"Maksudmu siapa? Oh kak Gavin? Dia nggak sengaja lihat aku, katanya mau makan siang sama istrinya di lantai atas." Mata Maryam ikut melihat ke atas.


"Terus kenapa dia usap-usap perut kamu, kamu tahu sendiri kan hanya aku yang boleh mengusap perut kamu."


Mulai deh Langit dengan segala keposesifannya membuat Maryam geli sendiri.


Langit tetaplah Langit meskipun Maryam sudah sering memperingatkannya akan sangat sulit membuatnya berubah setidaknya menguranginya sedikit.


"Mungkin saja dia refleks Mas, usap perut aku. Aku saja suka refleks kalau ketemu teman yang sedang hamil," ucap Maryam.


"Lalu kenapa kamu tidak melarang?"


"Ya ampun, Mas. Aku nggak enak kalau melarang. Masa aku harus nepis tangannya kan nggak enak."


Langit mendengus. Wajahnya masih tetap datar.


"Dia itu suka sama kamu, harusnya kamu bisa sedikit jaga jarak sama dia. Kamu juga nggak suka kan kalau aku sok akrab dengan Zoya atau Diana?"


Wajah Maryam mendadak ditekuk, bisa-bisanya Langit membuat moodnya berubah total.


"Kamu masih ingat sama mereka berdua?" sembur Maryam mengirimkan sinyal tidak sukanya.


"Nggak," sanggah Langit.


"Lalu kenapa kamu sebut-sebut mantan kamu juga? Apa namanya kalau tidak ingat?"


"Hanya sekilas saja, Sayang. Tidak lebih," ucap Langit mulai merasa bersalah akibat ulahnya sendiri.


"Sudahlah Mas, aku malas harus ribut karena hal tidak penting seperti ini!" Maryam benar-benar marah. Hormon kehamilannya mempengaruhi moodnya saat ini.


Melihat istrinya keluar dari toko, Langit mencoba menghalangi jalannya.


"Kamu mau kemana?"


"Mau makan, lapar aku lama-lama karena emosi!" Maryam berjalan cepat membuat Langit meringis.


"Sus, temani ibu ya. Biar saya yang melanjutkannya."


"Baik, Pak."


Langit mendesah pelan, secara tidak sadar ia sudah membuat amarah Maryam nuncul ke permukaan. Mau tak mau ia harus menyelesaikannya sendiri demi terciptanya keharmonisan dan keselamatan dirinya agar tidak tidur di luar malam ini. Untungnya Maryam bukan tipikal istri yang tega mengusir suaminya tidur di luar.


Beberapa kantong belanjaan sudah Langit bawa menuju Shusi Tei dimana Maryam berada. Sedangkan barang-barang besar diminta untuk diantarkan langsung ke alamat rumahnya.


Melihat kesungguhan Langit membeli semua kebutuhan untuk anak mereka perlahan hatinya luluh. Ia memberikan makanan yang sudah dipesannya untuk Langit terlebih dahulu.


"Nggak, kamu makan saja duluan katanya kamu lapar." Tolak Langit.


"Aku sudah makan banya ko.. lihat saja sudah habis semua. Ini aku pesankan lagi," ucap Maryam menunjuk menu baru yang dipesannya.


Suster Mira tersenyum tipis melihat tingkah keduanya, kadang marahan dan tak lama lagi baikan. Kalau sedang mesra, saking mesranya suka lupa waktu dan tempat dimana mereka berada.


***


Maryam menggeliatkan tubuhnya, ia bangun pagi hari sekali. Mengingat semalam ia susah tidur karena engap dan juga pinggangnya sakit. Langit malam membantu mengelus-elus pinggang Maryam sampai akhirnya Maryam bisa tidur.


Baru 3 jam tidur membuat kepalanya sedikit pusing. Ia juga tidak rela membangunkan suaminya, kasihan. Menunggu sebentar lagi saja.


Merasakan tempat tidurnya bergerak, Langit membuka matanya. Dilihatnya Maryam sudah berdiri tersenyum padanya sambil mengusap perutnya.


"Sayang, kamu sudah bangun. Apa kamu perlu sesuatu?" Langit beringsut dari tempatnya kalau-kalau istrinya sedang menginginkan sesuatu.


"Nggak, Mas. Aku mau pipis dulu ya." Maryam berjalan ke kamar mandi.


*


*


*


*


*


Selesai mandi dan bersiap-siap tinggal sarapan saja di bawah.


"Sayang, aku pulang agak telat ya. Ada acara makan-makan dengan para manager. Apa kamu mau ikut? Kalau mau nanti biar pak Ujang nganter ke restorannya," ucap Langit sambil memakai jam tangannya.


"Mmm, nggak deh Mas. Aku di rumah saja, udah engap ini perutnya." Tunjuknya pada calon anak mereka yang ada di dalam perut sang istri.

__ADS_1


Terlebih dahulu Langit mengelus-elus perut Maryam sambil berkata-kata sesuatu.


"Haii baby, Papa berangkat kerja dulu ya. Baik-baik sama Mama jangan rewel."


Diciuminya perut Maryam.


"Iya Papa, Papa jangan nackal." Pura-pura Maryam menyentil telinga Langit.


Keduanya turun untuk sarapan bersama.


***


Rasanya Willy tidak mau berangkat ke kantor setelah tadi malam mereka melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri.


Sama-sama untuk yang pertama kalinya, rasanya sangat nikmat dan menyenangkan.


Anin tersipu malu mendapat tatapan mesra dari istrinya. Beruntung rumah mereka tempati sangat besar, jadi Willy tidak harus merasa tidak enak dengan mertuanya sendiri.


Willy memeluk Anin dari belakang, menciumi tengkuknya yang mulai meremang.


"Mas, lebih baik berangkat sekarang deh. Nanti telat gimana?" Anin melepaskan pelukan Willy secepatnya. Kalau tidak bisa-bisa Anin akan bolos kerja lagi.


"Memangnya kita nggak berangkat bersama?"


"Nggak Mas, Aku kan harus mengantarkan dokumen yang diminta bu Agnes ke tempatnya G-Farma. Aku ada janji jam 9 ini, jadi agak santai. Nggak apa-apa kan, Mas? Aku bawa motor sendiri?"


Willy tampak berpikir sejenak, pantas saja istrinya itu belum memakai kerudung sedari tadi.


"Iya boleh, tapi nanti kita makan siang sama-sama ya. Soalnya aku pulang agak telat, menemani Langit makan-makan dengan para manager."


Setelah Willy berangkat ke kantor, Anin kembali membuka kemeja yang dikenakannya. Bagian tubuhnya terdapat banyak tanda merah, semalam suaminya sangat bersemangat sekali dan dirinyapun terbuai dalam lautan surgawi.


Bagian intinya masih terasa perih sekali, buang air kecilpun rasanya sedikit ada sensasi panas. Beruntung jalannya tidak aneh. Begini ya rasanya malam pertama, pikir Anin.


***


Aisya sangat senang, hari ini Zayn akan pulang setelah melaksanakan sidang akhirnya. Dan itu artinya ia akan kembali berkumpul dengan ayah dari bayi yang dikandungnya.


Rencananya Zayn akan langsung mengunjungi Aisya terlebih dahulu, menginap beberapa hari di sana sebelum memboyong kembali Aisya ke rumah mereka.


Setelah Zayn kembali ke Jakarta, ia akan mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di ibu kota. Sebagai dosen ilmu agama sesuai dengan lulusannya dari Madinah.


Aisya sangat beruntung mendapatkan Zayn yang notabennya faham ilmu agama dan menjalankan kewajiban sesuai dengan syari'at.


"Ininya di tambah nggak, Ma?" Aisya sedang sibuk menyiapkan rendang dan juga kari yang sangat disukai Zayn sebagai makanan favoritnya.


"Tambah sedikit, mendingan nggak usah ditambah lagi pedesnya cukup saja. Biar kamu makan juga bisa, kasihan bayi kamu nanti." Ainun berucap sambil tangannya ikut menambahkan sedikit gula.


"Iya, Ma."


Mendengar keributan kecil di dapur, rupanya mama mertua dan adik iparnya sedang sibuk membuat banyak masakan.


"Untuk siapa semua ini? Apa Zayn mau pulang?" Tebak Maryam.


"Iya Kak, Zayn mau pulang. Pesawatnya tiba nanti sore, jadi Aisya lagi nyiapin banyak makanan nih. Kalau Kakak mau makan saja nanti kasihan lagi anaknya, hehe." Aisya nyengir kuda. Meski sudah menikah sifatnya tidak banyak berubah.


Aisya memasak sambil bersenandung ria, ia juga tidak sungkan bicara vulgar di depan mamanya sendiri menyebutkan kalau bayinya sudah kangen ingin ditengok papanya. Ainun sampai memutar bola matanya menjadi pendengar selama Aisya di dapur.


"Dan rencananya Aisya mau kerja setelah bayinya lahir," ucapan Aisya mendapatkan respon kurang baik dari Ainun.


"Nggak, Mama nggak setuju. Kamu harus jagain bayi kamu nggak boleh dititipin sama baby sister. Buat apa kerja, lagian tidak ada yang bisa kamu kerjakan juga kan."


Sontak perdebatannya dengan sang ibu tidak membuahkan hasil, untuk urusan seperti itu Aisya lebih baik diam mengalah akan lebih baik dari pada mendengarkan ceramah Ainun yang lebih dari 2 halaman penuh.


Maryam hanya tertawa kecil mendengarkan keributan keduanya, ia memilih kembali ke kamarnya membawa makanan untuk camilannya sambil menonton drama korea. Alasannya tidak ikut Langit makan-makan tak lain demi drama favoritnya itu. Tidak bisa nonton malam berarti ia bisa menonton siang hari.


***


Baru kali ini Langit duduk di lobby perusahaannya. Sebelumnya Langit belum pernah melakukannya, interior lobby yang sudah di rombak total membuat siapa saja bisa duduk santai layaknya di lounge hotel. Nyaman dan membuat betah siapa saja. Otomatis semua tatapan beralih pada sosok tampan nomor 1 di Medika. Damar Langit Herlambang selalu sukses mencuri perhatian.


Tubuh tingginya yang menjulang di usianya yang cukup matang tidak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya malah semakin bertambah. Salah satu yang membuat Maryam kurang tenang mengumbar suaminya di depan umum.


"Tumben Bapak mau bertemu dengan klien di sini?" Willy menyeringai membuat Langit mengangkat satu ujung bibirnya ke atas.


"Lo gak lihat tempatnya sekarang sangat nyaman. Tidak perlu pergi ke hotel ataupun restoran mahal sekarang. Dan yang utaman mengefesiensikan waktu," sembur Langit seperti biasanya.


"Bapak tiap hari minum soda ya? Ko ngomongnya ngegas terus sih," ucap Willy kesal.


"Untungnya cuma soda bukan petasan yang gue makan."


Kalau sudah seperti itu Willy pasrah membiarkan Langit dalam kesibukannya sendiri.


***

__ADS_1


Bersambung...


Otor kabulin panggilan papa Langit tidak diganti.. biar romantis katanya.


__ADS_2