BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Janda dan Duda


__ADS_3

Sejak pertemuannya yang pertama kali dengan Sava, wanita muda beranak satu itu. Metthew semakin di buat penasaran dengan Sava. Terlebih juga saat ia tau jika Sava bekerja di hotel milik nya. Rasa penasaran yang kuat membuat Matthew mengikuti Sava saat kemarin mereka berpisah di tempat parkir supermarket.


Bukan tanpa alasan. Wanita yang ia sudah ketahui bernama Sava itu mengingatkan diri nya pada mendiang sang istri yang telah lama meninggal.


Dengan mengikuti taksi yang Sava tumpangi malam itu. Kini Matthew sudah tau di mana Sava tingal. Kemudian dia langsung menghubungi asisten pribadi nya. Mencari tau tentang Sava lebih banyak lagi.


Dan tak perlu waktu yang lama, Matthew kini sudah mengetahui semua hal tentang Sava. Informasi lengkap tentang Sava ia peroleh melalui asisten pribadi nya yang biasa menangani perusahaan juga.


"Jadi dia seorang janda. Sayang sekali, masih muda sudah menjadi janda. Tapi bagus lah, siapa tau aku bisa memiliki nya setelah ini. Georgia Savanah Almeera." ucap Matthew dengan tersenyum penuh arti.


Matthew nampak puas setelah berhasil menjadi penguntit Sava malam itu. Dan kepuasan nya makin bertambah saat mengetahui jika Sava telah di tingal mati oleh suami nya. Dan itu artinya, dia bisa mendekati wanita muda yang dari awal langsung membuat nya tertarik itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dan siang itu. Dengan perasaan yang sudah tidak sabar. Metthew kembali berniat untuk menemui Sava.


Seorang bos mencari karyawan nya untuk keperluan yang pribadi. Sangatlah tidak lazim bukan.


Seperti maling, Metthew mengendap-endap menyusuri koridor hotel. Setelah ia melihat sebuah cleaning troler berhenti di sebuah kamar hotel yang terbuka, senyum nya kian mengembang.


Sejenak ia menyapu kan padangan nya ke dalam kamar hotel itu. Ia memperhatikan seseorang di dalam kamar sana yang nampak sibuk membereskan tempat tidur hotel, dan setelah ia menyakinkan diri nya bahwa itu Sava. Metthew pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan langkah yang hati hati. Setelah ia berhasil masuk, kemudian ia menutup pintu kamar hotel itu dan mengunci nya.


Dengan langkah yang tetap hati hati, Metthew mendekati wanita tersebut.


"Sava," pangil nya, sambil menyentuh pundak wanita itu dari belakang.


Begitu wanita itu menoleh kearah Metthew. Detik itu pula Matthew terkaget. Bukan hanya Metthew saja yang kaget, tapi wanita yang berseragam housekeeping, yang berpostur tubuh sangat mirip dengan Sava itu pun terlonjak.


"Damn it," umpat Metthew dalam hati.


"Pak Matthew," ucap wanita itu yang ternyata bukan Sava.


"Bapak sedang apa di sini,? tanya wanita itu penuh dengan tanda tanya.


Metthew nampak bingung harus menjawab apa.


"Lanjutkan pekerjaan mu," tukas Metthew kemudian melegos dari hadapan wanita yang di kira nya Sava itu.


"Oya, kamu kenal wanita housekeeping bernama Sava?" tanya Metthew yang kemudian menatap wanita itu lagi sesaat ia akan meninggalkan kamar tersebut.


"Dia teman satu tim saya pak," jawab wanita itu.


"Suruh dia ke ruangan Direktur secepatnya, saat kamu bertemu dengan nya." perintah Metthew, sejurus kemudian ia berlalu meninggalkan kamar hotel itu dengan perasaan kesal dan kecewa.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah mendengar pesan yang temen nya sampaikan pada Sava. Sava yang juga merasa sangat penasaran dan bingung kenapa seorang direktur bisa mencari nya. Tetapi Sava memilih untuk membereskan pekerjaan nya terlebih dahulu.


Dan sore itu, sesuai dia melakukan semua tugas nya, dan membereskan barang barang nya untuk pulang.


Sava baru teringat jika ia harus menemui sang Direktur di ruangannya.


Selama bekerja di hotel itu, tak sekali pun ia pernah pergi ke ruang Direktur. Karna memang tak ada keperluan dan mana mungkin dia di panggil oleh Bos di tempat ia bekerja itu.


Karna mustahil jika seorang Bos besar menyuruh karyawan bawah untuk datang ke ruangan kerja nya.


Tapi Sava tak punya pilihan lain, selain mendatangi sang CEO tersebut di ruangan nya.


Dengan menaiki sebuah lift, Sava menuju lantai 35 di gedung hotel itu. Informasi yang ia dapat ruang sang direktur berada di lantai tersebut.


Beberapa saat kemudian, tiba lah dia di lantai 35. Dan setelah Sava berada di lantai tersebut, ia menyapu kan pandang nya untuk mencari ruangan direktur. Dan tak lama ia mencari, akhirnya kini Sava sudah berada tepat di depan pintu sang direktur yang menyuruhnya untuk di temui.


"Sebenarnya ada apa dia menyuruh ku kemari." guman Sava pemasaran. Kala itu Sava mengenakan baju casual dengan balutan sweeter warna biru. Rambut yang terikat kuncir kuda dan juga make up yang sudah ia bersihkan. Dan kini Sava berpenampilan sederhana dan natural. Dengan menghela napas dalam, Sava memencet tombol ruangan, dan tak lama pula, ruangan itu pun terbuka.


Dengan langkah sedikit ragu, Sava akhirnya melangkah memasuki ruangan itu.



Sava kini sudah berdiri tepat di belakang sang CEO tersebut. Pria yang ia sudah tau nama nya, dan juga ia sudah pernah bertemu dengan nya di supermarket.


"Selamat sore Pak," Sava mengapa. Kemudian Pria yang berwajah tampan dan sudah berumur itu menoleh ke arah sumber suara.


"Aku menyuruh mu datang tadi siang, kenapa kau baru datang sekarang." ucap Metthew yang kemudian berjalan beberapa langkah ke depan.


"Maaf Pak, saya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu." jawab Sava.


"Kau bekerja untuk ku Sava, kau lupa." ucap Metthew yang kemudian dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Duduk lah, jangan tegang. Aku tidak akan memecat mu karena telah membuat seorang CEO menunggu karyawan nya." kilah Metthew dengan nada suara ringan.


Mendengar itu, Sava nampak bigung, tapi ia mengikuti instruksi atasannya untuk duduk. Setelah mereka saling duduk berhadapan, Metthew pun langsung mengutarakan maksud menyuruh Sava keruangan itu.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan pada mu. Dan ini bersifat pribadi. Maka nya aku menyuruh mu datang kemari." ucap Metthew santai. Dan hal itu membuat Sava semakin bigung dan juga penasaran. Duduk di hadapan sang big bos membuat Sava merasa tidak nyaman. Sambil memegang erat tas yang ada di pangkuan nya Sava menatap tajam sang big bos.


Sedangkan Metthew sendiri dalam hati nya semakin mengangumi sosok Sava.


__ADS_1


"Nama mu Georgia Savanah Almeera Sadiq. Tapi data data diri mu yang ada di map profile mu, kau bernama asli Georgia Savanah Almeera Malik. Jadi mana yang benar,? tanya Metthew.


"Apa ada masalah dengan nama saya." celetuk Sava dengan intonasi suara tegas. Dan itu sontak saja membuat Metthew menaikan kedua alisnya. Dalam hati Metthew berdecak semakin penasaran dengan karakter Sava.


"Wanita ketus." ucap Metthew dalam hati. Kemudian ia menyungin kan senyum manis pada Sava.


"Tenang Sava. Jangan berfikir buruk tentang ku. Oya, pertama tama aku turut berduka cita atas meninggalnya suami mu. Aku baru dengar kemarin jika ternyata suami mu pernah bekerja di sini juga. Dan, sebagai pemimpin perusahaan dan Hotel ini, aku secara pribadi turut ber belasungkawa atas meninggalnya Emieer Sadiq. Emieer suami mu kan, dan aku sudah membaca profile mendiang suami mu dan juga telah mempelajari pengabdian nya selama hampir 7 tahun bekerja di hotel ini. Dia ternyata seorang karyawan teladan." ucap Metthew menjelaskan.


Mendengar nama mendiang sang suami di sebut sebut, hal itu seketika membuat Sava gemetar. Ada perasaan haru saat ia mendengar sang suami ternyata adalah seorang pekerja yang rajin bahkan seorang karyawan teladan. Dan tak bisa di tahan lagi, air mata Sava jatuh dari kedua mata nya. Rasa rindu dengan sang belahan jiwa kembali menyeruak berkumpul di dalam hati nya.


Metthew yang melihat itu langsung mengambil sapu tangan yang ada pada Jas nya. Tanpa ragu ia memberikan sapu tangan itu pada Sava.


"Pakai ini." perintah nya.


"Tidak perlu pak, saya ada tissue." jawab Sava kemudian ia membuka tas nya untuk mengambil tissue. Dan sial nya ia lupa menaruh tissue di tas nya.


"Sudahlah, pakai saja ini. Tidak apa apa." ucap lagi Metthew. Dan akhirnya terpaksa Sava meraih sapu tangan milik bos nya tersebut.


"Pakai saja, tidak usah di kembalikan."


Setelah beberapa saat Metthew memberikan waktu untuk Sava menenangkan diri. Metthew kemudian melanjutkan ucapannya.


"Ini uang belasungkawa dari perusahaan untuk mu," ucap Metthew, sambil menyerahkan sebuah cek pada Sava.


"Saya sudah menerima uang santunan dari perusahaan waktu itu pak." ucap Sava, yang tidak enak bila menerima lagi uang santunan dari perusahaan. Apa lagi yang memberikan adalah seorang CEO nya langsung.


"Aku rasa yang mereka berikan pada mu kurang layak Sava. Melihat kinerja mendiang suami mu yang sudah mengapdikan diri di Hotel ini cukup lama, kurasa nilai uang santunan yang kemarin kurang pantas sebagai balasannya." kilah Metthew.


"Ambillah, kau bisa mencairkan nya dan gunakan itu untuk keperluan mu dan juga anak mu." Metthew menambahkan.


Sedikit ragu, Sava akhirnya mengulurkan tangannya menerima cek tersebut. Saat cek tersebut sudah ada di tangannya dan membaca nominal uang santunan tersebut yang ada di cek, mulut Sava menganga seketika.


"Apa, 500 juta."


Metthew Wilson



Georgia Savanah



😋😋😋😋😋😋😋😋😋 see you di bab selanjutnya lovely readers 🥰🥰🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2