BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Jangan Merasa Sendiri Lagi


__ADS_3

Ingatan Amira kembali melayang pada kejadian 26 tahun lalu. Ia dinikahi dengan sah oleh Harsa. Disaksikan kakak sepupunya, Adam dan Fatimah adik dari Harsa. Pernikahan dilaksanakan di Jakarta, di rumah saudaranya Amira.


Sebelum pernikahan terjadi, Harsa sudah menduga kalau nenek Saudah tidak akan merestuinya dengan Amira. Latar belakang Amira dan keluarga Herlambang bagaikan bumi dan Langit, jauh berbeda.


Orang tua kandung Harsa, Saddam dan Melati tidak bisa berbuat banyak. Paham sekali tabi'at dari Saudah. Pada masanya Saudah merupakan orang berpengaruh di kota, dia tidak akan segan memberikan perhitungan pada orang-orang yang menurutkan pantas untuk disingkirkan, sedangkan suaminya sudah meninggal lebih dulu.


Anggota keluarga Herlambang termasuk Adam sendiri tidak tahu kalau Saudah bertindak jauh.


Hati Amira kembali teriris sakit, seolah tombak menghujam dadanya. Ia tidak akan pernah melupakan sedikitpun perkataan Saudah padanya dulu.


"Larilah sebanyak kamu bisa, karena kalau sampai aku berhasil menemukanmu jangan harap janin dalam kandunganmu akan selamat!"


"Umi, Umi masih teringat ayah?" tanya Anin menatap uminya penuh haru. Pasti sangat berat menjadi uminya harus berkorban perasaan selama ini.


"Tidak, Nak. Umi hanya lelah saja. Rasanya Umi pengen istirahat sebentar saja," ucap Amira sambil tetap tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu Umi istirahat saja, besok pagi kita akan ke makam ayah. Umi harus siap." Anin tahu Amira masih belum siap menghadapi kenyataan ini lagi, kenyataan yang sudah lama ditepisnya agar tidak mendekat lagi.


Benar, besok pagi mereka akan ke makam Harsa. Tempatnya di dekat bukit di ujung kota, tempat yang khusus disediakan untuk makam keluarga Herlambang yang sudah lebih dulu wafat.


"Amira, aku tahu kamu masih menyimpan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi aku mohon jangan jauhkan garis keturunan Herlambang yang lain, dekatkanlah anakmu dengan keluargaku yang lain." Perkataan Adam kemarin dibenarkan Amira dalam hatinya.


Ini sudah 26 tahun berlalu, Amira tidak boleh menatap ke belakang. Masa lalu tinggal masa lalu, kalau Amira tiada lantas Anin dengan siapa? Kalaupun Anin menikah dan mempunyai suami, suami hanyalah orang lain yang terikat pernikahan. Sedangkan ikatan darah keluarganya hanyalah dengan keluarga Herlambang.


"Anin, kalaupun Umi tidak ada nanti. Kamu tidak akan sendiri lagi, Nak. Ada keluarga ayahmu yang lain, jangan merasa sendiri lagi." Amira mengusap lembut wajah Anin penuh kasih sayang.


"Suuutt, Umi jangan bilang seperti itu. Berdo'alah semoga umur Umi dipanjangkan dan kita masih akan bersama-sama," ujar Anin.


***


Pukul 23.00, Langit dan Adam masih duduk bersama di taman belakang sambil menikmati kopi. Yang menjadi topik perbincangan kali ini tak lain tentang omnya Langit, Harsa.

__ADS_1


Langit duduk menyilangkan kakinya, dicecapnya kopi dalam cangkir perlahan-lahan.


"Jadi waktu itu, Harsa tidak sedikitpun dibiarkan keluar. Ommu diasingkan di rumah tua, dulu disebut rumah tua karena bentuknya khas zaman Belanda. Rumah itu salah satu milik nenek Saudah." Adam terdiam sejenak seolah mengingat lagi kejadian di masa itu.


"Kami dulu tidak punya kekuatan sama sekali karena harta kekayaan keluarga masih di pegang sama nenek Saudah," ucap Adam.


"Lalu orang tua om Harsa kemana? Mereka tidak bertindak sama sekali?" tanya Langit penasaran kenapa orang tua Harsa kala itu diam saja.


"Orang tua Harsa mengurus usaha kami yang lain di luar kota, mereka tidak bisa bertindak cepat dan tidak bisa melakukan apa-apa. Karena nenek Saudah menutup komunikasi."


Rahang Langit mengeras, giginya bergemeletuk. Jika kejadian itu terjadi padanya sudah dipastikan Langit akan berontak. Menurut cerita Adam kehidupan anak cucu Saudah bergantung pada usaha keluarga jadi mereka sangat sulit untuk melawan. Tidak punya cukup keberanian hingga mengorbankan perasaan sendiri dan perasaan orang lain.


Makanya Langit tidak bergantung pada usaha keluarganya, ia punya bisnis lain di atas namanya sendiri. Sudah menguntungkan banyak selama dua tahun dirintisnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


Nanti dilanjut lagi ya, yuk tinggalkan jejaknya...


__ADS_2