BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Hari Bahagia Aisya dan Zayn


__ADS_3

Suasana ballroom saat ini sudah ramai dengan para tamu undangan yang datang, jantung Aisha berdegup kencang menunggu kedatangan belahan hatinya yang sedang dalam perjalanan. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu calon suaminya itu sudah satu minggu lebih mereka tidak bersua. Rasanya rasa rindu sudah membuncah dalam hati, tidak ada video call hanya berkabar lewat telepon saja. Mereka sengaja melakukan itu agar nanti pas bertemu ada chemistry kuat antara keduanya.


Dekor pernikahan di ballroom hotel bintang 5 itu sangat indah dipandang mata, hiasan lampu, bunga dan lain dekor indah nan cantik dimana-mana. Sesuai pilihan atas permintaan Aisha di hari bahagianya.


Aisha sudah selesai di rias, ia duduk sangat tegang menanti panggilan untuk turun dari kamar hotel. Pihak keluarganya yaitu Langit dan Adam sudah bersiap di bawah bersama Ainun menjemput calon pengantin pria. Sedangkan Maryam menunggui sang adik ipar sebagai pengiring pengantin. Bersama salah satu sahabat dekat Aisya, Chika.


"Kak, Aisya deg-degan." Aisya meremas jemari tangan kakak iparnya itu. Memang dingin terasa menyentuh kulitnya.


"Wajar, De. Kakak juga gitu dulu pas waktu nikah. Sama mas Langit juga sama, pokonya jantung itu deg-degan gak karu-karuan." Maryam seraya mengingat momen pernikahannya dulu dengan Faiz maupun Langit yang jadi suaminya saat ini.


"Hihihi, Aisya sering ngetawain teman-teman Aisha yang udah nikah duluan. Jadi gini ya rasanya, duh Aisya takut." Perempuan cantik yang wajahnya mirip dengan Langit itu terus saja meracau.


"Udah, nanti juga bakalan lupa sama takutnya kalau udah ketemu Zayn. Santai aja, Sha." Chika menenangkan Aisya yang sering meracau kala sedang gugup melanda.


Di ballroom, rombongan pengantin pria sudah mulai masuk. Disambut Adam dan Ainun pertama-tama mengalungkan bunga pada calon menantunya itu.

__ADS_1


Kedua besan saling bersalaman dan mengiringi langkah Zayn untuk duduk di kursi yang telah disiapkan untuk Ijab Qabul.


Calon pengantin perempuan telah memasuki area ballroom setelah diperkenankan.


Wajah Aisha benar-benar tegang, kini ia duduk di sebelah Zayn menunggu pria itu mengucapkan dua kalimat sakral, sebagai janjinya di hadapan Allah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aisya Jennahara Herlambang binti Adam Herlambang dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap Zayn lantang dan lugas.


"Saksi sah,"


"Sah." Para saksi mengucapkan sah atas janji nikah yang diucap Zayn.


Langit dan Maryam turut bahagia, terutama Langit tanggung jawabnya sebagai kakak dari Aisha kini beralih ke pundak Zayn. Keduanya tampak kompak mengenakan seragam keluarga bernuansa gold untuk para keluarga perempuan, kebaya modern yang dirancang khusus. Sedangkan para keluarga pria mengenakan stelan jas hitam yang terkesan mahal dan mewah karena ada motif khusus di kancing tangan jasnya.


"Aku jadi pengen lagi, Sayang." Langit menunjuk dengan dagu pada adiknya.

__ADS_1


"Pengen apa? Kamu pengen nikah lagi, Mas?" tanya Maryam dengan ekspresi geram.


"Bukan, Sayang. Bukan nikah lagi," kilah Langit sambil terkekeh.


"Lalu apa? Kamu ko nunjuknya ke depan Aisya dan Zayn. Ngaku kamu Mas? Kamu mau duain aku?" Maryam kesal atas tingkah Langit.


Ia marah mengerucutkan bibirnya sambil bersidekap.


"Nggaklah, masa aku mau nikah lagi sementara istri aku ini cantik dan sholehah. Bodoh banget kalau aku khianatin kamu." Langit menarik tangan Maryam agar mendekat padanya. Istrinya masih sangat kesal karena sangkaannya.


"Lalu maksud kamu apa?" tanya Maryam lagi.


"Maksudku aku pengen lagi kaya kemarin kamu di atas dan bergoyang bikin nagih tahu." Bisik Langit di telinga Maryam membuatnya merah merona. Ulah Langit semalam ketika banyak orang berkumpul di bawah, suaminya itu malah menarik tangannya ke kamar. Mencumbuinya sampai Maryam mengalah.


***

__ADS_1


Bersambung...


Aduh bener deh aku lagi gak bisa menyusun kata-kata tapi kalau gak up kapan tamatnya. Biasa lagi sibuk di rumah. Anak-anak sedang aktif-aktifnya jadi maaf ya readers...


__ADS_2