
...Jangan dulu menghujat ya readers zeyyyeeenk, otor masukin tokoh Adinda hanya sebagai pemanis bumbu saja tidak akan sampai merusak ko. Hanya ingin mengetes papa Langit bisa setia tidak sama mama Maryam. Jangan takut papa Langit tidak akan bisa tergoda seperti babang Faiz ko... Okee....
***
Tubuh tingginya yang menjulang di usianya yang cukup matang tidak sedikitpun mengurangi kadar ketampanannya malah semakin bertambah. Salah satu yang membuat Maryam kurang tenang mengumbar suaminya di depan umum.
"Tumben Bapak mau bertemu dengan klien di sini?" Willy menyeringai membuat Langit mengangkat satu ujung bibirnya ke atas.
"Lo gak lihat tempatnya sekarang sangat nyaman. Tidak perlu pergi ke hotel ataupun restoran mahal sekarang. Dan yang utama mengefesiensikan waktu," sembur Langit seperti biasanya.
"Bapak tiap hari minum soda ya? Ko ngomongnya ngegas terus sih," ucap Willy kesal.
"Untungnya cuma soda bukan petasan yang gue makan."
Kalau sudah seperti itu Willy pasrah membiarkan Langit dalam kesibukannya sendiri.
Keberadaan Langit di sana tanpa alasan, ia memang sedang menunggu kliennya. Tangannya masih sibuk memeriksa semua dokumen perjanjian, dalam nota perjanjian tidak boleh ada yang salah apalagi menyangkut nama.
"Will, bukannya kita sekarang ketemu pak Muladi ya? Tapi ko di sini namanya Adinda?" Langit menunjukan halaman terakhir pada surat perjanjian kerja sama mereka.
Willy membetulkan posisi kaca matanya.
"Iya menang Adinda, kalau tidak salah Adina itu nama puterinya pak Muladi deh."
"Iya, nama saya Adinda." Seorang wanita muda berpenampilan fashionable tiba-tiba sudah berada di hadapan Langit dan Willy.
Gayanya yang selangit membuatnya percaya diri, ia mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Langit dan Willy.
"Adinda Muladi," ucapnya seraya tersenyum.
"Langit,"
"Willy,"
__ADS_1
Langit bersikap biasa saja tidak ada rasa ketertarikan yang ditunjukannya pada sosok Adinda. Begitupun dengan Willy, mereka hanya sebatas klien kerja sama tidak lebih.
Biasanya seorang wanita akan tertarik bertemu dengan Langit pada pandangan pertama, begitupun yang tersirat di wajah Adinda. Ketertarikannya pada Langit tercetak jelas sekali.
"Apa anda mendengarkan saya?" tanya Langit pada Adinda karena wanita seperti tidak fokus pada kerja samanya melainkan hanya memandangi wajah Langit seakan terhipnotis karena ketampanannya.
"Ah iya, saya mendengarkan. Saya percaya pada Pak Langit, tidak perlu saya lihat lagi dokumennya ko." Dengan penuh percaya diri yang ditunjukan Adinda padanya.
"Anda tidak bisa bersikap seperti itu, kalau anda tidak membaca ulang dokumennya maka jangan salahkan bila ada yang anda tidak setujui di dalam isinya. Bagaimana nanti kalau misalkan saya berbuat curang?" tanya Langit memindai Adinda, apakah orang yang dikirim padanya adalah orang yang mengerti bisnis.
"Karena saya percaya pada anda. Nama anda sudah tersohor Pak Langit, karena kejujuran dan bukti nyata dari klien-klien anda. Jadi saya tidak akan memeriksanya lagi," ucapnya.
Langit hanya tersenyum smirk, bukan karena ia percaya diri lantas sombong tapi tipe-tipe wanita seperti Adinda sudah bisa Langit baca apa maksudnya.
"Oke kalau begitu, kita sudah sepakat."
Adinda dan Langit sama-sama membubuhkan tanda tangan pada masing-masing lembar pada akhir dokumen.
"Senang bekerja sama dengan anda Pak Langit, semoga kita bisa sering bertemu." Tatapan mata Adinda penuh makna tersembunyi.
"Kalau begitu saya permisi, masih ada hal yang harus saya kerjakan." Sekali lagi Adinda dan Langit berjabat tangan.
"Biar asisten saya yang mengantar anda," ucap Langit mempersilahkan Adinda berjalan terlebih dahulu setelahnya ia menyuruh Willy mengantarkan Adinda sampai ke halaman lobby dimana mobilnya sudah menunggu.
Ponsel Langit berbunyi nyaring, tertera nama My Wife di sana.
"Iya Sayang, kenapa?" Langit menerima panggilan telepon dari istrinya sambil berjalan ke arag lift khusus. Sesekali ia terlihat tertawa mendengarkan celotehan istrinya yang manja.
"Jadi aku ini hanya dijadikan tukang pijat saja buat kamu, hahaha." Langit tergelak mendengar istrinya meminta dipijat lagi. Mendekati waktu kelahiran pinggangnya terasa panas dan sakit.
"Nggak, aku cuma bercanda. Ini habis terima klien di lobby, baru sampai di depan ruangan. Bentar," Langit menahan panggilannya sejenak.
"Gia, tolong buatkan kopi ya." Pinta Langit.
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Gimana Sayang?" Langit dan Maryam kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Maryam mengeluh ingin main ke kantor sambil menemani Langit bekerja. Ia bersikeras besok akan datang ke kantor dan menemani suaminya sampai pulang.
"Aneh, ya aneh saja. Kamu kan biasanya aku ajakin ke kantor selalu nolak karena suka kesal nungguin aku lama, sekarang tiba-tiba mau ke kantor nungguin aku. Kenapa?"
Alasan Maryam tak lain karena ia mendapatkan kiriman foto dari teman-temannya satu divisinya dulu. Dwi sempat mengabadikan foto Langit dan Adinda tadi saat mereka berjabat tangan.
Caption foto 'Hati-hati pelakor'. menambah kadar kecemburuan Maryam meningkat tajam.
Langit mengurai senyumnya seraya kepalanya menggeleng mendengarkan sikap Maryam yang menggemaskan. Selalu saja menggelitik hatinya. Tapi dibalik itu ia sangat bersyukur memperistri Maryam, wanita dengan berjuta keistimewaannya. Tertawa dan tangisannya yang sama, sama-sama nyaring tidak ada bedanya.
***
Anin memarkirkan motornya di halaman depan rumah Langit, pulang dari kantor ia mampir terlebih dahulu sambil mengantarkan makanan untuk Maryam. Di sepanjang jalan ia melihat penjajak makanan tumpah ruah, kalau Maryam melihatnya pasti ia sampai kalap bahkan mungkin tidak mau pulang.
"Anin, sudah pulang?" Adam muncul dari arah dapur bersama dengan Ainun.
"Iya Om, Anin baru pulang. Anin mau ketemu Maryam, Anin bawain banyak makanan. Om sama Tante pasti suka juga makanan yang Anin bawa, biar Anin taruh di piring dulu ya." Anin tidak merasa sungkan lagi menganggap rumah orang tua Langit seperti rumahnya sendiri. Kadang kalau kebetulan pulang sore ia pasti mampir dulu menemui Maryam, berbincang sebentar lalu pulang.
"Biar saya saja Non yang bawa ke depan ya." Bu Marni mengambil alih piring yang berisi jajanan pasar yang dibeli Anin tadi.
"Makasih ya Bu Marni." Tangan Anin membawa nampan berisi makanan dan air kelapa muda untuk Maryam. Konon air kelapa sangat bagus dikonsumsi ibu hamil, biar bayi yang ada dalam perut ibu bersih dan berkulit putih begitu para ibu zaman dulu mempercayainya.
Maryam sangat senang Anin datang, ia sudah tidak tahan ingin menanyakan siapa wanita di foto yang dikirimkan Dwi tadi.
"Aku juga nggak tahu itu siapa, cuma emang Dwi tadi cerita kalau mas Langit sedang bersama wanita dan ada mas Willy juga ko di sana."
"Cemburu yah? Jangan cemburu-cemburu mas Langit tidak akan mampu berpaling darimu ko, masih jadi istri orang saja dia tungguin apalagi sekarang sudah jadi istrinya tidak akan mungkin membiarkanmu berpaling, Sayang." Anin mencolek pinggang Maryam ikut gemas dengan sikap ibu hamik yang satu ini.
***
Bersambung....
__ADS_1
Sedikit dulu yah.. tar otor lanjutin. Jangan lupa komen, like dan votenyaaa.....