BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Zayn dan Aisya (2)


__ADS_3

"Aku tidak tahu kenapa terus-terusan ketemu sama kamu," kata Aisya ketus saat ia bertemu lagi secara tidak sengaja di bandara.


Zayn akan kembali ke Madinah dan Aisya akan pulang ke Jakarta.


"Kamu mau pulang sekarang?" Pertanyaan Zayn yang tiba-tiba sontak membuat Aisya terkejut bukan main. Baginya sosok manusia seperti Zayn itu aneh. Dulu bersikap sinis dan sekarang seolah baik.


"Kamu lagi bicara denganku?" Tunjuk Aisya pada dirinya sendiri.


"Kamu kira sama siapa lagi?"


"Iih, kamu itu nanya tapi sinisnya nggak ketulungan. Nggak suka ah." Aisya tidak peduli meninggalkan Zayn di sana.


Tanpa Aisya tahu, Zayn mengikuti langkahnya dari belakang.


"Hei, kenapa kakimu cepat sekali kalau berjalan. Aku kira kamu siput yang jalannya lamban."


Dada Aisya bergemuruh, bisa-bisanya Zayn mengejeknya seperti itu.


"Apa sih maumu?" Aisya berbalik badan.


"Aku cuma nanya sama kamu, kamu mau pulang ke Jakarta?" Ulangnya lagi.

__ADS_1


"Iya aku mau pulang ke Jakarta, kenapa memangnya?"


Zayn menghela nafasnya sejenak.


"Kamu mau menikah denganku?" tanya Zayn membuat mata Aisya membulat sempurna.


"Apa maksudmu? Kamu sedang bercanda denganku?" tanya Aisya tidak suka.


"Tidak, aku serius. Bisa kita bicara dulu." Pinta Zayn menunjuk ruang tunggu sebagai tempatnya.


Aisya mendengus, "Bailkalh." Ia berjalan lebih dulu menuju ruang tunggu.


Zayn duduk berjarak di sofa yang sama dengan Aisya. Pria tampan berlesung pipi itu duduk tegak seperti kaku.


Aisya hanya diam belum menanggapinya sama sekali.


"Kalau kamu bertanya kenapa, entahlah karena hanya hatiku yang bisa menjawabnya. Hatiku ingin memilikimu. Aku tidak akan meminta jawabannya sekarang, pikirkanlah baik-baik. Minta saran oranh tuamu, terutama ibumu. Mana ponselmu?"


Bak kerbau dicucuk hidung, Aisya menyodorkan ponselnya.


Zayn menasukan nomor ponselnya sendiri ke ponsel Aisya sampai ponselnya sendiri terdengar berbunyi.

__ADS_1


Aisya baru sadar kalau Zayn sedang memasukan nomor ponselnya.


"Aku masih bingung, jujur aku masih bingung. Aku akan memikirkannya."


Suara announcement bandara memanggil penumpang tujuan ke Jakarta untuk segera naik ke pesawat.


Aisya merapikan pakaiannya terlebih dahulu, ia menatap Zayn sejenak.


"Kalau kita berjodoh, kamu akan datang menemui orang tuaku di Jakarta." Aisya mengulum senyumnya tanpa disadarinya.


"Tunggulah, kalau memang kita berjodoh maka aku akan bertemu lagi denganmu."


Pukul 10.00 sebagai waktu perpisahan mereka berdua. Sejujurnya, setelah pertemuannya kembali dengan Zayn di ulang tahun Mahesa menberikan kesan sendiri padanya. Dari rasa benci timbul suka pada akhirnya. Perkataan Lissa berputaran di otaknya. Dari benci jadi cinta.


Aisya akan menunggu hari dimana dirinya akan bertemu kembali dengan Zayn kalau memang mereka berjodoh.


Seminggu setelah kepulangannya ke Jakarta, Aisya membicarakan pernyataan Zayn tempo hari dengan Ainun.


"Kalau Mama sih setuju-setuju saja tidak masalah dengan kalian yang belum mengenal lama. Toh kalau jodoh tidak harus kenal lama juga kan dan tidak harus pacaran dulu. Bagus dong kalau dia ngajakin kamu nikah karena setidaknya kamu dan dia akan terbebas dari pacaran anak muda zaman sekarang, pergaulan bebas."


Mendengar ucapan Ainun, Aisya jadi bimbang. Hatinya masih tidak percaya seorang Zayn yang menyebalkan ingin menikah dengannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2