
Giliran Hamidah, umi langsung terdiam. Ada keraguan hadir di sana. Begitupun Hamidah apakah wanita yang berdiri berhadapan dengannya ini adalah wanita yang dimaksud.
"Apa kabarnya, Bu Amira. Sudah lama kita tidak bertemu."
Umi tercekat, benar Hamidah yang diduganya adalah Hamidah yang sama. Yang mengetahui masa lalunya.
"Bu-Bu Hamidah." Suara umi yang bernama Amira tercekat kala menyebut ibunda Willy.
Hamidah mendekatkan dirinya pada Amira, memeluk Amira cukup lama. Pelupuk matanya basah. Amira membalas pelukan Hamidah disaksikan kedua keluarga masing-masing serta Maryam dan Langit.
"Umi kenal dengan Ibu Pak Willy?" tanya Anin penasaran.
"I-Ibu,-"
"Amira, ceritakanlah. Sudah saatnya puterimu mengetahuinya, jangan lari lagi." Sela Hamidah.
Sontak dahi Anin mengerut, apa yang dimaksud Hamidah. Kenapa uminya lari, kejadian apa yang dulu terjadi di masa lalu uminya.
Merasa bukan ranahnya, Maryam dan Langit tahu diri. Mereka ijin menunggu untuk duduk di balkon.
__ADS_1
"Nak Langit, jangan kemana-mana. Dengarkanlau, karena ini ada hubungannya dengan keluarga Nak Langit juga." Hamidah menahan Langit agar duduk kembali.
Giliran Langit yang tidak mengerti, kenapa masalah keluarga Anin jadi terhubung dengan keluarganya.
Semua orang yang hadir sudah duduk, menunggu penjelasan Amira. Namun Amira tidak punya keberanian yang cukup. Ia hanya diam sambil menangis.
"Umi, ada apa?" Anin jadi kasihan pada uminya, sebelumnya Anin tidak pernah melihat Amira sesedih ini.
"Bu Amira, ijinkan saya yang bicara kalau memang tidak mampu. Saya tidak akan mengurangi atau menambahkan. Percayalah." Ijin Hamidah.
Amira menganguk pelan sambil terisak.
Anin tercekat, kebenaran yang baru diungkap sekarang membuatnya terdiam cukup lama.
"Jadi, om Harsa ayahnya Anin?" tanya Langit.
"Benar Nak Langit," jawab Hamidah.
"Bu Amira, meskipun Bu Amira sudah tidak mau mendengar tentang ayahnya Anin lagi bukan berarti Anin tidak boleh tahu keberadaan ayahnya. Asal Bu Amira tahu, bahwa ayahnya Anin telah lama meninggal."
__ADS_1
Lagi-lagi Amira terisak, keingintahuannya tentang suaminya harus diisi dengan derai air mata.
Anin menunduk, matanya terasa panas. Inginnya ia menangis tapi urung ia tahan, sosok ayah yang ingin ia kenal sejak dulu tidak akan pernah ia rasakan. Tak kan pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia bingung harus meratapinya atau tidak, karena selama ini ia meratapi kesedihannya ditinggalkan sosok ayah yang dirindunya seperti orang lain.
"Bu Amira dan Anin harus tahu jangan langsung berperasangka lain-lain. Hanya pak Adam yang berhak menjelaskan semuanya atas kejadian dua puluh lima tahun lalu, saya hanya tahu sebagai saksi bagaimana pak Harsa dulu sangat menyayangi Bu Amira," jelas Hamidah.
Menyayangi? Bukankah umi bilang kalau ayah kabur karena wanita lain.
"Ya, saya akan menanyakannya pada pak Adam, karena Anin juga harus tahu kebenarabnya." Amira tertunduk sedih, kenyataan apalagi yang akan dihadapinya kini. Setelah hidup tenang berpuluh-puluh tahun lalu harus terusik lagi akan berita suaminya.
Niatan Willy akan keseriusannya pada Anin harus tertunda dulu setelah kebenaran terungkap...
***
Bersambung...
Sabar readers, up dikit dulu lanjut sore..
Tinggalkan jejaknya.. 😘
__ADS_1