
Kanaya
Laila hampir tidak percaya, wanita yang menjadi menantunya kini di bawa tiga orang perawat Rumah Sakit Jiwa. Kanaya tidak berontak lagi setelah kedua tangannya dipakaikan baju orang sakit jiwa. Ya, Kanaya jadi salah satu pasien sakit jiwa mulai hari ini.
Juwita meraung-raung, meronta menahan puterinya agar tidak di bawa pergi.
"Tolong, jangan bawa Kanaya. Dia tidak gila, dia hanya butuh pendampimgan saja." Teriak Juwita menahan dua pegawai Rumah Sakit dan menariknya.
"Bu, sabarlah. Kanaya tidak gila, dia dimasukan ke Rumah Sakit Jiwa bukan karena gila. Dia hanya perlu ketenangan saja. Di sana dia akan didampingi dan di rawat dengan baik, semoga Kanaya bisa sembuh." Laila berusaha menenangkan besannya, wajar sikap Juwita seperti itu. Ibu mana yang akan tahan melihat puteri mereka dipakaikan baju khas Rumah Sakit Jiwa dan dibawa jauh dari keluarga.
"Kita bisa menjenguk Kanaya setiap saat, sabarlah. Saya juga sangat sedih." Laila memeluk Juwita penuh haru.
Alasan di bawanya Kanaya sebagai akibat nekatnya Kanaya mengakkhiri dirinya sendiri, aksi nekat Kanaya untung bisa digagalkan oleh Gufron yang saat itu akan melihat Kanaya di kamar. Puncaknya, pada malam hari Kanaya tiba-tiba melukai Fani dengan senjata tajam yang diambilnya di dapur, beruntung Fani bangun dan hanya lengannya saja yang terluka.
Teriakan Fani berhasil membangunkan seluruh penghuni rumah. Gufron memutuskan sebelum ada korban jatuh maka Kanaya harus di rawat di RSJ.
Tidak ada yang tahu pasti alasan Kanaya hampir melukai Fani, mereka berasumsi kalau Kanaya mengalami depresi usai wafatnya Faiz.
***
"Selamat empat bulan calon anaknya Papa, baik-baik kamu di dalam perut Mama ya. Makasih karena sudah tidak membuat Mama mual-mual lagi." Dikecupnya perut Maryam yang sudah tampak membuncit, celana, baju-baju yang biasa dipakainya sudah mulai tidak muat lagi.
"Makasih, Papa. Semoga dede bisa ketemu Papa nanti, ya." Maryam menirukan suara anak kecil seolah menimpali sapaan papanya.
"Rasanya gimana sekarang? Katanya kemarin sempat batuk, kita ke dokter atau gimana?" tanya Langit mengajukan pertanyaan tentang kondisi sang istri. Kemarin Maryam sempat batuk-batuk, tenggorokannya sakit. Dan dadanya terasa sesak.
"Nggak ah, Mas. Namanya obat dari dokter tetap saja ada kandungan kimianya. Biar nanti minta tolong sama bu Lela atau bu Marni bikinin air rebusan jahe di tambah gula aren. Aman buat jabang bayi jadi tidak perlu khawatir," jelas Maryam.
Khasiat jahe dikenal mengandung antibiotik yang bagus bila dikonsumsi apalagi semasa kehamilan Maryam saat ini. Sebagai calon ibu muda ia harus banyak melilah-milah mana yang baik dan mana yang kurang. Beruntung ada mertua yang masih menjunjung nilai tradisional tetap terjaga.
"Yakin?"
__ADS_1
"Yakin, Mas. Lagian aku mau nemenin Anin pilihin baju di butik, sekalian aku mau cari baju hamil juga. Baju-bajuku sudah pada mengecil, eh maksudnya badanku sudah mulai melebar." Maryam terkekeh, bisa juga dia bercanda.
Pipinya mulai sedikit chuby, tubuhnya tampak lebih berisi. Dan Langit menyukai itu, Maryam terlihat lebih seksi dengan menaikan berat badan seperti sekarang.
Sejak Maryam hampir terpeleset, Langit sangat siaga. Berhati-hati memilihkan barang apa saja yang akan dikenakan sang istri termasuk alas kaki. Sudah disiapkan sepatu flat bahan beludru warna navy dan yang terpenting anti slip, aman buat jalan ibu hamil. Tanpa sungkan Langit sendiri yang memasangkannya.
"Jangan berlebihan, Mas. Aku bisa sendiri," cegah Maryam menahan tangan Langit untuk tidak menyentuh kakinya.
"Aku hanya memastikan istriku baik-baik saja."
Maryam menghela nafasnya sejenak, sudah biasa ucapan Langit barusan jadi jargon suaminya itu.
"Aku akan mengantarmu, kamu bisa menghabiskan waktu dengan Anin dan aku bisa dengan Willy menunggu sambil ngopi, ya?"
"Okelah, kita berangkat sekarang."
Mulut Langit tidak berhenti untuk diam, sepanjang menuruni tangga ia terus saja berkomentar agar kamar mereka pindah ke bawah. Langit tidak mau Maryam kesusahan naik turun tangga.
"Mas, jangan bicara lagi. Kamu ini lebih cerewet dari pada aku." Maryam menekuk wajahnya.
Setibanya di mall, Maryam dan Langit menemui Anin yang sudah terlebih dahulu sampai di butik yang disebutkannya di chat. Dari kejauhan Anin dan Willy duduk bersebelahan, mereka asyik berbincang tidak ada lagi rasa gugup atau canggung dari keduanya.
"Nin, sudah lama menunggu?" Maryam menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
"Jalannya pelan, Maryam. Kamu itu bawa bayi di dalam sini, takut pecah nantinya." Keluh Anindya ngeri menunjuk perut buncit Maryam.
"Uh mentang-mentang sodaraan jadi sama lebaynya sekarang," ucap Maryam sambil menyebikkan bibirnya.
"Ya sudah, aku tunggu di caffe depan ya. Nanti kalau sudah telpon saja."
"Iya, kalian santai tunggu ya sana." Usir Maryam secara halus.
__ADS_1
Langit dan Willypun keluar menunggu keduanya di caffe yang ada di seberang butik.
Hebohnya Maryam memilih pakaiannya sendiri, model pakaian untuk ibu hamil sekarang modis-modis banyak modelnya. Tidak terpaku hanya model biasa saja atau model baby doll.
"Untuk maternity dreses ada di sebelah sini, banyak modelnya." Salah satu pegawai butik menunjukan tempat dipajangnya pakaian ibu hamil.
"Banyak sekali modelnya, cantik-cantik. Jadi mau semua, pilihkan yang tidak terbuka. Modelnya cantik dan warnanya cocok untuk kulit saya," pinta Maryam ramah.
Maryam juga memilihkan Anin pakaian-pakaian yang akan dikenakannya nanti di acara pengajian menuju pernikahannya dan juga pakaian-pakaian baru yang dibutuhkannya nanti.
Cukup lama mereka berdua berada di butik itu, keduanya asyik tidak terganggu sama sekali.
Maryam duduk sebentar, kakinya dipijit-pijit terasa pegal. Dibukanya sepatu flatnya, tampak kakinya memerah sedikit.
"Kamu kebanyakan berdiri, kita sudahi saja ya. Lagian sudah cukup banyak belanjanya. Kita duduk di caffe sambil santai," ucap Anin. Ia menghela Maryam keluar butik.
"Pak Langit, Pak Willy.. Bisa minta tolong bawakan belanjaan kita di butik, kaki Maryam pegal kelamaan berdiri." Pinta Anin. Sementara Maryam duduk di sebelah suaminya.
"Nin, ini bukan kantor!" Tegas Langit sekali lagi Sudah berulang kali ia mengingatkan Anin untuk memanggilnya 'kakak' atau 'mas' toh mereka bersaudara.
"Iya, maaf lupa." Anin tersenyum.
"Ya sudah, Will. Ambilkan belanjaannya bawa kesini." Titah Langit.
"Maaf, Pak. Ini bukan kantor," timpal Willy menyeringai.
"Oh jadi begitu? Oke, karena aku masih saudara Anindya jadi aku berhak melarang Anindya menikah denganmu!" Balas Langit tidak mau kalah. Keduanya seperti anak kecil saja balas membalas.
"Pak, jangan begitulah. Baik saya akan membawakan barang belanjaannya sekarang. Puas Lo!" ucap Willy sambil melengos pergi.
***
__ADS_1
Bersambung....
Boleh jujur gak, aku lagi macet ide nih.. Bingung. Yuk tinggalkan jejaknya.