
flashback on
Sava POV
Siapa yang terbaring itu. Apakah benar dia Emieer ku. Tidak, dia bukan Emieer ku. Aku masih berkomunikasi dengan nya beberapa jam lalu. Dia menyuruh ku untuk menunggu.
Tapi apa. Dia tidak datang. Dia sudah terlambat untuk menemani ku bersalin. Dia terlambat menyaksikan bagaimana aku berjuang sekuat tenaga melahirkan anak nya.
Kamu selalu merasa tidak tega jika aku menangis atau kesakitan. Tapi saat aku berjuang melahirkan anak mu, kamu malah tak ada bersama ku, kau tegaaa Emieer.
Aku tidak percaya ini.
Ini pasti hanya mimpi.
Rasa nya aku ingin sekali menghancurkan dinding kaca yang menjadi penghalang bagi ku untuk bisa lebih dekat dengan Emieer ku saat ini.
Selama ini tak pernah ada sekat sedikit pun bagi kami untuk bisa berada saling berdekatan. Bahkan sekat tidak di restui Papa saja aku lawan, aku hancurkan oleh ku sendiri, agar bisa bersama nya. Tapi sekarang aku hanya bisa pasrah di balik kaca ini. Aku kalah dengan dinding kaca ini, ketika aku ingin melihat dan menyentuh nya lebih dekat. Memangnya separah apa sakit nya. Separah apa luka nya, sampai sampai kini dia berbaring di sana dengan berbagai alat bantu yang menghiasi tubuh sempurna nya.
Ini pemandangan yang paling buruk dan tragis yang pernah aku saksikan.
Emieer, apa yang kau rasakan saat ini. Bagian mana yang sakit. Kau tau, melahirkan itu rasa nya sakit luar biasa. Tapi saat setelah anak kita sudah berhasil melihat dunia, rasa sakit nya itu tidak ada arti nya. Seketika rasa sakit itu hilang saat aku telah bisa menyentuh dan menimang nya.
Dan kau tau Emieer, aku ingin punya anak lagi dari mu. Kita bisa memiliki anak lebih dari satu. Jika sebelumnya aku hanya ingin punya satu anak dari mu, karena aku membayangkan melahirkan itu menyeramkan. Kini aku tidak berfikir seperti itu.
Ayo Emieer sayang. Kamu pasti bisa melewati ini, kau akan sembuh. Kita akan pulang, dan kembali ke rumah nyaman kita. Kita sudah tidak lagi hanya ber dua sekarang. Tapi, kita sekarang bertiga.
Ku usap air mata ku yang dari tadi jatuh bercucuran tiada bisa berhenti. Walau aku tidak meraung-raung saat air mata ini jatuh. Tapi aku merasakan rasa sakit, karena tidak tega melihat Emieer di rungan itu. Rasa nya aku ikut sekarat dan pedih menikam hati. Melihat nya seperti itu jantung ku juga seperti di tikam pisau lalu pisau itu terhunus kembali. Bisa bayangkan kan rasa nya, tercabik dan terkoyak bersamaan.
__ADS_1
"Kau pasti bisa melewati ini sayang ku, kau pasti bisa bertahan demi aku. Kau hebat selama ini untuk ku. Kau tau kan, aku sangat bergantung sekali dengan mu. Kau tak akan pernah tega meninggalkan aku sendiri Emieer, apa lagi sekarang anak kita sudah lahir." ucap ku akhirnya bermonolog. Sesaat tadi mulut ini hanya bisa diam membisu, hanya pikiran ku yang sibuk berargumen. "Walau kau tak bisa mendengar ku. Tapi aku yakin, kau bisa mengerti apa yang aku rasakan saat ini Emieer."
🍁🍁🍁🍁🍁
Saat ini aku sedang berada di ruangan sang Dokter yang menangani Emieer. Aku di minta untuk ke ruangan dokter tersebut. Kata nya, ada beberapa hal penting yang ingin di sampe kan pada ku.
"Kondisi nya saat ini kritis, dia terluka parah di bagian kelapa nya. Benturan yang keras mengakibatkan kerusakan pusat saraf di otak suami anda. Semisal dia bisa melewati masa kritis nya pun, jika dia telah sembuh. Pasien akan mengalami cacat seumur hidup."
Deg....
Mendengar itu, hati ku makin tersentak. Cacat seumur hidup.
Cacat seumur hidupnya pun tak apa. Aku akan iklas dan rela, asal Emieer ku tetap di sisi ku.
"Lakukan yang terbaik untuk suami ku Dokter. Berapapun biayanya, dan bagaimana dia nanti, aku tidak peduli. Yang penting saat ini adalah nyawa nya."
Tak lama kemudian, seorang perawatan dengan napas tersengal-sengal mendatangi sang Dokter yang baru saja bicara pada ku.
"Dokter, pasien yang berada di ruang perawatan intensif mengalami drop." tukas sang perawat panic. Mendengar itu, baik sang dokter dan juga aku pun langsung beranjak dari kursi dan menghambur menuju ruangan di mana Emieer saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati.
Aku berjalan mengekor mengikuti dokter dan perawat itu. Sang dokter nampak bertanya pada perawat dengan istilah istilah yang tak ku mengerti. Tapi sepajang kaki ini melangkah menuju MICU ( medical intensif care unit) di mana, di sana Emieer di rawat, rasa nya kaki ini terasa terseok-seok di gerakkan menuju tempat itu.
Dada ku bergemuruh teramat sangat takut dengan situasi ini. Hati ku terasa ngilu meratapi sesuatu yang sangat aku kawatirkan. Dan jantung ku rasa nya ingin meledak saja. Tapi aku harus melihat nya. Aku harus melihat Emeeir ku. Aku akan berteriak pada nya untuk bisa bertahan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah kini semua petugas mendis sudah berada di ruang MICU sang dokter sebagai kepala tim dengan keahliannya meriksa Emieer.
__ADS_1
"Denyut jantung nya kian melemah, Dok." ucap salah seorang perawat.
"Tambahkan oksigen nya." perintah sang dokter.
"Tekanan darah nya juga turun Dokter,"
Diri ku kini hanya bisa menjadi patung hidup mendengarkan percakapan antara dokter dan perawat itu. Banyak kata dan istilah yang tak tak ku pahami. Namun aku mengerti situasi apa yang mereka sedang diskusi kan.
"Emieer sayang, bertahan lah demi aku, ku mohon. Bertahanlah, kamu belum melihat anak kita bukan. Wajah nya persis seperti dirimu." ucap ku lirih.
"Dok, tekanan darah dan denyut jantung kian melemah Dok," kata salah seorang perawat. Tanpa menjawab perkataan perawat, sang Dokter itu kini melayangkan pandangannya kepada ku.
"Barang kali ada yang ingin anda sampaikan, kepada suami anda?" ucap nya. Aku tak mengerti ucapan sang Dokter itu. Apakah ini artinya, nyawa Emieer sudah tak bisa di selamat kan. Tidak.
"Anda seorang dokter, anda lebih tau.Tapi apakah hanya seperti itu saja kemampuan anda menangani pasien, kenapa anda sudah menyerah. Dia masih berjuang dokter, suami saya masih ingin hidup." ucap ku pada sang dokter pria paruh baya tersebut dengan berani. Aku tidak peduli jika aku sudah kehilangan etika.
"Ada beberapa kondisi yang tak akan anda bisa pahami, suami anda banyak kehilangan darah waktu itu, dan kini tekanan darah dan juga denyut jantung suami anda semakin lemah, dengan alat bantu itu kami sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Tanpa alat bantu ventilator itu suami anda mungkin," dokter itu tak melanjutkan kata kata nya. Aku diam membeku sambil masih menatap tajam ke arah sang dokter.
Kemudian aku pergi meninggalkan ruangan MICU tersebut dengan langkah hati hati, jika aku bisa lari aku akan lagi. Tapi luka jahitan usai persalinan membuat ku harus tetap menjaga gerak langkah ku. Dengan perasaan yang sudah campur aduk aku menuju ruangan ku. Dimana di sana putera ku berada.
"Sava, bagaimana keadaan Emieer?" tanya paman Faizal.
"Mereka seperti nya cepet menyerah paman, padahal aku yakin Emieer sedang berjuang saat ini untuk tetap hidup." ucap ku meluapkan emosi. Kemudian aku raih bayi ku dari gendongan Bibik Fatimah. Sambil memdekap bayi ku dengan erat, aku melangkahkan kaki ku menuju ruang MICU.
"Kita temui Papa ya sayang, Papa mu harus melihat mu dan tau jika kamu sudah lahir." ucap ku pada bayi mungil yang kini sedang terlelap itu. Kemudian tanpa memperdulikan apapun lagi, aku bergegas kembali ke ruang MICU. Di mana Emieer kini antara hidup dan mati.
__ADS_1