BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Pagi itu Sava tengah bersiap-siap untuk pergi piknik bersama tetangga nya Jessy. Ide itu sudah lama ia rencanakan bersama Jessy jauh jauh hari.


Mempunyai tetangga yang baik seperti Jessy adalah anugrah bagi Sava. Jessy lah yang kala itu dengan sigap dan cepet menolong Sava ketika ia akan melahirkan.


Jessy adalah seorang wanita single yang bekerja di sebuah stasiun Televisi swasta sebagai seorang Reporter. Jessy yang hidup mandiri dan jauh dari keluarga membuat ia kadang merasa sepi jika sudah berada di tempat kost.


Kini, Sava dan Jessy berteman baik. Bahkan saat Sava dalam keadaan darurat dan jika Jessy sedang tidak sibuk di kamar kost, Sava selalu minta bantuan pada gadis single dan periang itu.


Sava dengan cekatan dan semangat mempersiapkan semua kebutuhan puteranya yang akan di ajak pergi. Sava memang merasa sangat perlu untuk ber rifresing. Beberapa hari ini, menurut nya banyak hal yang membuat dia penat. Dari urusan pekerjaan, berhadapan dengan bos arogan, sampai dengan lelah fisik.


Dan tak lama pintu kamar kost nya di ketuk, dan itu pasti Jessy.


"Kau lama sekali Fa," keluh Jessy, begitu Sava membuka pintu kamar kostnya.


"Mempersiapkan keperluan si kecil itu tidak segampang mempersiapkan diri mu yang single itu jika mau pergi Onty." jawab Sava yang kemudian melanjutkan bersiap siap nya. Kemudian Jessy masuk ke dalam dan langsung menghampiri baby Zee di tempat tidur box nya.


"Hai Zeeyan, apa kabar hari ini. Makin tampan saja kamu." goda Jessy sambil melambaikan tangan nya menyapa baby Zee.


"Ia dong Onty, siapa dulu Papa Mama nya," seru Sava. Sava menyebut Jessy, Onty jika sedang berinteraksi dengan puteranya.


"Baiklah sekarang kita dah siap." ucap Sava.


Kemudian dua wanita yang berteman baik itu melangkah pergi meninggalkan kamar kost. Kala itu Jessy yang mengendong baby Zee. Sedangkan Sava menenteng beberapa tas dan juga barang barang yang akan mereka gunakan untuk berpiknik.


"Kau saja yang menyetir ya Fa," ucap Jessy, setelah mereka kini sudah sampe di dekat mobil Jessy.


"Baiklah, sudah lama juga aku tidak menyetir." Sava berucap, kemudian ia menaruh barang bawaannya ke ke bagasi belakang. Sedangkan Jessy sudah duduk di kursi penumpang depan dekat kursi kemudi sambil memangku baby Zee.


Tak lama kemudian Sava kini sudah duduk di kursi kemudi dan siap untuk menjalankan mobil. Dengan menarik napas pajang, Sava menyalakan mesin mobil itu.


"Jangan tegang Sava," ucap Jessy.


"Sudah setahun lebih aku tidak mengedarai mobil Jess."


Dan memang benar, sejak meninggalkan rumah besar Sava memang sudah tak lagi mengendarai mobil.


Karena selama hidup bersama Emieer, ia kemana mana selalu mengendarai motor.


"Ingat Sava, mobil ku hanyalah mobil kuno yang memiliki kecepatan terbatas, tidak seperti mobil mobil mu dulu yang mempunyai kecepatan super cepat." kilah Jessy yang sudah tau kisah hidup Sava.


"Bagi ku mobil kuno mu ini tak se kuno mesin nya Jess," tutur Sava yang sangat bersemangat dan senang bisa menyetir lagi.


Mobil kuno Jessy

__ADS_1



Dan Jessy pun tergelak mendengar ucapan Sava.


"Kau ini, bisa saja Mommy muda." jawab Jessy dan Sava pun juga ikut ter kekeh.


"Menjadi ibu itu menyenangkan." Sava berucap sambil menoleh ke arah baby Zee yang masih terlelap di pangkuan Jessy.


Hari Minggu pagi yang menyenangkan untuk dua wanita yang kini sedang mengendarai mobil kuno keluaran tahun 80 an itu.


Jessy si gadis single dan Sava ibu muda yang luar biasa.


Saat Sava tengah asik menyetir sambil berbincang ringan dengan Jessy, tiba tiba dengan tidak sengaja Sava menyeruduk seorang pengendara motor yang kala itu sedang berhenti di pemberhentian rambu lalulintas. Sava mengerem mendadak, manakala rambu lalulintas berubah berwarna merah.


Sava yang kurang konsentrasi akhirnya menyeruduk pengendara motor tersebut.


Hingga pengendara itu tersungkur ke samping.


"Oh Tuhan, tidak mungkin." ucap Sava kaget dan panic.


"Sava, kau menabrak nya." ucap Jessy.


Sava pun panic. Dan tak lama pengendara motor itu dengan langkah terseok menghampiri Sava.


"Kau, tepikan mobil mu di sana." ucap pria tersebut menunjukkan tempat yang lebih aman di depan sana untuk mengajak Sava berdiskusi.


"Dan, kau jangan coba-coba kabur." ucap lagi pria tersebut mengancam.


"Bagaimana ini Jess," Sava nampak panic.


"Jangan panic Sava, ikuti saja mau nya. Dia sepertinya terluka. Bagaimana pun kita salah." Jessy berucap menenangkan Sava.


Dan akhirnya Sava pun mengikuti saran Jessy.


Sava kini memakirkan mobil Jessy di lokasi yang sudah di arahkan sang pria tadi. Sambil mendorong motor nya, sang pria itu mengikuti Sava yang kini telah memakirkan mobil nya.


Sang pria tersebut kemudian kembali berjalan ke arah, di mana Sava masih duduk dengan gemetaran di kursi kemudi.


Kemudian pria tersebut mengetuk kembali jendela kaca mobil.


"Hai, apa kau tak punya etika. Ayo, keluar kamu." ucap lagi pria itu yang masih mengenakan helm nya. Dengan gugup akhirnya Sava pun keluar dari mobil.


"Maaf, maafkan aku. Aku tadi tidak sengaja."

__ADS_1


tukas Sava gugup.


"Tidak sengaja tapi kamu sudah menabrak ku, dan juga membuat motor ku rusak." pria itu berucap dengan nada kesal.


"Sekarang kamu harus ganti rugi, aku tidak mau tau," ucapnya dengan kesal.


Lalu pria tersebut membuka penutup kepalanya yang dari tadi masih ia kenakan.


Saat sang pria itu membuka helmnya, seketika itu juga Sava menatap sang pria tersebut dengan perasaan yang aneh.


Entah kenapa begitu kedua iris mata Sava menatap fokus pada wajah pria itu, ada perasaan aneh yang bergejolak di hati nya.


Perasaan yang hangat, perasaan yang membuat nya nervous. Perasaan yang membuat diri nya langsung gemetaran. Sava sendiri pun tidak tau kenapa itu bisa bereaksi pada diri nya. Jantung Sava berdetak lebih cepat, dan kini keringat dingin itu mulai mengucur dari dalam tubuhnya. Sava menatap pria asing itu tak berkedip.



"Hai, kau. Malah bengong." tukas pria tersebut sambil menggeleng kan kelapa.


"Oke, aku akan bertanggung jawab. Tapi bagaimana caranya aku bisa bertanggung jawab?" tanya Sava, setelah diri nya di buat deg deg kan dengan wajah pria itu, yang langsung mengingat diri nya pada seseorang yang telah pergi.


"Berikan nomor ponsel mu, nanti aku hubungi. Dan berikan aku identitas mu juga." jawab pria tersebut.


"Kalau nomor ponsel aku bisa berikan. Tapi untuk kartu identitas, maaf aku tak bisa memberikan nya." jawab Sava.


"Aku butuh jaminan agar kau tak lari dari tanggung jawab." kilah pria tersebut.


"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab." jawab Sava balik.


"Tapi aku tidak percaya. Sudah cepat berikan kartu identitas mu. Aku masih banyak urusan."


Akhirnya, mau tak mau Sava pun memberikan kartu identitas nya pada pria asing yang ia tabrak.


"Georgia Savanah Almeera Malik, nama yang pajang seperti kereta api." tukas pria tersebut membaca nama Sava yang tertera pada kartu identitas nya. Kemudian ia memasukkan kartu identitas Sava ke saku celananya.


"Jangan menaruh nya sembarangan, nanti kartu identitas ku bisa hilang. Aku tidak punya waktu untuk mengurusnya jika hilang." ucap Sava berpesan para pria tersebut yang menaruh kartu identitas nya sembarangan.


"Kau tenang saja, tidak akan hilang. Nanti aku akan hubungi kamu lagi jika jumlah kerugian ku sudah terperinci." tukas pria berwajah putih bersih dan tampan itu. Yang kemudian melegos dari hadapan Sava sambil memakai kembali helm nya.


"Hai, siapa nama mu?" tanya Sava ragu ragu.


"Pangil saja aku Sam, Sameer."


Welcome Sameer

__ADS_1



__ADS_2