
Zoya merasa berada di atas angin, pertemuannya yang tidak disengaja akan memberinya keuntungan. Ia lantas mendekatkan bibirnya di telinga Maryam dan membisikan sesuatu di sana.
"Arsy akan bersama dengan ayah kandungnya. Kamu tahu kan ayah kandungnya siapa?" Dirasa sudah selesai urusannya, Zoya kemudian mengajak Arsy pergi dari toko itu.
"Dahh Tante cantik, Om tampan." celoteh Arsy melambaikan tangan pada keduanya. Maryam sudah tidak bisa tersenyum, ia diam terpaku seribu bahasa memikirkan ucapan Zoya barusan.
Maryam tersenyum kecut pada akhirnya, meski hatinya sempat mencelos namun logika cepat menguasai akal pikirannya.
"Apa yang dia katakan?" tanya Langit bernada tidak senang.
"Dia bilang Arsy akan bersama ayah kandungnya, aku tahu yang dimaksudnya itu kamu Mas. Tapi aku tidak bodoh, ini dunia nyata mungkin mantanmu itu terlalu banyak nonton sinetron," Maryam yang kesal memilih mengunjungi sebuah butik ternama dan memilih beberapa pakaian untuknya dan juga Langit. Ia ingin tampil sebagai Nyonya Langit pada acara lamaran Aisya nanti malam. Begitu harusnya ia bersikap, cara rendahan Zoya barusan tak masuk di akalnya.
Logikanya Langit tidak akan mungkin tidak tahu dia punya keturunan dan kalaupun dia tahu Langit tidak akan sampai menelantarkannya, menyerahkannya pada Zoya meskipiun Zoya ibu kandungnya. Okelah itu semua tak masuk akal, Maryam tidak akan percaya Langit menyentuh Zoya, dia akan menjaga wanitanya dengan baik bukti nyatanya Langit tidak pernah berbuat kurang ajar selama belum menikah dengan Maryam.
"Harusnya aku memang senang ada orang yang mengejar-ngejarmu, Mas. Tapi kalau caranya seperti ini aku kesal sendiri jadinya ko ada ya yang merendahkan dirinya seperti itu demi mendapatkan apa yang dia mau." Maryam tak menggerutu, sedari tadi Langit hanya diam saja sebagai pendengar yang baik. Membiarkan Maryam menumpahkan semua kekesalannya agar hatinya tenang.
Cara Maryam memperbaiki kekesalannya cukup unik, sampai Langit tak henti dibuatnya tersenyum. sudah 3 pegawai butik yang membantu membawakan pakaiannya yang akan dibelinya dan Langit hanya menyuruh mereka mengikuti apa yang Maryam mau.
Maryam melirik jam di tangannya, sudah mau pukul 17.00. Ia langsung ke kasir membayar semua belanjaannya dan saat kasir menyebutkan nominalnya Maryam terkejut.
"Kenapa banyak sekali?"
Langit yang memperhatikan Maryam dari sofa hanya geleng-geleng kepala, baru kali ini istrinya sampai tidak sadar atas apa yang dilakukannya.
__ADS_1
"Ini semua belanjaan Ibu." ujar kasir menunjukan lebih dari 10 paper bag.
"Benarkah, astaga. Mas." Maryam mengedarkan pandangannya mencari Langit.
"Mas, dari tadi kamu duduk? Ini loh belanjaan aku ko banyak gini, aku gak sadar bisa ambil banyak. Aku simpan lagi sebagian,"
"Nggak usah. Buat apa, bayar saja semuanya. Dengan kartu yang aku kasih. Aku lihat kamu belum pernah menggunakannya sejak awal kita nikah." ujar Langit menunjukan ekspresi biasa-biasa saja.
Jujur Maryam tidak biasa berbelanja dengan nominal tiga dijit, ia selalu akan berhemat dan tidak berlebihan. Mungkin Langit sudah biasa menghabiskan dua atau tiga dijit hanya untuk harga sebuah sepatu saja.
Langit jadi geli sendiri Maryam begitu merasa sangat bersalah.
Usai membayar dengan kartu debit yang diberikan Langit khusus untuk kebutuhannya, ia segera pulang, beruntung Langit suami yang baik. Ia juga membawakan barang belanjaan sang istri.
"Mas, aku jadi nggak enak. Kamu lagi sakit malah bawain belanjaan segitu banyaknya, harus ngeluarin uang banyak lagi. Aku jadi nggak enak." tak mampu meminta maaf lagi, Maryam memilih diam.
"Mas, aku aja yang nyetir ya. Kamu kayanya butuh istirahat deh, kenapa tadi kamu sok-sok'an ngajakin aku keluar padahal kamu lagi gak sehat," tukas Maryam menatap Langit penuh rasa kekhawatiran.
"Kalau jalan sama kamu gak masalah, Sayang. Cuma sekarang kepalaku tambah berat aja yang lainnya oke ko,"
"Iya kamu sakit kepala itu namanya, sama-sama gejala demam dan flu. Kamu nanti malam mending istirahat saja gak usah turun ya,"
"Masa aku tidur sementara adikku lamaran, apa kata orang nanti."
__ADS_1
Maryam jadi sadar, Langit memang harus hadir. Mengenalkan dirinya sebagai menantu terhormat keluarga Herlambang.
Apa aku salah berpikiran seperti ini.
Malam yang digadang-gadang sebagai acara lamaran Ermina Aisya Herlambang terlihat mewah dan berkelas, rumah yang luas dijadikan tempat lamaran berlangsung. Aisya ingin tema floral dengan design ruangan bernuansa peach jadi pilihan lamarannya, sesuai permintaan Aisya dan Zayn.
Maryam mengancingkan batik yang akan dikenakan Langit malam ini. Sedangkan ia tampil begitu cantik dan elegan, pakaian yang dibelinya tadi tidak jadi ia pakai karena Ainun sudah memilihkan kebaya cantik sebagai pakaian seragam keluarga.
Ia mengapit lengan Langit menuruni anak tangga, semua mata tertuju pada kedua pasangan itu. Bagi yang tidak tahu status keduanya akan merasa sangat heran kenapa bisa Langit bersikap mesra dengan seorang wanita.
Pukul 18.30 keluarga besar Zayn Malik tiba tepat waktu, mereka langsung menempati tempat yang sudah disediakan. Tak luput dari penglihatan Langit dan Maryam adalah Arsy tapi tidak dengan ibunya. Menurut cerita Aisya, orang tua Arsy sudah bercerai. Tapi yang jadi pertanyaan apakah Aisya tahu siapa ibu kandung Arsy?
Senyum mengembang terukir jelas di wajah Aisya dan Zayn, keduanya sebenarnya tidak berpacaran karena status Zayn sebagai mahasiswa di Madinah. Keduanya tidak bertemu cukup lama sampai dimana Aisya selesai kuliah di London, tiba-tiba Zayn hadir kembali dengan niat ingin serius dengan Aisya.
Prosesi lamaran dibuka dengan kata sambutan oleh MC. MC menyampaikan ucapan selamat datang serta terima kasih atas kehadiran seluruh pihak dan mengkonfirmasi maksud dan tujuan kedatangan rombongan keluarga Pria ke rumah Wanita.
Sambutan itu dilakukan oleh perwakilan yang sudah ditunjuk sebelumnya dari keluarga Herlambang seraya mengutarakan maksud kedatangan yaitu untuk melamar sang mempelai wanita.
Dilanjutkan sambutan Perwakilan dari Keluarga Herlambang. Mereka juga menyambut dengan baik kedatangan Keluarga Malik.
Zayn yang tampak gagah dengan pakaian yang senada dengan Aisya, ia melakukan pembukaan terlebih dahulu, meminta izin kepada orang tuanya sendiri dan calon besannya yang tak lain kedua orang tua Aisya, dilanjutkan bertanya pada Aisya apakah mau menerima lamarannya.
Aisya yang sudah mempersiapkan diri dan berlatih di depan cermin selama tiga hari terakhir ini tidak membuang-buang waktu, ia dengan lantang menjawab 'ya' menerima lamaran dari Zayn.
__ADS_1
***
Bersambung ..