
Pagi ini Maryam dan Langit pergi ke dokter kandungan. Mengecek keadaan janin dalam kandungannya perdua minggu, Langit lebih selektif menjaga calon anaknya agar sehat dan lahir dengan selamat.
Dokter hanya menyarankan agar Maryam lebih banyak memakan-makanan bergizi dan memperbanyak istirahat, tidak boleh terlalu stress atau capek.
"Dengarkan kata dokter, aku tidak mau kamu kenapa-napa dan calon anak kita." Langit menatap wajah istrinya sangat serius.
"Iya, aku mendengarkan." Maryam tak ingin lebih cerewet mendengar suaminya bicara.
Selesai check up kandungan, Maryam meminta Langit mengantarnya terlebih dahulu berbelanja. Ia ingin makan steak buatannya sendiri di rumah, hanya membeli beberapa bahan yang sudah habis. Sebelum berangkat Maryam lebih dulu memeriksa persediaan makanan di kulkas.
Sesampainya di mall, Maryam langsung meminta suaminya cepat turun dan mengantarnya ke supermarket. Hanya membeli yang ia butuhkan tidak mampir kemana-mana lagi.
"Mau belanja apa lagi?" tanya Langit.
"Sudah, hanya ini saja. Aku ingin cepat sampai rumah dan memasak semua ini." Ditunjuknya barang belanjaan di dalam troly.
Maryam membuka dompetnya membayar belanjaan.
Mereka berdua berjalan ke arah luar mall, melewati baby shop yang memanjakan mata Maryam. Ada sepasang sepatu rajut warna merah menggantung sangat menarik hati Maryam untuk melihat. Ia membelokkan kakinya ke dalam baby shop tanpa bicara dulu pada suaminya.
Langit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat kelakuan istrinya kali ini. Dua tangannya menenteng belanjaan sedikit berat kemudian menyusul Maryam ke dalam.
"Kamu mau beli itu?" tanya Langit melihat Maryam sepertinya tertarik ingin memilikinya.
"Iya Mas, ini lucu banget. Tapi katanya nggak boleh sebelum usia kehamilannya 7 bulan, pamali kata orang tua zaman dulu takut anaknya kenapa-napa. Amit-amit deh, Mas." Maryam begidig sendiri menarik kembali tangan suaminya keluar.
"Jangan bicara begitu lagi, aku tidak mau anak dalam kandunganmu kenapa-napa." Langit bicara dengan nada tidak sukanya, tepatnya lebih karena khawatir.
"Kan kata orang tua zaman dulu, Mas. Memangnya siapa juga yang mau." Maryam balik memarahi Langit, siapa suruh emosinya dipancing-pancing.
"Ya sudah, jangan marah-marah. Ayo kita pulang."
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Maryam lekas menyiapkan bahan-bahannya sendiri. Daging sapi dan semua bahan pelengkapnya.
"Mama kemana Bu Lela?" tanya Langit mengetahui rumah dalam keadaan sepi sepulangnya ia dari mall.
"Nyonya sama Tuan sedang mengunjungi non Aisya, katanya non Aisya tidak jadi ikut ke Madinah karena tidak enak badan."
"Ck, Aisya hanya karena tidak enak badan sampai tidak ikut. Manja dia itu," timpal Langit.
"Mungkin Aisya hamil," sahut Maryam.
"Hamil? Ko cepet banget, mereka kan baru menikah."
"Ini sudah tiga minggu mereka menikah, Mas. Siapa tahu memang itu gejalanya. Aku juga ngerasain kaya gitu," ucap Maryam.
"Mungkin kalau seperti itu ceritanya." Langit menghampiri istrinya yang sedang berkutat. Skill memasak Maryam tidak perlu diragukan lagi, sebelum menikah Maryam hobi masak hanya belajar dari video dari internet padahal.
"Mas, jangan diam di belakang. Menghalangi aku bergerak saja," keluh Maryam.
Maryam tidak menggubris lagi, ia melangkahkan kakinya mengambil teflon di dalam lemari bawah. Tiba-tiba kakinya terpeleset karena lantai licin.
"Aaaahhhh."
Maryam berteriak, secepatnya Langit menahan tubuh Maryam agar tidak jatuh. Beruntung tangan besar Langit bisa menangkup tubuh istrinya dengan cepat.
Maryam mendadak lemas, rasanya ia tidak sanggup untuk berdiri.
"Aku akan mendudukanmu." Diangkatnya tubuh Maryam mendudukkan ke atas kursi meja makan. Bu Lela segera memberikan air minum.
Mendengar teriakan dari arah dapur, bu Marni lari tergopoh-gopoh.
"Ada apa? Loh Non kenapa?" tanya bu Marni khawatir.
__ADS_1
"Hampir kepeleset, Bu. Tidak apa-apa, ko." Maryam masih menyesuaikan dirinya.
Diperiksanya lantai tempat Maryam berdiri tadi, Langit mengusap lantai yang tampak mengkilat.
"Ini minyak? Bu Lela, ko ini bekas minyak tidak sampai bersih pantas Maryam hampir terpeleset.
Bu Lela dan bu Marni ikut memeriksanya.
"Tapi tidak ada minyak yang tumpah ko, Den. Minyak dari mana ya?" Dua asisten rumah tangga itu saling bertatapan karena heran. Selama mereka berdua bekerja tidak pernah ceroboh. Apalagi keadaan Maryam yang sedang hamil, Ainun mewanti-wanti jangan sampai lantai ada yang licin.
"Mas, itu tadi aku nggak sengaja tumpahin minyak sedikit sudah aku lap tapi kayaknya masih belum bersih." Ungkap istrinya.
"Kamu ko bisa ceroboh sih, kamu itu harusnya hati-hati gimana kalau sampai jatuh!" Suara Langit meninggi satu oktaf dari biasanya.
Maryam diam tahu kalau Langit marah dan kesal padanya.
Langit mengusap wajahnya kasar, ia juga salah sedikit membentak Maryam barusan.
"Maaf, bukan maksudku membentakmu."
"Iya, Mas. Maaf karena aku ceroboh," ucap Maryam menyesal.
"Kalau begitu kamu duduk saja, biarkan Bu Lela yang meneruskannya. Bu Lela, tolong lanjutin buat steaknya ya." Perintah Langit.
"Baik, Den." Bu Lela segera mengambil alih masakan Maryam yang tertunda. Bu Lela juga bisa membuat steak, hasil belajarnya dari Ainun. Kebetulan Aisya sangat menyukai makanan itu, alhasil bu Lela didaulat harus menguasainya.
***
Bersambung...
Kemarin ada yang nanya, tenang Kanaya tidak akan bisa menganggu rumah tangga Maryam dan Langit ko. Percayakan pada author. Yuk tinggalkan jejaknya...
__ADS_1