BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Diri ku ,diri mu (Kita)


__ADS_3

flashback on


Sava POV


Ada apa dengan diri ku.


Kenapa aku mudah sekali tersinggung dan marah marah. Aku seolah kesulitan untuk mengontrol diri ku sendiri.


Saat aku tadi berkata bernada tinggi pada Emieer,aku sangat merasa bersalah. Istri macam apa aku,sudah berani membentak suami. Padahal Emieer selalu bersikap sabar dan lembut pada ku.


Melihat nya tadi meninggal kan kamar dengan membanting pintu,sungguh membuat aku merasa takut, sangat takut.


Seperti nya akhir akhir ini, aku merasakan emosi yang tidak stabil. Bahkan aku kadang merasa kesal dengan hal hal sepele.


Dan sejujurnya, aku masih kalut dengan hasil tes pack tadi pagi.


Apa ia aku hamil ?


Aku bukanya tidak suka memiliki bayi. Aku hanya belum siap saat ini.Tapi apa yang harus aku lakukan,aku sudah terlanjur positif.


Aku harus apa .....?


Aku harus bagaimana ?


Apa nanti aku bisa merawat bayi nya ?


Memikirkan itu membuat ku takut. Jika aku masih di rumah besar, mungkin aku tidak perlu sepanik ini. Ada Mama yang akan selalu mendampingi.


Tapi bagaimana sekarang,aku belum ada pengalaman tentang merawat bayi. Bahkan berinteraksi dengan bayi pun aku jarang,dan hampir tidak pernah. Bagaimana diri ku bisa menjadi seorang ibu.


Tapi aku bisa apa sekarang.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah kepergian Emieer dari pagi tadi,hingga kini sudah jam 2 siang. Emieer belum juga kembali. Apa dia marah besar pada ku. Aku memang pantas di marahi. Pria sebaik dia sudah ku abaikan.


Maafkan aku Emieer sayang.


Dengan perasaan gelisah dan hati tidak tenang aku menunggu kembalinya Emieer ke kamar kost. Bahkan sekarang sudah jam 2 siang, Emieer belum ada tanda tanda kembali.


Sudah tak tahan lagi menahan rasa takut dan kehilangan yang mendera ku untuk Emieer. Akhirnya aku kembali ke ranjang,dan meringkuk di sana.

__ADS_1


Ku biarkan air mata yang tak di undang ini mengalir deras. Entah kenapa tiba tiba suasana hati ku menjadi melow.


Sebuah perasaan takut kehilangan bergelayut di ruang hati dan jiwa. Sebuah perasaan takut di tingalkan, takut Emieer marah menyerang ku.


Dan sekarang aku dalam dilema besar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah beberapa menit,kudengar suara pintu terbuka. Tubuh ku spontan tergerak,dan pandangan ku terarah pada pintu. Dimana Emieer sudah berdiri di sana. Menatap ku dengan pandangan tajam.


Tak kuasa lagi menahan rasa takut yang sedari tadi menyerang ku karna takut Emieer marah. Aku beranjak dari tempat tidur, kemudian menghambur ke arah nya.


"Emieer,maaf kan aku."


"Aku salah, aku bersalah ...... please maaf kan aku Emieer."


Air mata yang tak bisa ku bendung kini terus mengalir deras membanjiri kedua pipiku. Ku peluk tubuh Emieer, ku tempelkan wajah ku ke dada nya yang bidang. Bahkan aku bisa mendengar detak jantung Emieer di dalam sana.


Kemudian aku merasakan sebuah sentuhan tangan membelai rambut ku.


Kini kedua tangan Emieer yang kokoh mengunci tubuh ku dalam pelukannya.


Sesaat kami hanya saling peluk, tanpa ada kata dari kami yang terucap.


Kemudian dengan wajah sembab, aku mendongakkan wajah ku untuk menatap wajah Emieer.


"Maafkan aku." ucap ku lagi penuh sesal pada nya.


Emieer tanpak tersenyum, kemudian ke dua tangan nya terangkat meraih wajah ku,dan mengusap sisa sisa air mata yang masih membasahi kedua pipiku.


"Kamu tau di mana kesalahan mu." tanya nya. Aku pun mengangguk penuh sesal.


"Tadi aku memang marah pada mu Sava, tadi aku juga kesal pada mu."


"Jika kau tau dimana salah mu, dimana letak kesalahan mu tadi?" tanya Emieer dengan nada lembut dan tersenyum teduh.


"Karna aku bicara dengan nada tinggi." jawab ku, masih melingkupi perut nya dengan kuncian kedua tangan ku yang posesif.


"Ada lagi." tanya Emieer menelisik ke arah mata ku.


"Aku keras kepala." jawab ku yang juga menatap ke arah mata nya yang selalu membuat ku bergetar. Mata itu ...mata penuh cinta dambaan dan sayang.

__ADS_1


"Sava, karna aku adalah suami mu. Aku harus bisa membimbing mu. Kau dan aku sama sama sebatang kara. Aku dan diri mu sekarang ini adalah dua orang yang senasib. Kita tidak punya saoudara, kita sudah tidak punya orang tua. Kita adalah dua orang yang saling memeliki dan membutuhkan. Tapi jika kau salah, maka aku harus tegas pada mu. Dan apa yang kau lakukan tadi itu salah, aku tidak suka kau bersikap seperti itu sayang." ucap Emieer dengan nada halus memenangkan.


Apa yang Emieer ungkapkan adalah suatu kenyataan. Aku mendengar dengan seksama apa yang di katakan nya.


"Aku tau, walau kau masih 19 tahun dan masih muda, sebenarnya kau punya pola pikir yang dewasa sayang." Emieer berbicara sambil, membenarkan beberapa helai rambut ku yang menutupi wajah dan merapikannya ke belakang telinga ku.


"Aku sangat mencintai mu, menyayangimu, aku tidak hanya di tuntut menjadi suami untuk mu. Tapi aku harus bisa menjadi ayah dan ibu untuk bagi mu. Dan sekarang berjanji lah pada ku untuk tidak memendam apapun. Apa yang menjadi ke risauan mu, katakan pada ku. Jangan menyimpan tekanan apapun. Jangan menyimpan beban, berbagilah pada ku tetang apa saja. Jangan kau rasakan dan pendam sendiri."


Lagi lagi aku hanya bisa mengangguk dan membenarkan semua penuturan suami ku ini.


" Maaf kan aku Emieer."


"Aku memaafkan mu sayang,cinta ku."


Emieer kemudian mencium kening ku dengan sayang. Lalu aku kembali merangsek ke tubuh nya dan memeluk nya dengan posesif.


Dan aku sungguh mencintai pria ini.


Aku tidak bisa hidup tanpa pria yg ku peluk dengan erat ini. Berada dalam dekapannya sangat menentramkan dan menenangkan.


"Sayang,nanti kita periksa kan kandungan mu yaa." ucap Emieer sejurus kemudian.


Lalu aku mendongak kan wajah ku ke arah wajah Emieer. Emieer memang dari awal tau aku positif sudah sangat antusias. Dia terlihat lebih siap dari pada aku. Dia sudah siap menjadi seorang ayah.


" Ia." jawab ku tulus dan tersenyum pada nya.


Emieer tampak senang,wajah nya berbinar-binar. Kemudian dia mendaratkan sebuah ciuman ke arah bibir ku. Ciuman yang lembut dan dalam. Sejenak kami saling menikmati tautan bibir kami dengan penuh saling terlena.


Obat ketenangan yang mujarab,setelah beberapa jam tadi, ketegangan melanda kami.


Ciuman manis, hangat, dan bergairah. Emieer selalu ahli dalam mencair kan ketegangan.Dia selalu benar dalam segala hal.


Pria lembut, hangat dan juga sempurna ini adalah milik ku. Aku sangat beruntung memiliki nya.


Emieer Sadiq, aku mencintaimu degan seluruh hati jiwa dan raga ku.


Alhamdulillah bab 23


🙏🤗🥰💐


happy weekend all

__ADS_1


__ADS_2