
Setelah proses persalinan dan IMD yang tidak lebih dari 10 menit, Baby Gala dibawa ke ruang bayi untuk dibersihkan terlebih dahulu. Sementara Maryam merasakan kantuk luar biasa akibat kelelahan usai perjuangannya tadi. Dokter menyarankan untuk ibu bayi beristirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi hari tanpa malam. Sebagai ibu muda dan pertama kali pasti Maryam akan merasa kesulitan merasakan jam tidurnya akan terganggu karena tangisan bayinya. Dan itu butuh penyesuaian karena biasanya ibu bayi akan mengalami baby blus.
"Sayang, terima kasih sudah melahirkan putera setampan Galaksi. Dia bagiku sebagai penyempurna." Dikecupnya kening Maryam berkali-kali sebagai tanda sayangnya.
"Dia tampan dan lucu ya, Mas?"
"Iya, menggemaskan. Kamu dengar pas pertama dia lahir tangisnya sangat kencang. Kata mama dia mirip aku banget," ucap Langit sangat senang. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Dia mirip kamu banget, katanya kalau anak kita mirip salah satu orang tuanya tandanya salah satunya sangat mencintai pasangannya itu. Contohnya kamu, kamu cinta banget berarti sama aku Mas." Bibir Maryam melengkung menunggu balasan dari Langit.
"Itu fakta, rasa cintaku lebih besar dari rasa cinta kamu sama aku. Tidak usah ditanyakan lagi," kata Langit.
"Iya aku percaya. Mas, aku haus tolong ambilkan minum dong."
__ADS_1
Tangan Langit meraih gelas yang berisi air mineral. Langit membantu mendekatkan sedotan ke mulut Maryam.
"Aku jadi pengen bikin lagi adiknya Galaksi, pasti rumah kita ramai ya." Tanpa Langit sadar, Maryam sudah memelototkan matanya. Belum sehari ia lahiran, suaminya sudah minta dibuatkan adik untuk Galaksi. "Nggak jadi, Sayang. Soalnya aku tidak tega melihat kamu kesakitan seperti tadi. Aku jadi tahu bagaimana pengorbanan seorang ibu itu melahirkan anaknya. Meskipun sudah jadi kodratnya." Langit terbayang lagi suasana di ruang persalinan saat Maryam kontraksi sampai melahirkan. Takjub sekaligus tegang.
Takjub karena ada nyawa yang keluar dan menangis, dan merupakan darah dagingnya sendiri.
"Mas, perutku rasanya masih mulas. Kenapa ya? Apa ini wajar?"
"Sebentar, aku tanyain dulu ya sama dokternya." Langit tampil sesiaga mungkin membantu sang istri, tidak sedikitpun ia beranjak meninggalkan Maryam sendiri. Meskipun tubuhnya sudah lelah dan ingin beristirahat.
"Ibu Maryam merasakan mulas? Kalau iya itu karena efek obat ya, Bu. Agar lancar proses keluar darahnya tapi nanti juga hilang ko. Setelah itu darah akan kembali keluar dalam jumlah normal. Ibu tidak perlu khawatit," terangnya.
Maryam mengangguk lemah, matanya sudah benar-benar berat ingin istirahat. Langitpun sama membiarkan dirinya tertidur di kursi samping istrinya.
__ADS_1
Suara azan subuh membangunkan dirinya, ia lantas ke kamar mandi lalu ke mushola yang masih berada di kawasan Rumah Sakit.
Papa dan mamanya Langit masih belum keluar dari kamar khusus keluarga. Di Medika memang di desain ada kamar khusus yang diperuntukan bagi tamu VVIP. Apalagi Langit sebagai pemiliknya bebas memakai ruangan manapun semaunya.
Sekembalinya dari mushola, istrinya masih tertidur pulas.
Pagi pukul 07.00, Baby Gala sudah diperbolehkan berada bersama ibu. Setelah selesai dimandikan juga, aroma khas bayi menguar tercium segar. Tubuh kecilnya dibungkus kain karakter berwarna biru muda.
Baru saja ditidurkan di box bayi, Baby Gala kembali menangis kencang minta menyusu. Kepalanya digerakan ke kanan dan ke kiri mencari sumber tempat yang menyediakan makanan untuknya.
"Ya ampun, Sayang. Kamu menggemaskan sekali mirip Papa kamu." Maryam tak henti-hentinya bersyukur mendapatkan anugerah terindah dalam hidupnya itu.
Bersambung...
__ADS_1